Tabayun: Menjaga Kebenaran, Merawat Kepercayaan
Penulis: Yayan Suryana*
Tabayun atau klarifikasi merupakan langkah penting untuk memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil sikap, memberikan penilaian, atau membuat keputusan. Di tengah derasnya arus informasi, terutama melalui media sosial, berita yang belum terverifikasi dan pernyataan yang kehilangan konteks dapat memicu kesalahpahaman, merusak hubungan, bahkan menimbulkan konflik.
Karena itu, tabayun menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan tuntunan agama untuk menjaga kebenaran serta kehormatan sesama, baik secara personal maupun organisatoris.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini menegaskan bahwa informasi harus diperiksa sebelum dipercaya atau disebarluaskan. Sikap tergesa-gesa dalam menerima kabar dapat merugikan orang lain dan berujung pada penyesalan. Semakin besar dampak suatu informasi, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memastikan kebenarannya.
Al-Qur’an juga mengingatkan agar umat Islam menjauhi prasangka buruk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
Ayat ini mengajarkan bahwa penilaian tidak boleh didasarkan semata-mata pada dugaan atau informasi sepihak. Secara personal, tabayun menjaga hubungan baik; secara organisatoris, tabayun mencegah kesalahpahaman, menjaga soliditas, dan menghindarkan seseorang dari penilaian yang tidak adil.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim, Muqaddimah Shahih Muslim).
Hadis ini mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi. Organisasi perlu membangun budaya komunikasi yang terbuka, memeriksa fakta dan bukti, serta memberikan kesempatan kepada pihak terkait untuk menjelaskan persoalan. Tabayun bukan berarti menutupi kesalahan atau membela seseorang tanpa alasan, melainkan memastikan bahwa penilaian dan keputusan didasarkan pada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tabayun merupakan cerminan kedewasaan iman, kejernihan berpikir, dan kematangan berorganisasi. Jangan sampai kabar yang belum jelas menjadi sumber fitnah, merusak reputasi, atau melemahkan kepercayaan. Karena itu, marilah membudayakan prinsip memeriksa sebelum mempercayai, mengklarifikasi sebelum menilai, dan memastikan sebelum menyebarkan.
Dengan demikian, tabayun tidak hanya menjaga diri dari kesalahan, tetapi juga merawat ukhuwah, menegakkan keadilan, dan memperkuat integritas organisasi.
Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow