Tuntunan Rasulullah ﷺ Ketika Hendak Tidur
Penulis: Yayan Suryana*
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ra., beliau berkata:
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ.(متفق عليه)
Artinya: Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Apabila engkau hendak menuju tempat tidurmu, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat, kemudian berbaringlah pada sisi tubuhmu yang kanan.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini memberikan tuntunan yang sangat indah tentang bagaimana seorang Muslim mengakhiri aktivitas harian dan memasuki waktu istirahat. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar tidur tidak sekadar dipandang sebagai aktivitas biologis untuk menghilangkan rasa lelah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan yang bernilai ibadah.
Salah satu adabnya adalah berwudu sebelum tidur, sebagaimana wudu yang dilakukan untuk salat. Dengan wudu, seseorang menutup harinya dalam keadaan bersih dan suci, sekaligus menghadirkan kesadaran bahwa dirinya akan beristirahat dalam penjagaan Allah. Wudu sebelum tidur juga menjadi bentuk persiapan batin untuk menyerahkan diri kepada Allah setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari.
Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar seseorang berbaring di sisi kanan ketika hendak tidur. Tuntunan ini menunjukkan perhatian Islam terhadap adab dan keteraturan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam perkara yang tampaknya sederhana seperti posisi tidur.
Lebih penting, tuntunan ini melatih seorang Muslim untuk menjadikan sunnah Nabi ﷺ sebagai pedoman dalam berbagai aktivitas, bukan hanya dalam ibadah mahdhah. Tidur pun dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dan disertai niat yang baik, misalnya berniat beristirahat agar tubuh kembali segar sehingga dapat melaksanakan salat, bekerja, belajar, beribadah, dan menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.
Hadis ini juga mengajarkan kesiapan spiritual sebelum tidur. Tidur adalah keadaan ketika manusia melepaskan kesadarannya dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya. Karena itu, sangat baik apabila seseorang mengakhiri harinya dalam keadaan bersuci, mengingat Allah, dan mengikuti doa serta zikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Tempat tidur bukan hanya tempat melepas kelelahan, tetapi juga menjadi ruang untuk melakukan muhasabah: mengingat kembali kesalahan yang dilakukan, mensyukuri nikmat Allah, memohon ampun atas dosa, dan menyerahkan kehidupan kepada-Nya. Seorang Muslim hendaknya tidak membawa kemarahan, kebencian, dan kegelisahan ke tempat tidurnya, tetapi berusaha menutup hari dengan hati yang tenang dan berserah diri kepada Allah.
Karena itu, tuntunan sebelum tidur dapat dijadikan rutinitas sederhana tetapi bermakna: bersuci atau berwudu, menuju tempat tidur dengan mengingat Allah, berbaring pada sisi kanan, membaca doa dan zikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ, serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Kebiasaan ini bukan hanya membentuk kedisiplinan dalam mengikuti sunnah, tetapi juga mendidik hati agar setiap pergantian waktu dalam kehidupan selalu disertai kesadaran kepada Allah.
Kita tidak tahu apakah esok pagi masih diberi kesempatan untuk bangun dan melanjutkan kehidupan. Maka, tidur hendaknya menjadi momen untuk menutup hari dengan ketaatan, ketenangan, dan tawakal. Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dan menjadikan setiap aktivitas kita, termasuk tidur dan istirahat, sebagai amal yang bernilai di sisi-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow