Benarkah Tasawuf Adalah Puncak Iman?

Benarkah Tasawuf Adalah Puncak Iman?

Smallest Font
Largest Font

Tasawuf sering dipahami sebagai jalan menuju kesempurnaan spiritual, namun tidak terdapat dalil dalam Al-Qur’an maupun hadis yang menyebutkan bahwa ajaran tasawuf merupakan puncak keimanan kepada Allah.

Secara hakikat, ilmu tasawuf berupaya mengajarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui tahapan takhalliy (mengosongkan diri dari sifat tercela), tahalliy (menghias diri dengan sifat terpuji), hingga tajalliy (menghayati kehadiran Ilahi). Proses ini menunjukkan bahwa tasawuf lebih menekankan aspek olah kerohanian sebagai upaya mendidik jiwa agar menjadi bersih dan tenang dalam hubungan dengan Sang Khalik.

Namun, iman dalam pengertian Al-Qur’an mencakup dimensi yang lebih luas. Iman tidak hanya berhenti pada kesadaran rohaniah, tetapi juga diwujudkan dalam amal perbuatan nyata. Al-Qur’an dalam berbagai ayatnya, seperti dalam surat Al-Anfal ayat 2, As-Sajdah ayat 15–18, dan At-Taubah ayat 71, menunjukkan bahwa keimanan sejati terwujud melalui keseimbangan antara keyakinan dalam hati dan amal yang lahir dari keimanan itu. Nabi Muhammad SAW pun menegaskan hal ini dalam sejumlah hadis yang menjelaskan bahwa iman harus disertai tindakan, bukan hanya cita-cita atau renungan hati semata.

Beberapa hadis menunjukkan bahwa keimanan sejati harus membuahkan amal saleh dan akhlak mulia. Nabi saw. bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anak, orang tua, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari). 

Dalam hadis lain, beliau menegaskan bahwa iman bukan sekadar angan-angan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal. Bahkan, beliau menyebut bahwa orang beriman bukanlah yang suka mencela, melaknat, atau berkata kotor. Semua ini menunjukkan bahwa iman yang sejati selalu terwujud dalam perilaku dan tindakan yang nyata dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, sukar untuk membenarkan pandangan bahwa tasawuf merupakan puncak iman. Tasawuf yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah tentu memiliki nilai positif selama tetap terikat dengan akhlak mulia dan keyakinan yang benar. 

Namun, jika ajaran tasawuf dipahami secara berlebihan atau keluar dari landasan wahyu, maka justru dapat menyimpang dari inti ajaran Islam. Islam mengajarkan keseimbangan, sebagaimana prinsip laa ifraath wa laa tafriith (tidak berlebih-lebihan dan tidak mengurangi) sehingga iman dan amal tetap berjalan seiring secara harmonis.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah mengambil posisi yang tegas dan rasional. Gerakan ini tidak mendasarkan pengamalan agama pada ajaran-ajaran thariqah tertentu seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, atau Tijaniyah, tetapi mengajak umat untuk beramal sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Muhammadiyah mendorong pengkajian terus-menerus terhadap pemahaman dan praktik keagamaan agar senantiasa mendekati kesempurnaan iman dan amal saleh. Keimanan tidaklah berhenti pada rasa, tetapi menjelma dalam kerja, akhlak, dan pengabdian nyata bagi kemaslahatan umat. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 13–14.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait