Irfani: Menghidupkan Hati dan Menghadirkan Ihsan dalam Gerakan Muhammadiyah

Irfani: Menghidupkan Hati dan Menghadirkan Ihsan dalam Gerakan Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Yayan Suryana* 

Dibandingkan bayani dan burhani, istilah irfani mungkin terdengar lebih asing bagi sebagian warga Muhammadiyah. Bahkan, ketika pendekatan ini mulai dirumuskan dalam Manhaj Tarjih dan Tajdid, muncul kekhawatiran bahwa irfani akan membawa Muhammadiyah terlalu dekat dengan praktik tasawuf atau tradisi spiritual yang tidak semuanya sejalan dengan semangat tajdid. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami, mengingat Muhammadiyah sejak awal memiliki perhatian kuat terhadap pemurnian akidah dan ibadah dari praktik-praktik yang dianggap tidak memiliki dasar yang kuat.

Namun, jika irfani dipahami secara proporsional, sesungguhnya ia bukan sesuatu yang asing bagi Muhammadiyah. Irfani berbicara tentang hati, penghayatan, kepekaan batin, kesadaran spiritual, empati, keikhlasan, zuhud, dan wara’. Semua itu merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Dalam konteks Muhammadiyah, irfani tidak harus dipahami sebagai pengalaman mistik atau pencarian pengetahuan melalui kasyf dan pengalaman spiritual yang sulit diverifikasi. Irfani dapat ditempatkan sebagai dimensi penghayatan dan pengamalan nilai agama, sehingga apa yang diyakini dan diketahui benar-benar membentuk sikap dan perilaku.

Di sinilah konsep ihsan menjadi sangat penting. Ihsan memberikan bahasa yang lebih akrab dan lebih kokoh secara normatif untuk menjelaskan dimensi irfani. Dalam hadis Jibril, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang ihsan, beliau menjawab: 

أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Artinya: "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu."

Ihsan dengan demikian bukan sekadar berbuat baik. Ia adalah kesadaran batin tentang kehadiran dan pengawasan Allah yang membuat seseorang berusaha melakukan segala sesuatu dengan kualitas terbaik. Orang yang memiliki ihsan tidak hanya bertanya, "Apakah yang saya lakukan benar?", tetapi juga "Apakah saya melakukannya dengan tulus, baik, dan sungguh-sungguh karena Allah?"

Dalam kehidupan beragama, manusia memang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Seseorang bisa hafal banyak ayat, memahami banyak hadis, bahkan menguasai berbagai kitab, tetapi belum tentu memiliki hati yang lembut. Seseorang bisa sangat cerdas secara akademik, tetapi belum tentu memiliki empati terhadap penderitaan orang lain.

Di sinilah irfani dan ihsan bertemu. Bayani memberikan pengetahuan tentang apa yang benar, burhani membantu memahami mengapa dan bagaimana sesuatu dilakukan, sedangkan irfani-ihsan memastikan kebenaran itu meresap ke dalam hati dan melahirkan akhlak. Al-Qur’an bahkan mengingatkan tentang manusia yang memiliki hati tetapi tidak menggunakannya untuk memahami tanda-tanda Allah.

Nabi Muhammad ﷺ juga menjelaskan bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Yang dimaksud adalah hati. Karena itu, agama bukan hanya soal benar dalam pikiran, tetapi juga baik dalam hati dan perilaku.

Muhammadiyah sebenarnya memiliki banyak contoh praktik irfani-ihsan, meskipun selama ini tidak selalu disebut dengan istilah tersebut. Gerakan pendidikan, santunan anak yatim, pelayanan kesehatan, penanggulangan bencana, pemberdayaan kaum miskin, dan berbagai pelayanan sosial merupakan bentuk nyata dari kepedulian kepada sesama.

Ketika relawan Muhammadiyah turun membantu korban gempa tanpa terlebih dahulu bertanya apa agama, suku, atau kelompok orang yang ditolong, di sana terdapat dimensi ihsan. Ketika tenaga kesehatan Muhammadiyah melayani pasien dengan sabar dan penuh penghormatan, bukan sekadar karena tuntutan profesi tetapi karena melihat pelayanan kepada manusia sebagai bagian dari ibadah, di sana irfani menemukan bentuk praksisnya. Ihsan membuat amal sosial tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi pengabdian. Tidak sekadar bekerja untuk manusia, tetapi bekerja untuk Allah melalui pelayanan kepada manusia.

Dimensi ihsan juga sangat penting dalam pengelolaan amal usaha Muhammadiyah. Secara administratif, setiap rupiah tentu harus dicatat, diaudit, dan dipertanggungjawabkan. Itu bagian dari tata kelola dan rasionalitas organisasi. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa seseorang tetap harus jujur ketika tidak ada orang yang melihat?

Jawabannya adalah ihsan: kesadaran bahwa Allah melihat. Seorang bendahara yang menjaga uang Persyarikatan meskipun memiliki kesempatan untuk menggunakannya, seorang pengelola amal usaha yang tidak mengambil keuntungan pribadi dari jabatannya, atau seorang pimpinan yang menyadari bahwa fasilitas organisasi bukan milik pribadi, sesungguhnya sedang menghidupkan nilai irfani dalam bentuk yang sangat konkret. Ia memiliki muraqabah —kesadaran bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah. Karena itu, spiritualitas bukan sesuatu yang berada di luar manajemen organisasi; justru ia dapat menjadi fondasi moral bagi integritas dan amanah.

