Membaca Yasin untuk Orang Sakit: Antara Tradisi Populer dan Tuntunan Hadis Sahih

Membaca Yasin untuk Orang Sakit: Antara Tradisi Populer dan Tuntunan Hadis Sahih

Smallest Font
Largest Font

Di tengah masyarakat, membacakan Surat Yasin kepada orang yang sedang sakit, terutama anggota keluarga yang tak kunjung sembuh, sering dianggap sebagai amalan yang dianjurkan. Praktik ini dilakukan dengan harapan mempercepat kesembuhan atau setidaknya memberi ketenangan batin bagi yang sakit dan keluarganya. 

Namun, dalam perspektif keilmuan Islam, sebuah amalan seharusnya tidak hanya didasarkan pada kebiasaan, melainkan perlu ditimbang dengan dalil yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pendapat yang membolehkan atau menganjurkan pembacaan Surat Yasin bagi orang sakit biasanya merujuk pada hadis Nabi saw.: “Iqra’ū ‘alā mautākum Yāsīn” (Bacakanlah Surah Yasin kepada orang-orang yang menjelang wafat). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari Ma‘qal bin Yasar, serta dinilai hasan oleh As-Suyuthi. 

Sebagian ulama hadis mempersoalkan kekuatan hadis tersebut, terutama ketika dijadikan dasar hukum untuk bacaan Yasin bagi orang sakit secara umum, bukan khusus dalam kondisi sakaratul maut.

Kritik terhadap hadis tersebut cukup serius. Para ahli hadis seperti Ibnu Qaththan menunjukkan adanya cacat sanad berupa idl-thirab (kerancuan) serta keberadaan rawi yang tidak dikenal. Bahkan, Ad-Daruquthni menilai hadis ini bermasalah baik dari sisi sanad maupun matannya, sehingga tidak dapat dinilai sahih. 

Atas dasar ini, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa tuntunan utama bagi orang yang sedang menghadapi kematian bukanlah dibacakan Surat Yasin, melainkan dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid, sebagaimana hadis sahih riwayat Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi: “Laqqinū mautākum lā ilāha illallāh” (Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia dengan ucapan lā ilāha illallāh).

Adapun bagi seseorang yang sedang sakit namun belum berada dalam kondisi sakaratul maut, Islam memberikan tuntunan yang jelas dan sahih. Selain berikhtiar melalui pengobatan medis sebagai usaha lahiriah, Nabi saw. mengajarkan doa dan amalan yang dapat dilakukan sendiri oleh orang yang sakit. 

Di antaranya adalah meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit, membaca basmalah tiga kali, lalu membaca doa perlindungan kepada Allah sebanyak tujuh kali, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i dari Utsman bin Abi Al-‘Ash. Tuntunan ini menunjukkan keseimbangan Islam antara usaha spiritual dan ikhtiar rasional.

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أَحَاذِرُ (اخرجه احمد ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه والنسائي).

Artinya: (Sabda Nabi) "Letakkan tanganmu pada bagian badanmu yang merasa sakit dan berdoalah dengan membaca basmalah tiga kali dan tujuh kali ucapan ta'awwudz yang berarti: Aku berlindung pada Allab demi kekuasaan-Nya dari kejabatan (penyakit) yang kuderita dan kukhawatirkan."

Selain itu, ketika menjenguk orang sakit, Nabi saw. juga mencontohkan doa khusus yang dipanjatkan untuk kesembuhan orang lain. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a., Rasulullah saw. berdoa dengan memohon kepada Allah agar menghilangkan penyakit dan memberikan kesembuhan yang sempurna.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّانِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِ رُسَقَمًا.

Artinya: "Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhan-Mu. Penyembuhan yang tidak mendatangkan penyakit lagi."

Doa-doa inilah yang memiliki dasar kuat dan sahih untuk diamalkan. Penjelasan lengkap mengenai persoalan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 160–161, yang menegaskan pentingnya membangun praktik keagamaan di atas dalil yang kokoh, bukan sekadar tradisi yang belum tentu memiliki landasan yang kuat.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait