Ketika Dahlan Memeluk 'Anak nDugal'

Ketika Dahlan Memeluk 'Anak nDugal'

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Dalam dunia pendidikan hari ini, label “anak nakal” masih sering terdengar akrab. Murid yang ramai di kelas dianggap mengganggu. Anak yang sulit diatur dicap melawan. Remaja yang gemar berkumpul di jalanan sering dipandang sebagai masalah sosial yang harus dijauhi. Padahal, di balik sikap keras atau perilaku seperti itu, kadang tersembunyi kebutuhan besar untuk dipahami dan diterima.

Fenomena tersebut terasa semakin kompleks di era digital. Banyak anak muda tumbuh di tengah limpahan hiburan, tetapi miskin ruang dialog. Mereka mudah terhubung melalui layar, namun sering kesepian secara emosional. Tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya mencari pengakuan melalui perilaku negatif. Hal ini dilakukan sekadar agar keberadaannya diperhatikan oleh lingkungan sekitar.

Dalam situasi seperti itu, pendekatan pendidikan yang terlalu keras justru sering gagal menyentuh akar persoalan. Hukuman mungkin mampu menciptakan ketertiban sesaat, tetapi belum tentu melahirkan kesadaran. Anak muda yang dipaksa tunduk sering hanya belajar takut, bukan memahami makna. Karena itu, pendidikan sejatinya membutuhkan lebih dari sekadar disiplin. Ia memerlukan ruang percakapan yang manusiawi.

Strategi Jitu

Di titik inilah, ada hal menarik apabila kita membaca kembali cara Ahmad Dahlan dalam menghadapi anak-anak muda di Kauman, yang dalam istilah Sukriyanto AR disebut “ndugal ”. Pembaru Islam itu tampaknya memahami bahwa agresivitas atau kenakalan remaja tidak selalu harus dihadapi dengan kemarahan. Ada kalanya, manusia justru berubah ketika diberi ruang untuk didengar, diajak berpikir dan diperlakukan secara manusiawi serta bermartabat.

Awal abad ke-20 adalah masa perubahan sosial yang tidak sederhana. Kota-kota di Jawa mulai bersentuhan dengan modernitas ciptaan kolonial, sementara masyarakat Muslim masih bergulat dengan kemiskinan, feodalisme, dan keterbelakangan pendidikan. Di Kauman Yogyakarta, anak-anak keluarga juragan batik sering tumbuh dalam kemanjaan dan kebiasaan hidup tanpa arah. Sebagian dari mereka gemar membuat keributan, menghabiskan uang, dan mengganggu ketenteraman keluarga.

Kiai Syuja’ dalam buku “Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal” menggambarkan bahwa sebagian anak muda Kauman ketika itu terbiasa hidup semaunya sendiri. Ada yang hanya menghabiskan uang belanja untuk bermain-main sepanjang hari. Sementara anak-anak dari keluarga miskin sering hanya menjadi suruhan kelompok yang lebih berada. 

Dalam suasana sosial seperti itulah, Ahmad Dahlan perlahan hadir untuk membina generasi muda. Namun, Suami Siti Walidah itu tampaknya sadar bahwa tidak semua pemuda itu bisa langsung dibina. Sebab, sebagian dari mereka masih ada yang memiliki prasangka buruk terhadap dirinya. Mereka khawatir akan dimarahi atau dipermalukan karena perilaku yang dianggap bertentangan dengan nilai agama. Karena itu, Ketib Amin memilih pendekatan yang jauh lebih halus dan manusiawi.

Sukriyanto AR dalam buku berjudul “Kisah Inspiratif para Pemimpin Muhammadiyah” menceritakan bahwa Ahmad Dahlan saat itu mengumpulkan anak-anak muda tersebut melalui sebuah forum yang diberi nama Fathul Asrar wa Miftahus Sa’adah. Menariknya, pengajian ini tidak berlangsung seperti pengajian biasa yang dipenuhi ceramah satu arah. Pengajian tersebut justru dibangun dengan suasana santai, dialogis, dan penuh keakraban.

Pada awalnya, dari sepuluh pemuda yang diundang, hanya empat atau lima orang yang berani datang. Mereka masih menyimpan rasa curiga kepada Ahmad Dahlan. Namun, Pahlawan Nasional itu tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun. Ia menyambut mereka dengan ramah, bersenda gurau, bahkan menyediakan alat-alat hiburan dan olahraga agar suasana menjadi cair.

Di Langgar kidul Kauman, anak-anak muda itu tidak langsung diberi nasihat tentang agama. Mereka diberi ruang agar merasa nyaman terlebih dahulu. Terkadang Ahmad Dahlan bahkan mengeluarkan uang pribadi untuk membeli kue-kue terlezat khas Yogyakarta sebagai jamuan. Namun, ketika waktu salat sudah tiba, mereka diajak berjamaah, lalu perlahan mulai berdialog tentang kehidupan, agama, dan masa depan.

Pendekatan seperti itu memperlihatkan kecerdasan psikologis Ahmad Dahlan dalam memahami perkembangan anak muda. Ia sadar bahwa manusia tidak dapat disentuh hanya dengan ceramah dengan nada keras dan materi yang menakutkan. Anak-anak yang suka melawan justru sering membutuhkan penerimaan emosional sebelum mampu menerima nasihat moral. Karena itu, Pembaru Islam tersebut memilih membangun kedekatan terlebih dahulu sebelum mengarahkan perubahan perilaku.

Di sinilah metode diskusi memainkan peran penting. Menurut Sukriyanto AR, pengajian tersebut dilaksanakan dengan model dialogis. Kadang Ahmad Dahlan melempar pertanyaan kepada murid-muridnya. Kadang para pemuda itu datang membawa persoalan hidup mereka sendiri untuk dibicarakan bersama. Ahmad Dahlan dalam proses ini bahkan lebih sering bertindak sebagai moderator dibanding penceramah utama.

Pendekatan seperti itu terasa sangat maju untuk ukuran zamannya. Dalam banyak tradisi pendidikan Islam awal abad ke-20, guru biasanya menjadi pusat otoritas keilmuan yang bersifat mutlak. Murid atau santri hanya mendengar dan menerima. Namun pria bernama kecil Muhammad Darwisy itu justru membuka ruang percakapan yang setara. Ia ingin anak-anak muda di Kauman itu belajar berpikir, menyampaikan pendapat, dan sekaligus menemukan kesadaran diri melalui proses dialog.

Metode diskusi secara psikologis memang sangat efektif dalam membentuk kesadaran dan perubahan perilaku murid. Ketika seseorang diberi kesempatan berbicara dan dihargai pendapatnya, ia akan merasa memiliki makna di hadapan orang lain. Dari sana tumbuh rasa percaya diri dan keterikatan emosional. Di sini, pendidikan tidak lagi terasa sebagai tekanan, melainkan ruang untuk tumbuh dan berkembang bersama.

Yang menarik, Ahmad Dahlan tidak berhenti pada diskusi intelektual semata. Surah-surah al-Qur’an seperti al-‘Ashr, al-Ma’un, dan at-Takatsur didialogkan bukan hanya untuk dipahami maknanya, tetapi juga dicari bagaimana cara mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Murid-murid diajak berpikir tentang kemiskinan, solidaritas sosial, dan tanggung jawab moral di tengah masyarakat. Dalam situasi ini, pendidikan agama di tangan Ahmad Dahlan diolah menjadi latihan untuk membangun kesadaran sosial.

Perlahan, anak-anak muda yang semula dianggap “ndugal atau nakal” itu justru berubah menjadi kader penting Muhammadiyah. Mereka yang dahulu datang dengan rasa curiga kemudian tumbuh menjadi tulang punggung gerakan dakwah organisasi modern itu. Menurut catatan “Ensiklopedia Muhammadiyah Jilid I”, beberapa nama seperti KRH Hadjid, H. Sujak, dan H.M. Mochtar lahir dari proses pembinaan di pengajian tersebut. Mereka bukan dibentuk melalui hukuman keras, tetapi lewat dialog yang memanusiakan dan mencerahkan.

Seni Memahami Manusia

Ahmad Dahlan tidak memandang manusia hanya dari kesalahannya hari ini, tetapi juga dari potensi masa depannya. Ia melihat anak-anak muda itu bukan sebagai beban sosial yang harus disingkirkan. Mereka adalah energi besar yang perlu diarahkan dengan bijaksana. Di sini, pendidikan menjadi jalan membangunkan harapan, bukan sekadar alat penertiban.

Hari ini, pendekatan seperti itu terasa semakin penting. Banyak lembaga pendidikan terlalu cepat memberi cap (stigma) negatif kepada murid yang sulit diatur. Padahal sebagian dari mereka mungkin hanya sedang mencari ruang penerimaan dan dialog. Kehadiran mereka perlu diakui oleh lingkungan sekitarnya. Karena itu, ketika proses pendidikan mulai kehilangan empati, maka sekolah akan mudah berubah menjadi tempat penghakiman yang dingin.

Barangkali itulah warisan besar Ahmad Dahlan yang penting, meski sering terlupakan. Ia tidak meluruhkan agresivitas anak muda dengan kemarahan atau bahkan hukuman yang mempermalukan. Ia justru merangkul mereka untuk membangun kedekatan, membuka ruang diskusi, lalu perlahan-lahan menuntun kesadaran agar tumbuh dari dalam diri sendiri. Sebab perubahan yang lahir dari kesadaran batin biasanya jauh lebih kuat dibanding kepatuhan yang dibangun melalui rasa takut.

Pada akhirnya, Ahmad Dahlan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bukan sekadar urusan memindahkan pengetahuan atau menertibkan perilaku murid. Pendidikan adalah seni memahami manusia. Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin mudah memberi label buruk kepada anak muda hari ini, dunia pendidikan kita justru lebih membutuhkan guru-guru yang mampu berdialog dengan hati daripada sekadar menghukum dengan amarah.

Penulis: Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta |  Dosen PAI Universitas Ahmad Dahlan)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait