Islam

Islam

MediaMU.COM

Feb 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dari Dunia Tanpa Islam hingga Indonesia Tanpa Muhammadiyah

Sudibyo Markus dalam kuliah di Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta ditunggui langsung DR. Farid Solo Wadjdi, Wakil Ketua Program Pasca Sarjana UMS. Foto: dok. Sudibyo Markus.

Oleh: Sudibyo Markus*

Ber-retrospeksi melalui pendekatan “jika-maka” dalam sejarah.

#Kuliah interdisiplin di Pasca Sarjana UMS

Dalam kesempatan Diskusi Bedah buku saya “DUNIA BARAT DAN ISLAM” pada tanggal 18 Oktober 2019 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Mas DR. Faried “Solo” Wadjdi, Wakil Ketua Program Pasca Sarjana UMS, bermaksud sekaligus mengundang saya untuk memberikan kuliah untuk para mahasiswa pasca sarjananya.

Mas Faridj Solo Wadjdi paham benar sulitnya mencari “titik masuk disiplin keilmuan saya”. Walau berpendidikan kedokteran, saya dianggap bukan dokter yang menekuni profesi dokter. Walau aktivis mahasiswa Muhammadiyah dan dianggap “jago podium” pada era 60 dan 70-an, tapi bukan ahli agama apalagi kyai. Menulis buku tentang hbg sejarah hubungan antaragama setebal 500 halaman, tapi saya juga bukan ahli hubungan internasional, apalagi ahli agama. Karenanya Mas Faridj paham disiplin ilmu saya masuk katagori disiplin “ilmu yang bukan-bukan”.

Karena “tak diketemukan disiplin keilmuan“ saya, maka diakali untuk memberi judul kuliah tamu tersebut dengan “kuliah inter-disiplin”. Pas, miriplah dengan kuliah subuh saya tentang “Dunia Barat dan Islam” di Wisma Sieradj Klaten yang diprotes Prof James Peacock tahun 1970.

Ketika Mas Faridj minta judul kuliah tersebut, sesuai dengan latar belakang keilmuan saya “yang tak diketemukan”, saya ambil judul tentang Dunia dan Islam dan Indonesia dan Muhammadiyah dalam tinjauan perspektif “ilmu berandai-andai” tersebut di atas.

#Dari gurubesar komunikasi ke mantan agen CIA

Seperti sudah saya tulis di facebook sebelumnya, saya menerima pertanyaan “beranda-andai” tentang “Apa yang terjadi di Indonesia seandainya Muhammadiyah tidak pernah didirikan” tersebut dari Prof Joze Raymon “Oyinx” yang gurubesar ilmu komunikasi di Universitas John Hopkins, Baltimore, dalam kesempatan pertemuan di US National Security Council yang berkantor di sayap kiri Gedung Putih atau White House, Washington pada bulan April 2006. Tentu saja karena tak siap menghadapi pertanyaan “mengandai-andai” yang tiba-tiba tersebut, saya pun menjawabnya dengan beranda-andai juga.

Ternyata kemudian betapa terkejut ketika  pada tahun 2010, Graham E. Fuller, yang mantan Wakil Ketua National Intelligence Council di CIA, menulis satu buku dengan judul yang tak kalah “jahil” dengan pertanyaan guru besar Universitas John Hopkins tersebut di atas, yaitu beranda-andai seandainya Allah tak mengutus Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan Islam, “The World Without Islam”.

#Graham E. Fuller, Dunia Tanpa Islam

Walau judul bukunya terkesan “jahil”, ternyata analis intelijen pada CIA tersebut sangat mendalami berbagai aspek keislaman, terutama sumbangan besar Islam pada pengembangan peradaban kemanusiaan global hingga dewasa ini.

Graham Fuller secara terbuka mengatakan dalam buku “jahil”nya tersebut beberapa hal strategis dan penting tentang peran Islam dalam membangun peradaban dunia, antara lain:

  1. Besarnya sumbangan Islam bagi kebangkitan peradaban dunia ketika peradaban Eropa yang dibesarkan oleh roh Gereja Roma, dan ditopang peradaban Greeco-Europe yang terpuruk di jaman kegelapan.
  2. Bahwa di sepanjang sejarah peradaban, Islam ternyata dapat berinteraksi dengan baik dengan empat peradaban besar dunia lain, yakni Eropa Barat, Orthodox Rusia, Konfusian, dan Hindu.
  3. Bahwa memburuknya hubungan dunia Barat dengan Islam dewasa ini, termasuk apa yang disebut teror dan pembunuhan massal bukan karena Islam, melainkan sebuah rekayasa kekuatan sekuler di luar Islam.
  4. Di akhir bukunya, Fuller bahkan berharap agar umat Islam dan Kristen sebagai sesama pengikut agama persaudaraan Nabi Ibrahim, dapat bekerjasama berdampingan membangun perdamaian dan harkat kemanusiaan global baru.

#Indonesia tanpa Muhammadiyah

Kalau kita ikuti pola pikir yang retroakif “jika-maka” tersebut, banyak pelajaran retroaktif yang bisa kita tarik berdasarkan keunggulan komparatif Muhammadiyah dalam menyikap berbagai ancaman kebangsaan dan keumatan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia dan umat Islam sejak awal abad ke-20, yaitu saat-saat sulit dan kritis di jaman penjajahan Belanda.

Beberapa penyikapan Muhammadiyah yang didirikan di awal abad ke-20 tersebut, terhadap ancaman kehidupan kebangsaan dan keumatan sejak awal abad ke-20 tersebut dapat meliputi beberapa hal historis strategis:

  1. Upaya pencerdasan kehidupan bangsa yang menjadikan pendidikan “ilmu dan agama” sebagai basis, Muhammadiyah telah menetapkan strateginya untuk membangun kelas menengah bangsa, di tengah kebijakan pemerintah kolonial untuk mengetrapkan kebijakan Lord Thomas Babington Macaulay untuk “membelandakan pendidikan” bagi pribumi, agar generasi baru Indonesia siap menjadi “kacung-kacung” Londo dan pelestarian pemerintah kolonial. Justru kebijakan kolonial tersebut ditentang Romo Van Lith SJ yang men-Jowo-kan pendidikan dan pengajaran agama Kristen. Dalam dialognya dengan Romo Van Lith di Magelang, KHA Dahlan “meniru” pendekatan Van Lith dengan pendekatan pendidikan “ilmu dan agama” dengan melahirkan “H.I.S. met de Bible “ di sekolah Kristen, menjadi pendidikan “H.I.S. met de Kor’an” yg dirintis KHA Dahlan yg mendapat tantangan keras dari umat yg tradisional.
  2. Walau Pidato Kenegaraan (troone rede) Ratu Wilhelmina pada tahun 1900 menegaskan kebijakan “Kerstening politik” untuk mengkristenkan penduduk pribumi, dan akan secara all out dilaksanakan oleh Gubernur Jendral AWF Idenberg (1906-1911), namun Muhammadiyah dengan pendekatan dakwah dan amar makruf nahi munkar dan paham benar akan firman Allah “lakum diinakum wa liya diin” atau “bagimu agamu, bagiku agamaku” tidak pernah secara resmi memusuhi kebijakan pemerintah kolonial tersebut.
  3. Pendekatan dakwah dan amar makruf nahi munkar yang berfokus pada pendidikan, kesejahteraan sosial dan kesehatan menguatkan dakwah yang bersifat bil hal dalam bentuk tebaran amal usaha yang kini tersebar di seluruh persada nusantara. Beginilah pendekatan Muhammadiyah memerangi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan bangsa dan umatnya.
  4. Pendekatan dakwah bil hal yang dilaksanakan Muhammadiyah yang didukung oleh semua pedoman kehidupan berorganisasi, sejak kepribadian Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami sampai dengan kesepakatan nasional darul ahdi wa syahadah, by objective telah memposisikan dirinya sebagai gerakan Islam moderat atau wasathiyah atau anti kekerasan dan radikalisme. Sikap besar kejiwaan inilah yang menopang tumbuhnya demokratisasi di bumi nusantara.

Terima kasih Mas Faridj “Solo” Wajdi yang Wakil Ketua Program Pasca UMS dan Bunda Yayah Khisbiyah yang Direktur Pusat Studi Budaya UMS yang telah diijinkan Allah mengundang saya dalam diskusi yang masuk dalam katagori ilmu “yang bukan-bukan” tersebut, jauh sebelum pandemi menerpa kita semua.

Siapa tahu nanti akan dibuka program studi “yang bukan-bukan” dengan pendekatan “jika-maka dan berandai-andai” tersebut. He he he… (*)

*Wakil Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional PP Muhammadiyah

Dari FB Sudibyo Markus, Selasa 27 Juli 2021, atas ijin yang bersangkutan

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here