Kemarau Panjang, Saatnya Kembali Mendekatkan Diri kepada Allah

Kemarau Panjang, Saatnya Kembali Mendekatkan Diri kepada Allah

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Yayan Suryana* 

Kemarau panjang mengingatkan manusia betapa berharganya air bagi kehidupan. Tanah mengering, tanaman mulai layu, persediaan air bersih menipis, dan aktivitas masyarakat terganggu. Dalam keadaan demikian, manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan dengan kemampuan dan teknologi.

Ikhtiar manusia untuk menjaga sumber air, mengelola lingkungan, dan menghemat penggunaannya tetap harus dilakukan. Namun, sebagai orang beriman, ada ikhtiar lain yang tidak boleh diabaikan, yakni mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, salat, dan zikir. Kemarau bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga momentum untuk memperkuat kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta.

Islam mengajarkan bahwa ketika hujan tak kunjung turun, umat Islam dianjurkan memohon pertolongan Allah melalui istisqa. Istisqa berarti memohon agar Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, istisqa tidak terbatas pada salat berjamaah di tanah lapang, tetapi juga dapat dilakukan melalui doa, baik secara perorangan maupun bersama-sama. Putusan Muktamar Tarjih XX di Garut pada 1976 memberikan landasan bagi umat Islam untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah ketika menghadapi kekeringan berkepanjangan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi umat untuk beribadah sesuai keadaan, tanpa mengabaikan tuntunan Rasulullah saw.

Salah satu bentuk ikhtiar spiritual tersebut adalah memperbanyak doa, istighfar, dan zikir. Doa merupakan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Istighfar mengajak manusia melakukan introspeksi, memohon ampun, dan memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia. 

Allah berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12 bahwa memohon ampun kepada-Nya merupakan jalan untuk memperoleh ampunan dan berbagai karunia, termasuk turunnya hujan yang melimpah. Ayat ini mengajarkan pentingnya istighfar sebagai bagian dari penghambaan. Karena itu, menghadapi kemarau panjang hendaknya tidak hanya mendorong kita mengeluhkan keadaan, tetapi juga memperbanyak ibadah, memperbaiki perilaku, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang mengalami kesulitan air.

Selain berdoa, umat Islam dapat melaksanakan salat istisqa apabila keadaan dan kebutuhan masyarakat menghendakinya. Rasulullah ﷺ memberikan teladan dengan keluar untuk memohon hujan, berdoa dengan penuh kerendahan hati, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan melaksanakan salat dua rakaat. Tuntunan ini mengajarkan bahwa permohonan kepada Allah hendaknya disertai ketulusan, kekhusyukan, dan kesungguhan. 

Meski demikian, esensi istisqa tidak semestinya dipersempit hanya pada pelaksanaan salat di lapangan. Doa memohon hujan juga dapat dipanjatkan dalam kesempatan lain, termasuk ketika berjamaah di masjid. Dengan demikian, masyarakat dapat menghidupkan suasana religius melalui kegiatan ibadah bersama sekaligus memperkuat solidaritas dalam menghadapi dampak kekeringan.

Namun, mendekatkan diri kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha nyata untuk mengatasi persoalan air. Doa harus berjalan seiring dengan ikhtiar menjaga sumber mata air, menghemat penggunaan air, memperbaiki pengelolaan irigasi, menampung air hujan ketika tersedia, serta membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih. 

Kesadaran spiritual semestinya melahirkan tanggung jawab ekologis dan kepedulian sosial. Kemarau panjang juga menjadi pengingat agar manusia tidak merusak lingkungan dan tidak menggunakan sumber daya alam secara berlebihan. Dalam perspektif Islam, manusia bukan hanya hamba Allah yang berdoa, melainkan juga pemegang amanah untuk merawat bumi. Oleh sebab itu, doa dan salat istisqa perlu disertai tindakan nyata yang terencana, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kemarau panjang seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan manusia dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan alam dan sesama. Kita memohon hujan bukan semata-mata agar kebutuhan manusia terpenuhi, melainkan agar air menjadi rahmat bagi seluruh kehidupan dan tidak berubah menjadi bencana. Sikap beriman tercermin dalam kesediaan untuk berdoa, memperbanyak zikir dan istighfar, menjaga lingkungan, serta saling membantu menghadapi kesulitan. 

Ketika hujan belum juga turun, kesabaran dan ikhtiar harus tetap terpelihara; ketika hujan datang, rasa syukur dan tanggung jawab untuk mengelolanya dengan bijaksana juga harus ditumbuhkan. Semoga kemarau panjang mengantarkan kita pada kesadaran yang lebih mendalam tentang kebesaran Allah, keterbatasan manusia, dan pentingnya menjaga kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait