Peningkatan Iman dan Taqwa dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah
Penulis:Yayan Suryana*
Ajakan untuk meningkatkan iman dan taqwa sering terdengar dalam berbagai kesempatan, baik dalam khutbah, pengajian, maupun kegiatan keagamaan lainnya. Namun tidak sedikit umat Islam yang belum memahami secara jelas apa yang dimaksud dengan peningkatan iman dan taqwa serta bagaimana langkah-langkah nyata untuk mencapainya.
Tulisan ini berusaha menjelaskan makna dan cara peningkatan iman dan taqwa berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana dijelaskan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 10–12.
Secara bahasa, iman berarti tashdīq atau membenarkan. Dalam arti sempit, iman berarti membenarkan keberadaan Allah, kekuasaan-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, para malaikat, dan adanya hari kiamat.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisā’ ayat 136 yang menegaskan kewajiban untuk beriman secara menyeluruh kepada rukun iman tersebut. Barang siapa yang mengingkari satu saja di antaranya, maka ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Pengertian ini menjadi fondasi awal dalam memahami iman secara utuh.
Namun iman tidak hanya dipahami sebagai pengakuan dalam hati, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pengamalan. Dalam pengertian yang lebih luas, iman menuntut implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Surat Al-Ḥujurāt ayat 15 menyebutkan bahwa orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang tidak ragu-ragu dalam keimanan dan berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Jadi, peningkatan iman berarti meningkatkan keyakinan serta kesungguhan dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya.
Lebih jauh, hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah menyebut bahwa iman terdiri dari 69 atau 70 cabang. Cabang-cabang ini mencakup seluruh aspek ajaran Islam mulai dari akidah, syariat (hukum-hukum), hingga akhlak mulia. Oleh karena itu, meningkatkan iman berarti memperkuat seluruh aspek kehidupan keislaman kita, mulai dari memperdalam ilmu, memperbaiki ibadah, hingga meningkatkan kualitas akhlak dan hubungan sosial kita.
Adapun taqwa dalam Al-Qur’an dipahami sebagai upaya dan kemampuan seorang mukmin dalam menjaga diri dari segala bentuk godaan dan jebakan dunia yang dapat menjauhkan dari keridaan Allah. Surat Ali ‘Imrān ayat 14 menggambarkan bagaimana kecintaan kepada kenikmatan dunia seperti harta, anak, dan kemewahan bisa menjerumuskan manusia jika tidak disikapi dengan taqwa. Sebaliknya, Allah menawarkan kenikmatan yang lebih baik dan abadi, yaitu surga, bagi orang-orang yang bertaqwa (QS Ali 'Imrān: 15).
Kualifikasi orang bertaqwa dijelaskan dalam ayat-ayat lanjutan (QS Ali ‘Imrān: 16–17) dan juga dalam ayat-ayat lain seperti QS Al-Baqarah: 2 dan QS Ali ‘Imrān: 134. Mereka adalah orang yang beriman, sabar, benar dalam ucapan dan tindakan, tekun beribadah, gemar berinfaq, rajin memohon ampunan di waktu malam, mampu menahan amarah, dan pemaaf terhadap sesama. Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan juga kemampuan aktual untuk menjalankan kehidupan dengan penuh kesadaran spiritual dan sosial.
Dengan demikian, ajakan untuk meningkatkan iman dan taqwa bukanlah sekadar seruan retoris, melainkan panggilan konkret untuk memperbaiki diri secara menyeluruh. Meningkatkan iman berarti memperdalam ilmu dan keyakinan serta konsisten dalam ibadah dan amal saleh. Sedangkan meningkatkan taqwa berarti menata hidup agar selaras dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, menguatkan kontrol diri, serta memperbanyak amal yang bermanfaat bagi sesama. Inilah jalan menuju kualitas hidup yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi di sisi Allah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY.
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow