Pengertian Mujassimah Artinya dalam Islam
MEDIAMU.COM - Mujassimah adalah istilah dalam Islam yang merujuk pada kelompok atau pandangan yang meyakini bahwa Allah memiliki bentuk fisik seperti makhluk-Nya. Pandangan ini didasarkan pada pemahaman literal terhadap ayat-ayat sifat Allah, seperti tangan (يَدٌ), wajah (وَجْهٌ), dan istiwa’ (استوى) yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Dalam akidah Islam, pemahaman semacam ini disebut tajsīm (تجسيم), yang berarti menjisimkan atau memberikan bentuk fisik kepada Allah. Pemahaman Mujassimah bertentangan dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menegaskan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya dan tidak memiliki bentuk fisik.
Dalil yang sering dijadikan dasar untuk menolak konsep tajsīm adalah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah berbeda dari makhluk-Nya dalam segala aspek, termasuk dalam sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, memahami sifat Allah secara harfiah tanpa takwil atau tafsir yang benar dapat menyebabkan pemahaman yang menyimpang.
Asal Usul Konsep Mujassimah
Konsep Mujassimah muncul dari pemahaman literal terhadap ayat-ayat sifat Allah dalam Al-Qur'an dan hadis. Dalam sejarah Islam, ada beberapa kelompok yang menafsirkan ayat-ayat ini tanpa mempertimbangkan prinsip tanzih (penyucian Allah dari sifat makhluk).
Sebagai contoh, dalam Al-Qur'an disebutkan:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Allah) Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Kelompok Mujassimah memahami ayat ini secara fisik, menganggap bahwa Allah memiliki tempat dan duduk di atas ‘Arsy seperti makhluk. Padahal, menurut ulama Ahlus Sunnah, ayat ini harus dipahami tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk atau menganggap bahwa Allah berada di suatu tempat tertentu.
Imam Malik pernah ditanya tentang istiwa’ (bersemayam) dalam ayat ini, dan beliau menjawab:
"Istiwa’ itu diketahui maknanya, tetapi bagaimana bentuknya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakannya adalah bid'ah."
Hal ini menunjukkan bahwa tidak boleh menafsirkan sifat Allah secara fisik, karena itu dapat menyesatkan pemahaman tentang tauhid.
Pandangan Islam terhadap Mujassimah
1. Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, menolak pemahaman Mujassimah. Mereka menegaskan bahwa Allah memiliki sifat yang sempurna tanpa menyerupai makhluk-Nya.
Ulama Ahlus Sunnah memahami bahwa ayat-ayat sifat Allah harus ditafsirkan dengan prinsip tanzih, yaitu menyucikan Allah dari segala sifat makhluk. Dalil yang memperkuat keyakinan ini adalah:
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Oleh karena itu, memahami ayat-ayat sifat Allah secara harfiah tanpa takwil yang benar dapat menyebabkan penyimpangan dalam akidah.
2. Kelompok yang Cenderung kepada Mujassimah
Beberapa kelompok dalam sejarah Islam memiliki kecenderungan pada Mujassimah karena menafsirkan ayat-ayat sifat Allah secara literal. Mereka meyakini bahwa Allah memiliki bentuk fisik, memiliki arah, atau bahkan duduk di atas ‘Arsy seperti seorang raja duduk di atas singgasananya.
Para ulama telah memperingatkan bahwa pemahaman ini berbahaya dan bertentangan dengan prinsip tauhid. Imam Abu Hanifah dalam kitabnya Al-Fiqh Al-Akbar menyatakan:
"Barang siapa mengatakan bahwa Allah memiliki tubuh, maka dia telah kafir."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa menganggap Allah memiliki bentuk fisik adalah kesalahan besar dalam akidah Islam.
Dampak Keyakinan Mujassimah dalam Akidah
Keyakinan Mujassimah memiliki dampak besar dalam akidah seorang Muslim. Jika seseorang memahami Allah sebagai makhluk yang memiliki bentuk fisik, maka itu dapat mengarah kepada kesyirikan dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).
Beberapa dampak negatif dari pemahaman Mujassimah antara lain:
- Menyalahi prinsip tauhid dalam Islam, yang menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.
- Mengaburkan makna ayat-ayat sifat Allah, karena tidak semua ayat bisa dipahami secara harfiah.
- Menimbulkan perpecahan dalam umat Islam, karena pemahaman yang menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah.
Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang Muslim untuk memahami akidah yang benar sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, agar tidak terjerumus dalam kesesatan tajsīm.
Kesimpulan
Dalam Islam, konsep Mujassimah ditolak oleh para ulama karena bertentangan dengan prinsip tauhid. Allah tidak memiliki bentuk fisik dan tidak menyerupai makhluk-Nya dalam sifat-Nya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami ayat-ayat sifat Allah tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, dan menegaskan bahwa Allah Maha Sempurna tanpa membutuhkan bentuk atau tempat.
Dalil yang paling kuat untuk menolak pemahaman Mujassimah adalah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Sebagai umat Islam, kita harus berhati-hati dalam memahami sifat-sifat Allah, agar tidak terjerumus dalam kesalahan pemahaman yang dapat merusak akidah. Belajar dari ulama Ahlus Sunnah adalah cara terbaik untuk memahami Islam dengan benar dan lurus sesuai ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Memahami konsep Mujassimah dalam Islam sangat penting untuk menjaga kemurnian akidah dan terhindar dari pemahaman yang menyimpang. Islam mengajarkan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan keyakinan yang benar harus berdasarkan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Jika Anda ingin memperdalam wawasan tentang akidah Islam, tafsir Al-Qur'an, dan kajian keislaman lainnya, kunjungi Mediamu.com.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow