Keadilan Allah dalam Kasus Orang Saleh Masuk Neraka dan Pendosa Masuk Surga

Keadilan Allah dalam Kasus Orang Saleh Masuk Neraka dan Pendosa Masuk Surga

Smallest Font
Largest Font

Keadilan Allah SWT merupakan salah satu sifat utama yang wajib diimani oleh setiap Muslim. Namun, dalam praktiknya tidak sedikit manusia yang mempertanyakan keadilan tersebut, khususnya ketika dihadapkan pada konsep takdir (qadha dan qadar). Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah jika Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk siapa yang masuk surga dan neraka, mengapa manusia tetap diperintahkan untuk beribadah dan beramal saleh? Tulisan ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut secara sistematis berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pengertian Takdir dan Implementasinya dalam Kehidupan

Takdir secara bahasa berarti ketetapan. Secara istilah, takdir adalah ketentuan Allah SWT terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari, implementasi iman kepada takdir tercermin dalam sikap, berusaha (ikhtiar), bertawakal, bersabar, dan bersyukur. Allah SWT berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

Selain itu, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha sebagaimana terdapat di dalam surah An-Najm ayat 39 :

وَاَ نْ لَّيْسَ لِلْاِ نْسَا نِ اِلَّا مَا سَعٰى

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Hal ini menunjukkan bahwa takdir tidak meniadakan usaha manusia, melainkan berjalan bersamaan dengan ikhtiar. Manusia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang inginkan, dan setelah berusaha di akhiri dengan ikhtiar agar Allah SWT mengabulkan sesuatu apa yang kita inginkan.

Definisi Qadha dan Qadar

Para ulama menjelaskan Qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman azali (sebelum penciptaan). Sedangkan Qadar adalah realisasi atau perwujudan dari ketetapan tersebut dalam kehidupan nyata. Di dalam hadist Nabi yang berbunyi :

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim). 

Namun demikian, manusia tetap memiliki kehendak dalam bertindak, sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam surah Al- Kahfi ayat 29, dari potongan ayat tersebut: 

فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

“Barang siapa yang menghendaki, maka hendaklah ia beriman; dan barang siapa yang menghendaki, maka hendaklah ia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Ini menunjukkan adanya keseimbangan antara ilmu Allah yang sempurna dan kebebasan memilih manusia. Manusia dibebaskan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, dan Allah SWT sudah tau apa yang akan di pilih oleh seorang hamba-Nya jauh sebelum lahir ke dunia. 

Analogi antara Guru dan Murid

Untuk memahami hubungan antara ilmu Allah dan pilihan manusia, dapat digunakan analogi seorang guru. Seorang guru yang berpengalaman dapat memperkirakan murid mana yang akan lulus dan tidak, berdasarkan kedisiplinan dan usaha mereka. Namun, pengetahuan guru tersebut tidak menyebabkan kegagalan murid. Yang menyebabkan kegagalan adalah pilihan murid itu sendiri, seperti malas belajar atau tidak mengerjakan tugas.

Demikian pula Allah SWT. Pengetahuan Allah tidak memaksa manusia, tetapi hanya mengetahui hasil dari pilihan yang akan diambil manusia. Sebagaimana Allah berfirman:

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ 

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan).” (QS. Al-Balad: 10)

Dan suatu kasus yang sering dianggap tidak adil adalah orang saleh yang rajin beribadah namun wafat dalam keadaan maksiat, dan orang yang penuh dosa tetapi bertaubat sebelum wafat. Dalam Islam, yang dinilai adalah akhir kehidupan (husnul khatimah atau su’ul khatimah). Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)

Namun, penting dipahami bahwa orang saleh yang tergelincir di akhir hayat tidak otomatis masuk neraka selamanya. Orang berdosa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh diampuni oleh Allah karena rahmat Alah itu sangat luas melebihi dosa dosa hamba kepada-Nya. Maka janganlah berputus asa untuk bertaubat kepad Allah, perbanyak istighfar, dan tingkatkan amal sholeh. Hal itu dijelaskan juga di dalam Al-Qur’an surah Az-zumar ayat 53 :

قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّه هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menzalimi ketika menjatuhkan sanksi kepada seseorang, walaupun sebesar zarrah yakni sesuatu yang terkecil dan teringan, dan demikian pula jika ada kebajikan, walaupun kebajikan itu hanya sekecil zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan kebajikannya itu dan memberikan pahala yang besar dengan berlipat ganda dari sisi-Nya. Hal itu terdapat di dalam surah An-Nisa ayat 40 :

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ ۚ وَاِ نْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا

“Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa: 40)

Dengan demikian, keadilan Allah tidak dapat diukur hanya dari satu peristiwa, melainkan dari keseluruhan kehidupan dan rahmat-Nya yang luas. Memang benar bahwa setiap manusia telah ditetapkan jalan hidupnya oleh Allah SWT, termasuk ajal, rezeki, dan peristiwa yang akan dialami. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٍّ أَوْ سَعِيدٍ

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (setetes mani), kemudian berubah menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu juga, kemudian berubah menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh ke dalamnya dan ia diperintahkan untuk mencatat empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia celaka atau bahagia”. (HR. Bukhari dan Muslim) . 

Namun, manusia tetap diberi ruang untuk memilih sesuai dengan keinginannya masing masing. Hal ini di jelaskan di dalam Al Quran surah Ar-Ra’d ayat 11 dengan potongan ayatnya :

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَه ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِه مِنْ وَّا لٍ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ini menegaskan bahwa takdir tidak menghapus tanggung jawab manusia atas pilihannya. Dan ketahuilah tidak semua keinginan manusia dikabulkan karena Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Al-Baqarah ayat 216 dengan potongan ayatnya :

وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: dimungkinkan doanya akan segera dikabulkan di dunia, dimungkinkan Allah akan menyimpannya (sebagai pahala) di akhirat, atau dimungkinkan Allah akan memalingkan (menghindarkannya) dari keburukan yang sepadan dengan doa tersebut.” (HR. Ahmad). 

Hal Ini menunjukkan bahwa penolakan doa bukanlah ketidakadilan, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Jadi keadilan Allah SWT terletak pada keseimbangan antara ilmu-Nya yang sempurna, kebebasan manusia dalam memilih, serta balasan yang sesuai dengan usaha dan niat. Allah tidak memaksa manusia untuk berbuat dosa atau taat, tetapi manusia sendirilah yang memilih jalannya. Pengetahuan Allah tentang masa depan tidak berarti memaksa kejadian tersebut terjadi.

Dengan demikian: ibadah bukan sia-sia, amal saleh tidak akan disia-siakan, dan keadilan Allah SWT terletak pada keharmonisan antara kemahatahuan-Nya yang mutlak dengan kebebasan manusia untuk memilih (ikhtiar). Meskipun Allah telah menuliskan takdir di Lauhul Mahfuzh jauh sebelum alam semesta tercipta, pengetahuan tersebut bukanlah bentuk paksaan, melainkan gambaran atas pilihan sadar yang akan diambil manusia di masa depan.

Ibarat seorang guru yang mengetahui hasil akhir muridnya berdasarkan kedisiplinan mereka, Allah memberikan instrumen berupa akal dan wahyu agar manusia bertanggung jawab penuh atas jalan hidup yang mereka tempuh, sehingga ibadah dan amal saleh menjadi bukti nyata dari kejujuran iman seseorang. Lebih dari itu, keadilan Ilahi juga mewujud dalam bentuk rahmat dan kebijaksanaan yang melampaui logika terbatas manusia. Allah menilai hamba-Nya bukan hanya dari tampilan lahiriah, melainkan dari ketulusan hati dan akhir perjuangannya (husnul khatimah), di mana setiap kebaikan sekecil apa pun akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Ketetapan rezeki, ajal, maupun doa yang belum dikabulkan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan wujud kasih sayang Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, memastikan bahwa setiap ketetapan-Nya selalu berjalan beriringan dengan hikmah yang mendalam.

Penulis: Haidir Saputra (Mahasiswa Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait