Mu’allimin dan Kader Zaman Baru
Penulis: Arif Jamali Muis*
Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta bukan sekadar sekolah. Sejak awal kelahirannya, Mu’allimin memikul amanah yang jauh lebih besar: menjadi tempat persemaian kader Muhammadiyah. Dari ruang kelas, masjid, asrama, dan kehidupan sehari-harinya diharapkan lahir generasi yang memahami agama, mencintai ilmu, mampu memimpin, dan bersedia mengabdikan dirinya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sejarah panjang itu tentu membanggakan. Tetapi sekolah kader tidak boleh terlalu lama hidup dalam kebanggaan sejarah. Zaman terus bergerak. Pertanyaan Mu’allimin hari ini bukan lagi sekadar siapa saja tokoh besar yang pernah dilahirkannya, tetapi kader seperti apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.
Dunia yang dihadapi santri Mu’allimin sekarang berbeda jauh dengan dunia generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama media sosial, kecerdasan buatan, algoritma, dan banjir informasi. Pengetahuan tersedia hanya dalam beberapa sentuhan layar. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bahkan mampu menjawab pertanyaan, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, dan membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia.
Dalam keadaan seperti itu, Mu’allimin tidak cukup hanya menghasilkan santri yang banyak mengetahui sesuatu. Yang jauh lebih penting adalah melahirkan anak-anak muda yang mampu berpikir, memilih, menimbang, dan mengambil sikap. Di sinilah tantangan civitas akademika Mu’allimin.
Pertama, Mu’allimin harus kembali memperkuat makna kaderisasi. Kemuhammadiyahan jangan berhenti menjadi mata pelajaran. Islam Berkemajuan tidak boleh hanya menjadi istilah yang dihafalkan. Al-Ma’un jangan selesai pada penjelasan di ruang kelas. Nilai-nilai itu harus hidup dalam keseharian santri.
Guru, musyrif, pimpinan madrasah, dan seluruh lingkungan Mu’allimin harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: pengalaman apa yang membuat seorang santri benar-benar merasakan dirinya sebagai kader Muhammadiyah?
Mungkin jawabannya bukan menambah jam pelajaran Kemuhammadiyahan. Kaderisasi justru perlu lebih banyak dibangun melalui pengalaman nyata: memimpin teman, mengelola kegiatan, mendampingi masyarakat, berhadapan dengan persoalan sosial, berdiskusi, berbeda pendapat, mengambil keputusan, gagal, lalu belajar memperbaikinya. Kader tidak lahir hanya dari ceramah. Kader tumbuh melalui pengalaman.
Kedua, Mu’allimin harus berani membangun tradisi berpikir kritis. Sekolah kader jangan hanya menghasilkan generasi yang patuh, tetapi generasi yang mampu memahami mengapa sebuah nilai harus diperjuangkan. KH Ahmad Dahlan dahulu melakukan pembaruan justru karena memiliki keberanian membaca keadaan. Ia tidak sekadar menerima kebiasaan yang diwariskan. Ia bertanya, berpikir, lalu bertindak. Semangat itulah yang harus hidup di Mu’allimin.
Santri harus diberi ruang bertanya. Guru tidak perlu merasa kehilangan kewibawaan ketika mendapat pertanyaan kritis. Ruang kelas harus menjadi tempat dialog, bukan hanya tempat menerima jawaban. Di tengah derasnya informasi dan AI, kemampuan paling penting bukan sekadar mengetahui jawaban, tetapi mampu membedakan mana yang benar, mana yang menyesatkan, dan mana yang bermanfaat bagi kehidupan.
Ketiga, penguasaan teknologi harus berjalan bersama kematangan etika. Mu’allimin tentu harus maju dalam digitalisasi, AI, sains, bahasa asing, dan teknologi. Tetapi jangan sampai modernisasi hanya berhenti pada perangkat, aplikasi, atau fasilitas. Santri perlu diajak memahami bagaimana teknologi bekerja, siapa yang mengendalikannya, bagaimana algoritma membentuk pikiran manusia, bagaimana informasi dapat dimanipulasi, dan apa tanggung jawab moral seorang muslim ketika menggunakan teknologi. Kader zaman baru harus akrab dengan teknologi tanpa diperbudak teknologi.
Keempat, Mu’allimin perlu memperluas cakrawala kader. Kader Muhammadiyah tidak harus seluruhnya berada di struktur Persyarikatan. Muhammadiyah justru membutuhkan kader yang hadir di banyak ruang kehidupan. Ada yang menjadi ulama, guru, ilmuwan, dokter, diplomat, birokrat, entrepreneur, teknolog, politisi, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, dan pemimpin masyarakat. Karena itu pembinaan santri perlu mulai mengenali keragaman bakat sejak awal. Jangan semua anak diarahkan melalui jalan yang sama. Tugas Mu’allimin bukan menyeragamkan masa depan mereka, tetapi memastikan ke mana pun mereka pergi, nilai Muhammadiyah tetap menjadi kompas kehidupan.
Kelima, Mu’allimin harus mempertemukan akar yang kuat dengan sayap yang lebar. Akarnya adalah tauhid, Al-Qur'an dan Sunnah, akhlak, Islam Berkemajuan, Kemuhammadiyahan, dan semangat pengabdian. Sayapnya adalah sains, teknologi, bahasa dunia, komunikasi, kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan bekerja sama, kepekaan ekologis, dan pergaulan global. Santri yang kuat agamanya tidak boleh takut menghadapi dunia. Sebaliknya, santri yang luas pergaulannya jangan kehilangan pijakan nilai.
Karena itu civitas akademika Mu’allimin perlu terus belajar, ini sangat penting karena disinilah kuncinya. Guru harus membaca perkembangan zaman. Musyrif harus memahami karakter generasi baru. Pimpinan harus berani melakukan inovasi. Alumni perlu dihadirkan kembali sebagai jaringan mentoring, inspirasi, dan pintu bagi santri untuk mengenal dunia yang lebih luas.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Mu’allimin bukan sekadar menjadi sekolah terbaik. Banyak sekolah dapat mengejar prestasi akademik, fasilitas modern, atau pengakuan internasional. Mu’allimin memiliki amanah yang lebih besar: melahirkan kader zaman baru.
Kader yang kokoh keyakinannya tetapi terbuka pikirannya. Mencintai Muhammadiyah tanpa menjadi sempit. Mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan nurani. Berakar kuat pada nilai, tetapi berani berjalan jauh memasuki zaman. Sebab Mu’allimin tidak cukup hanya mewarisi kebesaran sejarah. Tugas terbesarnya adalah memastikan bahwa dari ruang kelas dan asramanya terus lahir anak-anak muda yang memiliki keberanian membaca zaman dan kesiapan mengubahnya menjadi lebih baik.
*) Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY)
What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow