Muhammadiyah di Tengah Kompetisi Ekosistem Dakwah

Muhammadiyah di Tengah Kompetisi Ekosistem Dakwah

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Yayan Suryana* 

Selama ini tantangan sebuah gerakan keagamaan sering dibayangkan datang dari kelompok yang berbeda secara ideologis, pemikiran, atau manhaj. Perbedaan itu membuat batas antargerakan relatif mudah dikenali. Muhammadiyah dapat melihat di mana letak perbedaannya, apa yang harus ditegaskan, dan bagaimana identitas gerakannya dipertahankan.

Namun, lanskap dakwah hari ini mengalami perubahan. Tantangan tidak selalu datang dari gerakan yang berbeda secara mencolok. Justru yang perlu mendapat perhatian adalah berkembangnya institusi dan komunitas yang memiliki medan gerak yang semakin beririsan dengan Muhammadiyah.

Irisan itu dapat ditemukan dalam banyak bidang mulai dakwah, pengajian, pembinaan keagamaan, kaderisasi, pendidikan, pembinaan keluarga, kepemudaan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga pemanfaatan media digital. Dengan kata lain, masyarakat sekarang tidak hanya berhadapan dengan perbedaan paham keagamaan, tetapi juga dengan berbagai ekosistem yang sama-sama menawarkan pembinaan agama, komunitas, pendidikan, pelayanan sosial, dan ruang aktualisasi.

Di sinilah karakter tantangan dakwah mengalami perubahan. Persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan gagasan, tetapi juga persaingan dalam membangun ekosistem kehidupan umat. Sebuah gerakan tidak cukup hanya menawarkan pemahaman keagamaan. Ia juga dituntut mampu menyediakan lingkungan sosial yang membuat orang merasa dibina, diterima, memiliki komunitas, memperoleh kesempatan berkembang, dan dapat berkontribusi.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan perubahan tersebut. Mereka hidup dalam lingkungan yang memungkinkan berbagai komunitas keagamaan hadir secara bersamaan. Sumber belajar agama tidak lagi terbatas pada masjid, sekolah, pesantren, atau majelis taklim. Media sosial telah menjadi ruang penting pembentukan pengetahuan, identitas, dan jaringan sosial. Anak muda dapat mengenal berbagai tokoh, mengikuti kajian dari berbagai komunitas, bergabung dengan kelompok tertentu, dan membangun relasi tanpa harus terikat pada batas geografis.

Akibatnya, loyalitas terhadap sebuah gerakan tidak selalu dibentuk oleh kesamaan ideologi semata. Ia juga dibentuk oleh pengalaman. Komunitas yang mampu memberikan pembinaan yang intensif, relasi sosial yang kuat, mentor yang hadir, kegiatan yang menarik, dan ruang aktualisasi dapat membangun ikatan yang kuat dengan anggotanya. Dalam situasi seperti ini, kemiripan medan gerakan menjadi faktor yang penting.

Di sinilah Muhammadiyah menghadapi tantangan baru. Tantangan itu bukan semata-mata dari pihak yang berbeda dengan Muhammadiyah, melainkan juga dari pihak yang memiliki cara bergerak yang dalam beberapa aspek mirip. Sama-sama melakukan dakwah. Sama-sama melakukan kaderisasi. Sama-sama membina keluarga dan generasi muda. Sama-sama bergerak dalam pendidikan dan kegiatan sosial. Sama-sama membangun komunitas. Bahkan sama-sama memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pengaruh.

Tentu saja kemiripan aktivitas tidak berarti kesamaan manhaj. Setiap gerakan mempunyai sejarah, tradisi intelektual, sistem kaderisasi, orientasi, dan strategi perubahan masyarakat masing-masing. Karena itu, persoalannya bukan mempertanyakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalannya adalah memahami bahwa medan dakwah semakin padat oleh aktor yang menawarkan bentuk pelayanan dan pembinaan yang beririsan.

Perubahan ini menuntut Muhammadiyah untuk melihat kembali hubungan antara kelembagaan dan gerakan. Muhammadiyah memiliki berbagai amal usaha dalam pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan bidang lainnya. Tetapi dalam ekosistem dakwah yang semakin kompetitif, keberadaan lembaga saja tidak cukup. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah lembaga-lembaga tersebut juga menjadi ruang pembentukan komunitas, kader, dan orientasi keagamaan.

Persoalan ini semakin penting karena profesionalisasi lembaga dapat berjalan dengan sangat cepat. Sekolah membutuhkan manajemen profesional. Rumah sakit membutuhkan tenaga ahli. Perguruan tinggi membutuhkan tata kelola modern. Semua itu penting. Namun, profesionalisasi dapat menghadirkan pertanyaan baru: apakah semakin profesional sebuah lembaga, semakin kuat pula hubungan lembaga tersebut dengan gerakan yang melahirkannya?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan administratif. Ia menyangkut masa depan dakwah. Sebuah lembaga dapat berhasil menjalankan fungsi pelayanan, tetapi belum tentu berhasil membangun keterikatan dengan gerakan. Sebuah sekolah dapat menghasilkan lulusan yang berprestasi, tetapi belum tentu menghasilkan generasi yang merasa memiliki Muhammadiyah. Sebuah perguruan tinggi dapat berkembang secara akademik, tetapi belum tentu menjadi ruang kaderisasi. Di sinilah perbedaan antara institusi yang berjalan dan gerakan yang hidup menjadi penting.

Karena itu, tantangan ekosistem dakwah baru tidak cukup dijawab dengan memperbanyak kegiatan. Tetapi juga diperlukan kemampuan menghubungkan berbagai aktivitas menjadi sebuah pengalaman gerakan yang utuh. Dakwah, pendidikan, kaderisasi, komunitas, keluarga, kepemudaan, pelayanan sosial, dan ruang digital tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu dilihat sebagai bagian dari proses membentuk manusia dan masyarakat.

Dalam konteks ini, kompetisi dakwah yang mendasar adalah kompetisi dalam membangun kedekatan, kepercayaan, dan kebermaknaan. Organisasi yang mampu hadir secara konsisten dalam kehidupan seseorang memiliki peluang lebih besar membentuk orientasi keagamaannya. 

Karena itu, Muhammadiyah perlu membaca fenomena kemiripan gerakan ini dengan jernih. Respons yang diperlukan bukan kecurigaan ataupun sikap defensif. Sebaliknya, kemunculan berbagai ekosistem dakwah yang beririsan dapat menjadi bahan evaluasi. 

Jika ada gerakan lain yang berhasil membangun komunitas anak muda, Muhammadiyah perlu memahami faktor keberhasilannya. Jika ada sistem pembinaan yang mampu membangun kedekatan kader, Muhammadiyah perlu mempelajarinya. Jika ada model pemanfaatan media digital yang efektif, Muhammadiyah perlu mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan manhajnya sendiri.

Belajar dari pihak lain tidak berarti kehilangan identitas. Sebaliknya, kemampuan belajar merupakan bagian dari daya hidup sebuah gerakan. Muhammadiyah tidak perlu menjadi sama dengan gerakan lain. Yang diperlukan adalah memastikan bahwa perbedaan manhaj tetap dapat diterjemahkan menjadi praksis dakwah yang relevan dengan perubahan masyarakat.

Kompetisi ekosistem dakwah mengubah cara kita memahami tantangan Muhammadiyah. Tantangan tidak lagi selalu hadir dalam bentuk perdebatan terbuka antara kelompok yang berbeda. Ia dapat hadir secara lebih halus melalui pilihan masyarakat: memilih sekolah mana, mengikuti komunitas mana, menghadiri kajian mana, mempercayakan pembinaan anak kepada siapa, dan menemukan ruang aktualisasi di mana.

Dalam lanskap dakwah yang semakin beririsan, masyarakat tidak hanya memilih berdasarkan apa yang diyakini sebuah organisasi. Mereka juga memilih berdasarkan apa yang mereka alami di dalam ekosistem organisasi tersebut. Oleh karena itu, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru, bukan hanya mempertahankan identitas di tengah perbedaan, tetapi mempertahankan daya hidup gerakan di tengah kemiripan.

Wallahu a'lam bish-shawab. 

*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait