Wasilah: Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah, Bukan Melalui Perantara Makhluk
Penulis: Yayan Suryana*
Istilah wasilah kerap menimbulkan berbagai pemahaman di tengah umat. Padahal, Al-Qur’an secara tegas menyebutkan perintah untuk mencari wasilah kepada Allah, sebagaimana dalam surat al-Maidah ayat 35. Dalam ayat itu disebutkan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu mendapat keberuntungan." Perintah ini menjadi dasar bahwa mendekatkan diri kepada Allah merupakan sebuah kewajiban yang harus ditempuh melalui cara yang benar.
Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 halaman 15–18 dijelaskan bahwa para mufassir berbeda pandangan dalam menafsirkan makna wasilah. Ada yang mengartikannya sebagai "derajat paling tinggi di surga", berdasarkan penjelasan Nabi ketika ditanya tentang wasilah.
Ini sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Departemen Agama Jilid II halaman 417 yang mengutip riwayat Ahmad dan Abu Hurairah. Sementara itu, mayoritas mufassir seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Wail, al-Hasan, Zaid, Atha', dan ats-Tsauri, mengartikan wasilah sebagai pendekatan diri atau taqarrub kepada Allah.
Penjelasan lebih lanjut juga dikemukakan dalam Kitab Masalah Lima keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, bahwa taqarrub kepada Allah adalah ibadah yang diwujudkan melalui ketaatan pada perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan hal-hal yang diperbolehkan.
Dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan bahwa wasilah adalah segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridha-Nya. Maka, segala bentuk pendekatan yang dilakukan, harus sesuai dengan yang dituntunkan Allah dan Rasul-Nya.
Dalam kaitan ini, surat al-Isra ayat 57 memberikan kritik tajam terhadap mereka yang menyembah selain Allah dengan alasan ingin mendekatkan diri melalui perantara makhluk. Padahal, mereka yang dijadikan perantara itu sendiri sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah.
Artinya, mendekatkan diri kepada Allah tidak dapat dilakukan dengan menjadikan makhluk sebagai perantara ibadah. Yang dituntunkan adalah mendekat melalui ibadah yang benar, seperti shalat dan sabar, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 45.
Lebih lanjut, hadits riwayat Abu Hurairah yang termuat dalam Shahih Bukhari menyebutkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya dengan menjalankan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah. Namun, penting untuk dicatat bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa wali atau kekasih Allah dapat dijadikan wasilah. Sebab, seperti ditegaskan dalam surat al-Isra ayat 57, bahkan wali Allah pun tetap memerlukan pendekatan langsung kepada Allah melalui ibadah.
Maka, jalan mendekatkan diri yang benar adalah dengan menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, bukan dengan menjadikan makhluk sebagai sarana penghubung.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow