Merawat Kesehatan Ruhaniah Secara Islami

Merawat Kesehatan Ruhaniah Secara Islami

Smallest Font
Largest Font

Kesehatan ruhaniah atau mental menjadi fondasi penting dalam kehidupan manusia. Islam menekankan agar setiap individu tidak hanya menjaga jasad tetapi juga jiwa, melalui iman, takwa, dan akhlak yang mulia. 

Sebagaimana disebutkan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 3 halaman 218-220, kesehatan ruhaniah mencakup beberapa kriteria yang dapat menjadi pedoman hidup sehari-hari. Dengan memelihara aspek-aspek ini, seseorang akan mampu menjalani hidup lebih tenang, bahagia, dan bermanfaat bagi orang lain.

Pertama, tentang mental yang sehat adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan, termasuk yang tampak buruk sekalipun. Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam Surat al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

Kemudian, Surat an-Nisa’ ayat 19 mengingatkan bahwa sesuatu yang tidak disukai bisa jadi mengandung kebaikan. Sikap ini membantu seseorang tetap tenang dan tidak mudah goncang dalam menghadapi masalah.

Kedua adalah rasa puas terhadap hasil perjuangan sendiri. Mental yang sejahtera mendorong seseorang untuk selalu beramal dan bekerja dengan baik. Allah berfirman dalam Surat at-Taubah ayat 105: “Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang mukmin akan melihat pekerjaan itu dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan nyata, lalu diberitahukan apa yang telah kamu kerjakan”.

Demikian pula dalam Surat az-Zulzalah ayat 7-8, setiap amal sekecil apapun akan diperhitungkan. Dengan kesadaran ini, seseorang akan merasa puas dan bangga dengan hasil kerja kerasnya tanpa iri pada orang lain.

Ketiga, jiwa yang sehat adalah jiwa yang gemar memberi daripada meminta. Rasulullah SAW menegaskan dalam Surat al-Mudatsir ayat 6: “Janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Mental ini mendorong seseorang untuk berbuat baik secara ikhlas, tanpa mengharapkan pamrih, sehingga tercipta kebahagiaan batin dan hubungan sosial yang harmonis.

Keempat, jiwa yang sehat terbebas dari kecemasan berlebihan dan putus asa. Al-Qur’an menegaskan dalam Surat Yusuf ayat 87: “Sesungguhnya tiada putus asa dari rahmat Allah melainkan orang kafir”. Seseorang yang mampu menjaga ketenangan mental akan lebih optimis menghadapi hidup dan selalu percaya pada pertolongan Allah, sehingga tidak mudah terjebak dalam rasa takut atau gelisah.

Kriteria kelima hingga ketujuh menekankan pentingnya hubungan sosial dan evaluasi diri. Jiwa yang sehat suka menolong sesama (QS. al-Maidah: 2), mampu menjadikan kekecewaan sebagai pelajaran (QS. al-Hasyr: 18), serta menjadikan persaingan sebagai motivasi positif untuk kebaikan (QS. al-Maidah: 48). Dengan prinsip ini, seseorang mampu menjaga hubungan harmonis, meningkatkan kualitas diri, dan berlomba dalam hal-hal yang bermanfaat bagi umat.

Terakhir, jiwa yang sehat adalah jiwa yang penuh kasih sayang. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa kita bukan termasuk umat yang baik jika tidak memiliki kasih sayang terhadap anak kecil dan orang tua. Kasih sayang ini memperkuat ikatan sosial, menumbuhkan empati, dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat.

Wallahu a'lam bish-shawab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait