Bimbingan Jiwa Keagamaan KH. Ahmad Dahlan: Spirit Dakwah Persyarikatan
Penulis: Yayan Suryana*
Dalam sejarah panjang perjuangan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, bimbingan jiwa keagamaan dari KH. Ahmad Dahlan, menempati posisi sentral. Bimbingan ini tidak hanya menjadi sumber kekuatan spiritual pribadi para kader, tetapi juga menjadi etos kolektif yang menopang gerak langkah dakwah dan tajdid Muhammadiyah di berbagai bidang kehidupan.
Catatan tentang bimbingan KH. Ahmad Dahlan ini diperoleh dari tulisan M. Muchlas Abror dalam Suara Muhammadiyah edisi 10 Tahun ke-110, terbit 16–31 Mei 2025. Dalam artikelnya ia menjelaskan bagaimana Aisyiyah berdiri dan terus maju sebagai gerakan perempuan Islam yang visioner.
Ia menulis secara singkat empat hal sebagai bimbingan KH. Ahmad Dahlan. Yaitu, perjuangan disertai keikhlasan hati menunaikan tugas sesuai bakat dan kecakapannya, beramal harus berilmu, membulatkan tekad membela kesucian Islam, serta menjaga persaudaran dan kesatuan kawan sekerja dan seperjuangan.
Keempat hal itu merupakan nilai-nilai spiritual yang sangat penting untuk diangkat dan dijelaskan lebih jauh. Nilai-nilai warisan KH. Ahmad Dahlan ini menjadi spirit abadi yang menghidupkan ruh perjuangan dakwah Islam di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah lintas generasi.
Memahamai dan Memaknai Bimbingan
Pertama, perjuangan disertai keikhlasan hati menunaikan tugas sesuai bakat dan kecakapannya, artinya bahwa keikhlasan sebagai sumber ketulusan sekaligus kekuatan dalam perjuangan dakwah. Keikhlasan adalah fondasi dari segala amal yang bernilai ibadah. Dalam konteks dakwah, keikhlasan berarti melakukan kerja-kerja keumatan bukan untuk kepentingan pribadi, popularitas, atau materi, melainkan demi mencari ridha Allah.
KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa setiap orang harus menjalankan tugas sesuai bakat dan kecakapannya. Ini bukan sekadar efisiensi organisasi, tetapi cerminan dari pengakuan atas karunia Allah yang berbeda-beda kepada manusia. Dalam praktiknya, ini menumbuhkan rasa saling menghargai, memperkuat kolaborasi, dan meminimalkan konflik internal.
Kedua, beramal harus berilmu artinya bahwa ilmu menjadi landasan penting dalam mewujudkan dakwah yang mencerahkan. KH. Ahmad Dahlan sangat menekankan pentingnya berilmu sebelum beramal. Amal tanpa ilmu bukan hanya tidak efektif, tetapi bisa menyesatkan. Prinsip ini menjadi pembeda utama Muhammadiyah sejak awal—sebuah gerakan dakwah yang menolak taqlid dan memajukan ijtihad.
Dalam dakwah, ilmu menjadi cahaya yang menerangi jalan, membedakan antara yang haq dan yang batil, antara kebenaran ilahiyah dan tradisi yang menyimpang. Inilah yang membuat Muhammadiyah konsisten mengembangkan lembaga pendidikan, riset keagamaan, dan pembaruan pemikiran Islam.
Ketiga, membulatkan tekad membela kesucian Islam merupakan ruh militansi dakwah. Membela kesucian Islam bukan berarti bersikap eksklusif dan keras, tetapi memancarkan semangat menjaga kemurnian nilai-nilai Islam dari penyimpangan dan pemalsuan.
Ini terlihat dalam perjuangan KH. Ahmad Dahlan melawan tradisi yang tidak relevan yang menghambat kemajuan umat. Beliau tidak hanya mengkritik, tetapi memberikan alternatif. Memberikan pengajaran Islam yang rasional, murni, dan relevan. Tekad ini menumbuhkan keberanian menghadapi tantangan internal dan eksternal, serta menciptakan militansi dakwah yang tangguh dan visioner.
Keempat, menjaga persaudaran dan kesatuan kawan sekerja dan seperjuangan menjadi lem sambung hati para pimpinan dan kader. Menjaga persaudaraan dan kesatuan dalam kerja dakwah adalah keniscayaan. Tanpa persatuan, amal jama’i tak akan kokoh. Bagi KH. Ahmad Dahlan, ukhuwah adalah etika perjuangan.
Dalam konteks 'Aisyiyah misalnya, perempuan diberdayakan bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tetapi untuk bersama membangun peradaban. Dengan ukhuwah, perbedaan pandangan tidak menjadi perpecahan, tapi menjadi dinamika yang memperkaya.
Relevansi dan Implikasinya
Bimbingan tersebut bukan sekadar warisan sejarah, tetapi menjadi pijakan dan prinsip yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan kekinian. Di tengah era digital yang penuh disrupsi, keikhlasan diuji oleh budaya eksistensi di media sosial dan ilmu kadang dikalahkan oleh opini. Semangat membela Islam terseret pada fanatisme tanpa substansi. Dan, ukhuwah terganggu oleh ego sektoral dan politik identitas.
Maka, penting bagi setiap kader Muhammadiyah dan Aisyiyah masa kini untuk merevitalisasi bimbingan spiritual KH. Ahmad Dahlan ini. Bimbingan ini bisa membangun kesalehan individu, sekaligus menguatkan bangunan organisasi, menjaga arah dakwah, dan meneguhkan gerakan Islam berkemajuan.
Spirit inilah yang menjadikan Muhammadiyah tetap relevan selama lebih dari satu abad, menjadi gerakan yang tak hanya religius, tetapi juga rasional, inklusif, dan transformasional.
Muhammadiyah tidak akan besar hanya karena banyaknya amal usaha, tetapi karena kedalaman ruh perjuangan para kadernya. Dan ruh itu, bersumber dari bimbingan jiwa keagamaan yang ditanamkan pendiri yang tertanam kuat pada diri setiap kader. Kiranya bimbingan masih tetap relevan untuk direnungkan, dihayati, dan ditumbuh suburkan dalam langkah dakwah Persyarikatan untuk Islam berkemjuan.
Wallahu a'lam bish-shwab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
1
Sad -
0
Wow