Ihsan juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dalam Al-Qur’an, ihsan digunakan untuk menggambarkan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang miskin. Artinya, kedalaman hubungan dengan Allah seharusnya tidak membuat seseorang menjauh dari manusia, tetapi justru semakin peduli kepada mereka. Semakin kuat kesadaran seseorang bahwa Allah mengawasinya, semakin kuat pula dorongan untuk tidak menyakiti, menipu, merendahkan, atau mengambil hak orang lain.

Karena itu, irfani yang sehat bukanlah spiritualitas yang membuat seseorang sibuk dengan dirinya sendiri, melainkan spiritualitas yang melahirkan empati dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Inilah yang dapat menjelaskan mengapa kesalehan individual dalam Muhammadiyah selalu memiliki pasangan berupa amal sosial.

Irfani juga dapat diwujudkan dalam sikap wara’, yaitu kemampuan menjaga diri dari perkara yang meragukan dan berpotensi membawa kepada yang haram. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa perkara halal itu jelas, perkara haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara syubhat. Sikap wara’ mengajarkan seseorang untuk tidak selalu mengambil batas minimal dari apa yang "boleh". Ada kalanya seseorang memilih meninggalkan sesuatu karena mempertimbangkan kebersihan hati, kemaslahatan, dan dampaknya bagi orang lain.

Seorang pimpinan mungkin memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi memilih bermusyawarah karena menghargai anggota yang lain. Seseorang mungkin mampu membalas kritik dengan kata-kata yang lebih keras, tetapi memilih menahan diri agar tidak melukai martabat orang lain. Di sinilah ihsan bekerja: melakukan yang terbaik, bahkan ketika sesuatu yang lebih rendah sebenarnya masih diperbolehkan.

Dalam pengertian ini, ihsan dapat menjadi salah satu kata kunci untuk memahami irfani dalam Muhammadiyah. Ihsan bukan hanya "berbuat baik", tetapi melakukan kebaikan dengan kesadaran kehadiran Allah dan dengan kualitas terbaik. Ia menghubungkan ibadah dengan akhlak, kesalehan pribadi dengan kesalehan sosial, dan hubungan manusia dengan Allah dengan hubungan manusia dengan sesama. Seorang guru Muhammadiyah yang mengajar bukan hanya agar siswanya lulus ujian, tetapi karena merasa mendidik adalah amanah Allah, sedang menghidupkan ihsan.

Seorang dokter yang melayani pasien dengan profesional sekaligus penuh kasih sayang juga menghidupkan ihsan. Seorang pimpinan Persyarikatan yang menjaga amanah meskipun tidak diawasi manusia pun demikian. Dengan ihsan, pekerjaan biasa dapat berubah menjadi ibadah karena dilakukan dengan kesadaran spiritual dan kualitas moral yang tinggi.

Karena itu, irfani tidak perlu dipertentangkan dengan bayani dan burhani. Ketiganya justru menjadi lebih kuat ketika berjalan bersama. Bayani menjaga agar kita tidak kehilangan wahyu; burhani membuat kita tidak kehilangan rasionalitas dan realitas; irfani-ihsan memastikan kita tidak kehilangan hati dan kemanusiaan. Bayani menjawab apa yang benar, burhani membantu memahami bagaimana kebenaran itu dihadapkan pada kenyataan, sedangkan irfani-ihsan mengajarkan bagaimana kebenaran tersebut dihayati dan diwujudkan dengan akhlak terbaik. 

Bayangkan seorang dokter di rumah sakit Muhammadiyah: ia membutuhkan bayani agar pelayanan berorientasi pada nilai Islam, burhani agar keputusan medis berbasis ilmu pengetahuan, dan irfani-ihsan agar pasien diperlakukan sebagai manusia yang harus dihormati, dilayani, dan dikasihi. Demikian pula seorang pimpinan Persyarikatan membutuhkan teks sebagai pedoman, akal untuk membaca persoalan organisasi, dan hati untuk menjalankan amanah dengan ikhlas.

Pada akhirnya, Islam Berkemajuan tidak cukup hanya melahirkan orang yang berilmu dan organisasi yang maju; ia juga harus melahirkan manusia yang memiliki hati yang hidup. Kemajuan ilmu tanpa moral dapat melahirkan keserakahan, kemajuan organisasi tanpa spiritualitas dapat melahirkan perebutan kepentingan, dan kecanggihan teknologi tanpa empati dapat membuat manusia semakin jauh dari sesamanya.

Karena itu, bayani, burhani, dan irfani menemukan titik temunya dalam pribadi Muslim yang utuh: berpegang pada wahyu, berpikir dengan akal sehat, membaca realitas dengan ilmu, serta menghayati kehadiran Allah dalam setiap tindakan. Ihsan adalah salah satu ruh yang membuat ketiganya tidak berhenti sebagai metode berpikir, tetapi berubah menjadi jalan untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan, berkemajuan, dan berkemaslahatan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait