Ketika Al-Qur’an Bertemu Dunia yang Berubah: Membumikan Islam Berkemajuan
Penulis: Arif Jamali Muis*
Pada tulisan sebelumnya, “Tauhid di Tengah ‘Tuhan-Tuhan’ Baru”, saya membahas karakteristik pertama Islam Berkemajuan, yaitu tauhid sebagai pusat orientasi kehidupan. Setelah fondasi itu diteguhkan, Risalah Islam Berkemajuan (RIB) masuk pada karakteristik kedua: bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah (al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah). Jika tauhid menentukan kepada siapa hidup diarahkan, Al-Qur’an dan Sunnah memberikan nilai, petunjuk, dan cara pandang agar arah itu tidak kehilangan pijakan.
Sepintas, rumusan tersebut terdengar biasa kita dengar. Setiap Muslim tentu memahami bahwa Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam. Namun RIB tidak berhenti pada penegasan normatif itu. Al-Qur’an ditempatkan sebagai sumber keyakinan, pengetahuan, hukum, norma, moral, sekaligus inspirasi sepanjang zaman, sedangkan Sunnah menghadirkan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sebagai contoh bagaimana nilai Al-Qur’an diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Menariknya, RIB kemudian menegaskan bahwa memahami kedua sumber tersebut membutuhkan pemahaman terhadap teks, pemikiran yang maju, serta ilmu pengetahuan yang luas. Makin tinggi penggunaan akal dan makin luas ilmu pengetahuan yang menyertai pembacaan terhadap keduanya, makin kaya pula makna yang dapat digali.
Di sinilah karakter Islam Berkemajuan terasa sangat penting. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak berarti membawa kehidupan kembali kepada bentuk masa lalu. Yang kembali adalah sumber nilainya, sedangkan kehidupan manusia terus bergerak dengan persoalan yang berbeda-beda. Wahyu tetap menjadi pijakan, tetapi kenyataan yang kita hadapi terus berubah, sehingga kesetiaan kepada sumber agama harus berjalan bersama kesungguhan memahami dunia tempat nilai itu hendak diwujudkan.
Hari ini kita hidup dalam situasi yang sama sekali berbeda dibandingkan generasi berabad-abad lalu. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia belajar dan bekerja, teknologi kesehatan berkembang semakin jauh, ekonomi bergerak ke ruang digital, krisis lingkungan semakin nyata, sementara arus informasi membuat batas antara kebenaran, opini, dan manipulasi semakin tipis. Al-Qur’an tentu tidak menyebut semua itu dalam istilah teknis yang kita gunakan sekarang, tetapi justru di sinilah persoalannya: agama tidak harus menyediakan jawaban teknis untuk setiap perkembangan, tetapi harus memberikan nilai yang menuntun manusia ketika berhadapan dengan perkembangan itu.
Karena itu, ketika membicarakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), misalnya, pertanyaan keagamaan tidak cukup berhenti pada boleh atau tidak boleh menggunakan (AI). Pertanyaan yang lebih mendasar adalah untuk apa teknologi itu digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mungkin dirugikan, apakah martabat manusia tetap dihormati, dan apakah penggunaannya membawa kemaslahatan. Demikian pula ketika berbicara tentang ekonomi, lingkungan, politik, atau perkembangan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an memberi manusia kompas moral, sementara manusia tetap harus membaca peta kehidupan yang terus berubah.
Tantangan kita hari ini bahkan agak paradoksal. Akses terhadap teks agama menjadi jauh lebih mudah, tetapi kemudahan itu belum tentu membuat pemahaman semakin dalam. Dalam hitungan detik seseorang dapat menemukan ayat, hadis, atau potongan ceramah melalui telepon genggam, lalu membagikannya kepada ribuan orang. Namun menemukan teks tidak selalu sama dengan memahami makna, sebab teks yang dilepaskan dari konteks, keluasan ilmu, dan tujuan ajaran agama dapat dengan mudah dipakai untuk membenarkan apa yang sebenarnya sudah ingin kita benarkan sejak awal.
Karena itu, persoalan keberagamaan di era digital mungkin bukan kekurangan dalil, tetapi kekurangan kedalaman dalam membaca dalil. RIB memberikan keseimbangan yang menarik ketika menyebut bahwa Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah membawa al-haq sekaligus al-birr: kebenaran dan kebajikan. Dengan demikian, sebuah persoalan tidak cukup dilihat hanya dari benar atau salah, tetapi juga dari baik atau buruk. Ini menjadi sangat relevan ketika manusia memiliki kemampuan yang semakin besar melalui ilmu dan teknologi, sebab tidak semua yang secara teknis dapat dilakukan dengan sendirinya pantas dilakukan.
Sebuah informasi mungkin benar, tetapi cara menyampaikannya dapat merendahkan martabat orang lain. Sebuah keputusan mungkin sah secara prosedural, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan. Teknologi mungkin mampu meningkatkan efisiensi, tetapi kita tetap perlu bertanya apakah manusia di dalamnya justru semakin dipinggirkan. Di titik inilah wahyu menghadirkan dimensi yang sering hilang dalam kehidupan modern: kemampuan untuk tidak hanya bertanya “apakah ini bisa dilakukan?”, tetapi juga “apakah ini baik untuk dilakukan?”
Sunnah kemudian memperlihatkan bagaimana nilai itu memperoleh bentuk dalam kehidupan. Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar penyampai wahyu, tetapi teladan bagaimana pesan Al-Qur’an hadir dalam sikap, keputusan, hubungan sosial, dan keberpihakan kepada kemanusiaan. RIB menempatkan kehidupan Nabi sebagai contoh nyata dari isi Al-Qur’an. Dengan demikian, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah bukan sekadar persoalan seberapa banyak teks yang kita ketahui, tetapi seberapa jauh nilai keduanya membentuk cara kita menjalani kehidupan.
Cara pandang seperti ini sebenarnya dapat dibaca dalam perjalanan Muhammadiyah sejak awal. Semangat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak menghasilkan gerakan yang menjauh dari kemajuan, tetapi justru mendorong lahirnya pembaruan dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan, dan berbagai amal yang menjawab kebutuhan masyarakat. RIB sendiri menggambarkan Islam Berkemajuan sebagai upaya memperluas pandangan keagamaan yang tetap bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah sambil mengembangkan ijtihad di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Karena itu, mungkin ukuran kedekatan kita dengan Al-Qur’an tidak cukup dilihat dari seberapa sering kita membacanya, tetapi juga dari seberapa jauh Al-Qur’an ikut membentuk cara kita membaca dunia. Apakah ia membuat kita lebih peka terhadap ketidakadilan, lebih jernih menghadapi perbedaan, lebih bertanggung jawab menggunakan ilmu, dan lebih berhati-hati ketika teknologi memberikan kekuasaan yang semakin besar kepada manusia?
Dunia akan terus berubah, sementara Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi sumber yang memberi arah. Tantangannya bukan membuat wahyu mengikuti zaman, melainkan memastikan bahwa manusia memiliki kedalaman ilmu dan kejernihan akal untuk menghadirkan pesan wahyu di setiap zaman.
Di titik inilah karakteristik kedua Islam Berkemajuan secara alami mengantar kita kepada karakteristik berikutnya. Ketika sumber agama tetap, sementara persoalan manusia terus berkembang, dibutuhkan kesungguhan untuk mempertemukan keduanya. RIB menyebut jalan itu sebagai ijtihad dan tajdid.
Al-Qur’an tidak kehilangan relevansi karena dunia berubah. Yang harus terus bertumbuh adalah kemampuan kita memahami pesannya, membaca kenyataan, dan menghadirkan nilai wahyu dalam kehidupan yang terus bergerak.
*) Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow