Perut yang Lapar di Antara Lantunan Allahu Akbar
Usianya sudah semakin sepuh. Sudah 67 tahun. Namun, tangan yang sudah mulai ringkih itu masih lincah. Kesepuluh jemarinya seperti menari. Menganyam lembaran lembaran bilah bambu yang sudah dipotong tipis tipis itu. Menjadikannya sebuah besek.
Hanya pekerjaan itu yang dia bisa kerjakan. Dan, hanya dari itulah, dia mendapatkan uang. Untuk menyambung hidup.
Sebelumnya, dia masih bisa mendapatkan hasil dari pekerjaan lain. Dia masih bisa membantu pergi ke sawah. Mengolah lahan garapan padi milik tetangganya.
Suaminya meninggal 8 tahun yang lalu. Sejak itulah garapan sawahnya diserahkan ke pemiliknya. Tenaganya tak cukup kuat untuk mengolahnya sendiri.
Kini, dia tinggal berdua bersama anaknya. Perempuan, umur 35 tahun. Namun, perempuan yang sudah mulai sepuh itu tidak bisa berharap banyak dengan putri tunggalnya itu. Putrinya ditakdirkan dalam kondisi yang kurang sempurna.
Keduanya sering pergi ke warung sembako kami. Sekedar untuk mencari bahan makanan. Untuk sekedar bertahan hidup.
"Kula nyuwun riyin njih Bu. Menawi beseke sampun pajeng, mangkih kula saur", ujarnya kepada istri saya, suatu ketika.
Suatu saat saya pernah sampaikan kepada istri saya.
"Ma, Lik Sarwiji itu kalau ambil sembako ke sini mbok ya dikasih keringanan saja. Kasihan dia", kata saya.
"Ya Pa. Terkadang tak kasih keringanan kok. Tapi, aku salut sama Lik Sarwiji itu. Dia selalu rutin untuk angsur kekurangan pembeliannya. Gak pernah telat", balas istri sayaketika itu.a.
Waktupun berlalu,
Malam itu adalah malam penghujung Ramadhan tahun ini.
Seperti tahun tahun lalu, selaku relawan LazisMu, saya bertugas di kantor LazisMu Minggir. Menjemput dan menerima zakat, infak, shodaqoh dan zakat fitrah dari jamaah.Untuk kemudian, s Sekaligus mendistribusikannya ke pihak yang berhak menerimanya.
Selepas Isya, sayapun sengaja pamit kepada rekan rekan relawan.
"Saya tak ngurusi omah dulu ya. Anak anak sudah dari pagi saya tinggal. Nanti kalau sekiranya sudah terkondisi, insha Allah, saya ke sini lagi", pamit saya kepada teman teman.
Maka, selepas Isya, sayapun segera pamit. Dengan motor yang saya pasangi kronjong di belakangnya, sayapun meluncur pulang. Di keremangan jalan desa yang membelah bulak panjang itu sayup sayup terdengar takbir berkumandang.
Tiba tiba, dalam kesunyian dan kesendirian itu saya teringat dengan Sang Bidadari.
"Yaa Allah, seharusnya dia membersamai kami malam ini. Seperti malam malam takbir sebelumnya, di tahun tahun yang lalu", batin saya.
"Yaa Allah, ampunilah dia. Berilah tempat terbaik di sisiMu", doa lirih itu terucap, di kesunyian malam itu.
Sejurus kemudian, sayapun sampai di rumah.
Sayapun menghampiri anak anak.
"Assalamualaikum anak anakku. Kalian sudah makan ?", tanya saya.
"Wa alaikum salam. Aman Pa !", jawab Si Sulung.
Saya memang sudah merencanakan sesuatu. Maka, saya segera mengajak Si Sulung.
"Mas Fadhli, ayo ikut Papa !".
"Ke mana Pa ?", tanyanya.
"Ngantar zakat fitrah", ujar saya singkat.
"Lho kan zakat sudah diserahkan tadi pagi ke masjid ?", tanya Si Bungsu.
"Ya betul. Tapi yang separoh lagi kita akan serahkan langsung ke seseorang", singkat saya.
Sebelum pulang dari Kantor LazisMu tadi, saya memang sengaja minta tambahan beras zajat fitrah dari LasisMu. Rencananya akan saya berikan kepada seseorang itu.
Maka, sambil membawa 2 bungkus beras zajat fitrah, kamipun melangkah pergi. Membawanya menuju ke rumah seseorang : Lik Sarwiji.
Hanya beberapa langkah, kamipun sampai. Saya mengetuk rumah yang pintunya tertutup itu. Suara langkah kaki yang setengah terseret, terdengar dari dari dalam. Seorang perempuan tua membukakan pintu : Lik Sarwiji.
"Oh Mas Dwi kalih Dik Fadhli, mangga pinarak. Nyuwun sewu niki griyane pating slengkrah", kata Lik Sarwiji.
Sepintas, saya segera menyapu pandang ke setiap sudut ruangan rumah mungil itu.
Sepasang meja dan kursi dari bambu tertata di sebelah Selatan ruangan. Mepet di dinding tembok sebelah Selatan. Di ujung tembok 4 meter di seberang sana, nampak telivisi masih menyala. Di dekat ujung sebelah kanan kursi ada setumpuk besek setengah jadi. Di sebelahnya lagi, ada setumpuk bilah tipis bambu yang belum dianyam.
Rupanya, di kursi inilah setiap hari dan setiap saat, sepasang ibu dan anak ini menghabiskan waktunya. Menganyam besek.
Saya mencoba mengorek keterangan darinya.
Setiap 2 pekan, ibu dan anak itu bisa menghasilkan 2 atau 3 kodi besek. Dari hasil menjual besek ini, mereka akan mendapatkan 90 ribu sampai 100 ribu per 2 pekan.
Untuk mendapatkan 2 - 3 kodi besek itu, dia harus membeli bambu 2 lonjor.
"Lajeng, Njenengan angsal bambu niku saking pundi Lik ?", tanya saya.
"Nggih tumbas Mas. Kula pesen, lajeng mangkih didugeni".
"Lha ngoten nien 2 lonjobambu niku, regine pinten u Lik ?", tanya saya.
"Kalih dasa ewu Mas !", ujarnya singkat.
Penghasilan mereka dalam 2 pekan cuma 100 ribu. Dipotong harga bambu 20 ribu. Sisa 80 ribu. Jadi, dalam satu bulan mereka mendapat 160 ribu.
"Yaa Allah", saya berkata lirih.
"Ternyata, masih ada yang seperti ini".
Maka, saya segera memberi isyarat kepada Fadhli. Iapun tanggap. Bungkusan itupun segera diserahkannya kepada saya.
"Lik Sarwiji, niki kula mbeta beras zakat fitrah saking keluarga kula. Mboten kathah. Kula aturi nampi nggih Lik. Mugi mugi saget manfaat kagem Lik Sarwiji sak keluarga", kata saya.
Dia menerima bungkusan itu. Saya melihat matanya berkaca kaca. Tangannya gemetar.
"Matur nuwun sanget estu nggih Mas Dwi kalih Dik Fadhli. Niki kula tampi. Mugi mugi Gusti Allah tansah maringi rejeki ingkang kathah dumateng Panjenengan sak keluarga"
"Mugi mugi Panjenengan .......".
Dia tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Dia terisak lirih.
"Nggih sampun, Lik Sarwiji. Matur nuwun sanget awit donganipun nggih", hibur saya.
Sejurus kemudian, kamipun pamit. Meninggalkan rumah mungil itu.
Kami melangkah menyusuri jalan di sebelah Barat dusun itu.
Gema takbir bersahut sahutan.
"Allahu Akbar. Allahu Akbar."
"Laa illa ha illallahu. Allahu Akbar".
"Allahu Akbar. Wa lillahilhamd".
Sebait doa, lirih saya lantunkan :
"Puji syukur hanya kepadaMu, yaa Allah. Ternyata, kami masih punya kelebihan dibanding mereka berdua".
"Nikmat Tuhan mana lagi yang Aku dustakan ?".
(*)
Di rumah Ibu.
Klaten, 1 April 2025.
Selepas Maghrib.
Uwik DS.
What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow