Iman yang Bisa Memudar dan Jalan Memperbaruinya

Iman yang Bisa Memudar dan Jalan Memperbaruinya

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan tentang apakah iman dapat hilang dan bagaimana cara memperbaruinya merupakan persoalan mendasar dalam kehidupan seorang Muslim. Iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis, ia bisa menguat, melemah, bahkan hilang sama sekali. 

Dalam konteks ini, penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa menjaga dan memperbarui iman adalah bagian dari tanggung jawab spiritual yang tidak boleh diabaikan. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 3 halaman 6–7, yang memberikan panduan komprehensif terkait dinamika iman dalam kehidupan manusia.

Iman dapat hilang apabila seseorang murtad, yakni keluar dari keyakinan Islam. Sementara itu, iman juga dapat melemah apabila tidak dibina dengan baik. Kelemahan iman sering kali disebabkan oleh kurangnya kualitas dan kuantitas ibadah.

Pembinaan iman menjadi suatu keniscayaan yang harus dilakukan secara terus-menerus. Ibadah yang dilakukan dengan baik dan penuh kesadaran akan menjaga keutuhan iman serta melahirkan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Swt. menegaskan pentingnya ibadah sebagai sarana pembinaan iman dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21). 

Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama ibadah adalah membentuk manusia yang bertakwa, yakni mereka yang mampu menjaga diri dari segala bentuk penyimpangan dan kemaksiatan.

Kelemahan iman yang tidak segera diatasi akan berdampak serius pada perilaku seseorang. Hati yang lemah dalam ibadah akan mudah tergelincir pada perbuatan tercela, bahkan dapat menjerumuskan pada maksiat yang lebih besar. Ketika maksiat menjadi kebiasaan, hati nurani akan tertutup dan kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran. Inilah kondisi berbahaya yang mencerminkan rapuhnya iman dalam diri seseorang.

Rasulullah Saw. memberikan peringatan keras terkait kondisi ini melalui hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seorang peminum khamar meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidaklah seorang pencuri mencuri dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Hadis ini menunjukkan bahwa kemaksiatan besar merupakan indikator melemahnya iman, bahkan menjauhkan seseorang dari kesempurnaan iman.

Lebih jauh, Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa iman dapat menjadi usang sebagaimana pakaian yang lapuk. 

Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya iman itu dapat usang dalam diri salah seorang di antara kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam hati kalian.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Hakim)

Hadis ini memberikan kesadaran bahwa iman memerlukan perawatan dan pembaruan secara terus-menerus.

Adapun cara memperbarui iman telah dituntunkan oleh Nabi Saw. melalui sabdanya:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya: “Perbaruilah iman kalian.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kami memperbarui iman kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan laa ilaaha illallah”. (HR. Ahmad).

Namun demikian, pembaruan iman tidak cukup hanya dengan lisan, melainkan harus disertai keyakinan yang mendalam dalam hati dan diwujudkan dalam amal perbuatan yang baik dan benar.

Dengan demikian, menjaga dan memperbarui iman merupakan proses berkelanjutan yang menuntut kesungguhan dalam ibadah, dzikir, dan amal saleh. Iman yang terawat akan melahirkan pribadi yang kuat, istiqamah, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan penuh keteguhan.

Sebaliknya, iman yang diabaikan akan mudah melemah dan membuka jalan bagi berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk senantiasa memperbarui imannya agar tetap hidup dan bercahaya dalam hati.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait