Memahami Rahman dan Rahim Allah di Tengah Derita Kehidupan
Pertanyaan tentang makna sifat Rahman dan Rahim Allah sering muncul ketika manusia berhadapan dengan realitas penderitaan, seperti anak kecil yang sakit berat, cacat sejak lahir, atau mengalami musibah yang tampak tidak adil.
Sekilas, kondisi semacam ini kerap dipahami sebagai siksaan Tuhan. Padahal, cara pandang tersebut lahir dari keterbatasan manusia dalam membaca kehendak dan kebijaksanaan Allah secara utuh. Dalam perspektif keimanan, penderitaan tidak selalu identik dengan murka, sebagaimana kenikmatan juga tidak selalu bermakna kasih sayang dalam arti sederhana.
Al-Qur’an menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dan manusia bukanlah perbuatan sia-sia atau tanpa tujuan. Allah menciptakan segalanya dengan iradah dan qudrah-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Anbiya ayat 16.
Bahwa manusia diciptakan untuk beribadah dan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Adz-Dzariyat dan Al-Mukminun.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Adz-Dhariyat: 56]
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Artinya: "Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? " [QS. Al-Muʾminūn: 115]
Kesadaran ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang berkewajiban berusaha, berbuat baik sesuai kemampuannya, serta tunduk dan patuh kepada Allah dengan penuh pengharapan.
Sifat Rahman dan Rahim Allah tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan seluruh sifat kesempurnaan-Nya. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, sekaligus Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hasyr ayat 22–23. Kehidupan dan kematian, kesehatan dan penyakit, kelapangan dan kesempitan, semuanya merupakan bentuk ujian. Yang dinilai oleh Allah bukanlah kondisi fisik semata, melainkan sikap batin manusia: kesabaran, keridaan, dan ketundukan hati dalam menerima ketentuan-Nya.
Apa yang dialami manusia pada hakikatnya merupakan manifestasi kehendak Allah yang bisa bermakna rahmat sekaligus peringatan. Ada kenikmatan yang justru menjerumuskan manusia dalam kesengsaraan, dan sebaliknya ada penderitaan yang menjadi jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan sejati.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa semua keadaan tersebut adalah ujian, sebagaimana tergambar dalam Surah Al-Fajr ayat 15–16. Karena itu, sikap yang dituntut dari manusia adalah mensyukuri nikmat dan menjadikan kesulitan sebagai sarana introspeksi serta perbaikan diri.
Dalam kerangka inilah tawakal harus dipahami, bukan sebagai sikap pasrah tanpa usaha, melainkan ikhtiar sungguh-sungguh yang disertai penyerahan diri kepada Allah. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesabaran atas ujian, termasuk kehilangan penglihatan, diganjar dengan surga, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Bahkan penyakit dan musibah dapat menjadi pintu kemajuan ilmu dan kemaslahatan umat manusia secara luas. Semua itu menunjukkan bahwa Rahman dan Rahim Allah bekerja dalam kebijaksanaan-Nya yang melampaui jangkauan akal manusia, demi kebaikan dunia dan akhirat. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 1 halaman 1–2.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow