Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy dan Dekat kepada Hamba-Nya: Mengharmoniskan Dua Sifat Ilahiyah
Penulis: Yayan Suryana*
Dalam diskursus keislaman, terutama saat membahas sifat-sifat Allah, sering kali muncul pertanyaan yang tampaknya sederhana namun menyimpan perdebatan panjang. Salah satunya adalah tentang di mana keberadaan Allah. Ada sebagian muballigh yang menyatakan bahwa Allah tidak berada di atas, dengan merujuk pada QS. Qaf ayat 16 yang menyebutkan bahwa Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Di sisi lain, banyak umat Islam yang meyakini bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy, sebagaimana disebutkan berulang dalam Al-Qur’an.
Tulisan ini bersumber dari Buku Tanya Jawab Agama Jilid 7 halaman 160–162, yang mencoba mengurai kebingungan tersebut dengan pendekatan yang moderat dan berdasar. Dalam penjelasan buku tersebut, disebutkan bahwa ayat-ayat tentang Allah bersemayam di atas ‘Arsy terdapat dalam banyak tempat di Al-Qur’an, antara lain dalam QS. Al-A'raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Thaha: 5, Al-Furqan: 59, dan beberapa lainnya. Sementara ayat-ayat yang menekankan kedekatan Allah dengan manusia, seperti QS. Qaf: 16, Al-Baqarah: 186, dan Hud: 61, tidak sedikit pula jumlahnya. Lalu, apakah keduanya bertentangan?
Ternyata, tidak ada pertentangan. Allah SWT dalam kemahakuasaan-Nya bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bentuk keagungan dan kekuasaan-Nya atas seluruh ciptaan, namun pada saat yang sama, Dia Maha Dekat dalam ilmu, pengawasan, dan pengabulan doa hamba-hamba-Nya. Allah dekat tanpa sekat, tanpa perantara, tanpa hijab; karena Dia Maha Mengetahui isi hati, niat, bisikan, dan permohonan yang belum terucap.
‘Arsy sendiri dipahami oleh para ulama sebagai singgasana kemuliaan dan pusat kendali urusan semesta. Namun, bagaimana bentuk fisiknya, ukurannya, dan lokasinya adalah bagian dari hal gaib yang tidak bisa dijangkau akal manusia. Maka, kewajiban kita hanyalah meyakininya sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, tanpa perlu berspekulasi atau membayangkannya secara fisik.
Adapun kedekatan Allah (al-qurb), adalah bukti kasih sayang-Nya kepada makhluk. Tidak perlu perantara untuk memohon kepada-Nya. Tidak ada birokrasi ilahiah. Doa langsung sampai, dan rahmat-Nya tak tertahan. Inilah makna dari “lebih dekat dari urat leher”—bukan kedekatan fisik, tetapi kedekatan dalam pengetahuan, perhatian, dan kepedulian ilahiyah.
Oleh karena itu, menjadi jelas bahwa memahami Allah bersemayam di atas ‘Arsy dan sekaligus dekat dengan makhluk-Nya bukanlah kontradiksi, melainkan dua aspek kesempurnaan sifat-sifat Allah. Ketinggian-Nya menunjukkan keagungan, dan kedekatan-Nya menunjukkan kasih sayang. Dua-duanya wajib kita imani tanpa harus dibenturkan satu sama lain. Demikianlah ajaran Islam yang lurus dan seimbang.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM Daerah Istimewa Yogyakarta
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow