Burhani: Ketika Muhammadiyah Belajar dari Akal dan Realitas
Penulis: Yayan Suryana*
Ada anggapan bahwa beragama berarti cukup mengikuti teks dan tidak perlu terlalu banyak berpikir. Anggapan semacam ini justru bertentangan dengan banyak pesan Al-Qur’an yang mendorong manusia menggunakan akalnya. Islam memerintahkan manusia membaca wahyu sekaligus membaca alam. Dalam konteks Muhammadiyah, semangat penggunaan akal tersebut mendapatkan tempat dalam pendekatan burhani.
Jika bayani bertanya "apa kata wahyu?", maka burhani bertanya lebih jauh: mengapa demikian, bagaimana menjelaskannya secara rasional, dan bagaimana ajaran tersebut diterapkan dalam kenyataan? Karena itu, burhani menjadi salah satu pendekatan penting dalam Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Istilah burhan dalam tradisi keilmuan Islam berkaitan dengan argumentasi atau pembuktian yang kuat. Dalam filsafat dan logika, burhani berhubungan dengan cara berpikir yang sistematis dan rasional. Namun, dalam konteks Muhammadiyah, burhani tidak harus dipahami sebagai penggunaan logika Aristotelian secara kaku. Esensinya adalah penggunaan akal yang sehat untuk memahami agama dan membaca realitas.
Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan alam, mengambil pelajaran, dan menggunakan akal. Bahkan orang-orang yang kelak menyesal di neraka digambarkan berkata, "Sekiranya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka." (QS. Al-Mulk: 10) Pesan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan akal bukan musuh agama, melainkan bagian penting dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan berpikir.
Semangat burhani sangat terlihat dalam perjalanan Muhammadiyah. Ketika Kiai Ahmad Dahlan mengembangkan pendidikan modern, misalnya, beliau tidak sekadar mengulang pola pendidikan yang sudah ada. Beliau membaca keadaan umat, melihat keterbelakangan pendidikan, kemudian mencari cara baru untuk memperbaikinya. Demikian pula ketika Muhammadiyah mendirikan rumah sakit, panti asuhan, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha.
Semua itu merupakan bentuk keberanian membaca realitas dengan akal. Hari ini semangat tersebut semakin penting. Menghadapi kemiskinan, stunting, perubahan iklim, kecanduan gawai, judi online, pinjaman online, kekerasan terhadap anak, atau problem kesehatan mental, Muhammadiyah tidak cukup hanya memberikan nasihat normatif. Kita perlu memahami data, mencari penyebab, melakukan penelitian, dan merumuskan solusi yang efektif.
Contohnya dapat dilihat pada pengelolaan sekolah Muhammadiyah. Ketika hasil belajar siswa menurun, pendekatan burhani tidak buru-buru menyalahkan siswa sebagai "kurang rajin" atau orang tua sebagai "kurang perhatian". Sekolah perlu melihat data: bagaimana metode pembelajaran, beban tugas, kondisi keluarga, penggunaan gawai, kualitas tidur, lingkungan pergaulan, hingga kompetensi guru. Dari sana dilakukan evaluasi dan perbaikan.
Demikian pula dalam pengelolaan amal usaha. Jika sebuah rumah sakit mengalami penurunan kualitas pelayanan, solusinya bukan hanya mengadakan pengajian untuk mengingatkan pegawai agar ikhlas. Pengajian penting, tetapi harus dilengkapi dengan audit pelayanan, survei kepuasan pasien, evaluasi sistem kerja, penguatan SDM, dan perbaikan manajemen. Inilah cara berpikir burhani: iman tetap menjadi dasar, tetapi realitas harus dibaca dengan ilmu.
Dalam Manhaj Tarjih, semangat burhani juga membuka ruang bagi berbagai disiplin ilmu untuk membantu memahami persoalan keagamaan. Sosiologi dapat digunakan untuk memahami perubahan masyarakat, antropologi untuk membaca budaya, ekonomi untuk memahami persoalan kesejahteraan, ilmu kesehatan untuk memahami persoalan medis, dan ilmu lingkungan untuk membaca kerusakan alam.
Misalnya, ketika menentukan strategi dakwah di sebuah kampung, kita tidak cukup bertanya "apa materi dakwah yang benar?" Kita juga perlu bertanya: siapa masyarakatnya, bagaimana struktur sosialnya, apa budaya mereka, apa problem kehidupannya, dan metode komunikasi seperti apa yang efektif? Dakwah yang baik bukan hanya benar secara normatif, tetapi juga tepat sasaran dan efektif secara sosial.
Karena itu, burhani tidak berarti menempatkan akal di atas wahyu. Dalam tradisi pemikiran Muhammadiyah, akal dan wahyu justru ditempatkan dalam hubungan yang saling menguatkan. Ibnu Taimiyah, misalnya, menegaskan bahwa nash yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan akal yang sehat. Muhammad Abduh juga sangat kuat menekankan hubungan wahyu dan akal dalam menghadapi modernitas.
Bagi Muhammadiyah, semangat ini menjadi modal penting untuk menjadi gerakan pembaruan. Bayani memberi nilai dan orientasi, burhani membaca fakta dan mencari solusi. Ketika keduanya bertemu, agama tidak berhenti menjadi kumpulan norma, tetapi mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.
Namun, ada satu unsur lagi yang tidak boleh hilang: hati. Sebab akal yang cerdas tanpa hati yang bersih dapat menghasilkan teknologi yang maju tetapi manusia yang kehilangan arah. Di sinilah kita membutuhkan irfani.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow