MEDIAMU.COM - Menghitung darah istihadhah (darah haid yang tidak teratur) adalah penting bagi wanita Muslim untuk menjalankan ibadah-ibadah tertentu, terutama shalat. Istihadhah adalah kondisi haid yang tidak teratur atau berbeda dari haid biasa.

ads

Menghitung darah istihadhah membantu wanita menjaga kebersihan spiritual dan fisik. Dengan mengenali tanda-tanda istihadhah dan menghitung masa istihadhah, wanita dapat menjaga kebersihan badan dan pakaian serta melaksanakan ibadah dengan rasa nyaman dan tenang.

mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafi’iyah berpendapat bahwa cara menentukan adat haidh wanita cukup dengan satu kali haidh saja, yaitu hadidh yang pertama. Selanjutnya, ia sudah bisa menentukan dan memperkirakan waktu keluarnya darah dengan haidhnya yang pertama tersebut, karena sudah dianggap adat, 

وَتَثْبُتُ الْعَادَةُ بِمَرَّةٍ وَاحِدَةٍ. فَإِذَا حَاضَتْ فِي شَهْرٍ خَمْسَةَ أَيَامٍ، ثُمَّ اسْتَحِيْضَتْ فِيْ شَهْرٍ بَعْدَهُ رُدَّتْ إِلَى الْخَمْسَةِ

 Artinya, “Adat (kebiasaan haidh) bisa menjadi patokan dengan satu kali (haidh) saja. Maka, jika wanita mengalami pendarahan di bulan (pertama mengalami haidh) selama lima hari, kemudian haidh kembali di bulan selanjutnya, maka (cara menentukan waktu haidhnya) adalah lima hari (sebagaimana haidh pertamanya).”

 Yang berlandaskan hadits Rasulullah, yang menjadikan siklus haidh sebelumnya sebagai patokan dalam menentukan masa haidh di bulan setelahnya. 

Nabi bersabda: 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تُهَرَاقُ الدَّمَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ فَاسْتَفْتَتْ لَهَا أُمُّ سَلَمَةَ رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ: لِتَنْظُرْ عَدَدَ اللَّيَالِى وَالأَيَّامِ الَّتِى كَانَتْ تَحِيضُ مِنَ الشَّهْرِ قَبْلَ أَنْ يُصِيبَهَا الَّذِى أَصَابَهَا، فَلْتَتْرُكِ الصَّلاَةَ قَدْرَ ذَلِكَ مِنَ الشَّهْرِ، فَإِذَا خَلَّفَتْ ذَلِكَ فَلْتَغْتَسِلْ وَتَسْتَثْفِرْ بِثَوْبٍ ثُمَّ لِتُصَلِّى 

Artinya, “Dari Ummi Salamah, ada seorang perempuan yang mengalami pendarahan pada zaman Rasulullah, kemudian dia memintakan fatwa kepada Rasulullah, maka beliau menjawab: ‘Hendaklah kamu menghitung malam-malam dan hari-hari di mana kamu haidh di bulan sebelum mengalami pendarahan. Kemudian, tinggalkanlah shalat sebanyak hari di bulan tersebut. Dan, apabila telah melampaui hitungan hari tersebut, hendaklah mandi kemudian mengencangkan pakaian, selanjutnya kerjakanlah shalat,'” (HR Ahmad).

menurut Imam al-Mutawalli dan Abu Ali ibn Khairan adah haidh wanita bisa dijadikan tolok ukur haidh ketika sudah keluar dua kali. Dengan kata lain, haidh pertama kali wanita tidak bisa dijadikan patokan sebelum haidh yang kedua. 

Hanya saja, pendapat ini dianggap lemah (daif). Ketiga, menurut Imam ar-Rafi’i melalui riwayat dari Abul Hasan al-Ubbadi, tidak bisa dikatakan sebagai adah dalam menentukan haidh kecuali sudah pernah mengalami haidh sebanyak tiga kali. 

Jika hanya satu, atau dua, maka belum bisa dikatakan adah dan belum bisa dijadikan patokan haidh. 

Selanjutnya pendapat ulama mazhab Syafi’iyah tersebut, para ulama fiqih lintas mazhab juga memiliki pandangan dan pendapat yang senada dengan penjelasan di atas, di antaranya,

- menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, adah haidh wanita tidak bisa menjadi patokan sebelum mengalami dua kali haidh

- mazhab Imam Malik mengatakan bahwa patokan adah haidh wanita apabila sudah pernah menstruasi sebanyak tiga kali. (Imam Nawawi, II/417). 

Dengan ini kita bisa menarik kesimpulan dari beberepa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat perihal cara menentukan adah (kebiasaan) haidh wanita untuk memastikan siklus haidh setelahnya. Jika mengikuti mayoritas ulama mazhab Syafi’i, maka satu kali haidh saja sudah cukup. Boleh juga dengan menunggu hingga dua kali haidh.

Editor : Muhammad Fajrul Falaq. Tim Redaksi mediamu.com