'Ilmu Gaib' Bukan Jalan Spiritual tapi Lorong Menyesatkan Aqidah

'Ilmu Gaib' Bukan Jalan Spiritual tapi Lorong Menyesatkan Aqidah

Smallest Font
Largest Font

Kendati zaman sudah maju dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, minat umat untuk mempelajari bahkan menawarkan ajaran ilmu batin atau ilmu gaib ternyata tidak pernah hilang. Ada yang menjanjikan kekebalan dari serangan, mampu membaca pikiran orang lain, atau menggagalkan niat jahat seseorang hanya dengan mantra tertentu. 

Tidak jarang, praktik seperti ini disertai biaya tinggi dengan alasan sebagai “syarat ilmu”. Padahal, di balik daya tarik tersebut tersimpan bahaya besar yang dapat merusak kemurnian akidah seorang Muslim. Berhati-hati atau bahkan menolak tawaran seperti itu adalah sikap tepat, sebab Islam mengajarkan bahwa segala kekuatan berasal semata-mata dari Allah, bukan dari bacaan atau ajaran yang tidak jelas sumbernya.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan nyata, sebagaimana firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا  إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 22).

Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui atau menguasai hal-hal gaib tanpa izin Allah. Ilmu manusia hanya terbatas pada apa yang diajarkan oleh Allah melalui wahyu, akal, dan pengalaman empiris sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-‘Alaq ayat 4–5: “Yang telah mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Sepanjang sejarah kenabian, memang terdapat sejumlah nabi yang diberi kemampuan istimewa oleh Allah, seperti Nabi Dawud yang mampu melunakkan besi dan Nabi Sulaiman yang diberi kemampuan berbicara dengan hewan serta menguasai angin dan jin. Semua itu bukan hasil belajar dari manusia atau guru spiritual tertentu, melainkan anugerah langsung dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 65. 

Maka, kemampuan tersebut bersifat mu‘jizat, bukan sesuatu yang bisa dipelajari secara sistematis. Ketika manusia mengklaim dapat mempelajari “ilmu gaib” dengan cara tertentu, sesungguhnya mereka telah melangkah di luar batas pengetahuan manusia yang diakui oleh wahyu dan akal ilmiah.

Dalam konteks kekebalan tubuh atau kemampuan mengelak dari bahaya yang sering dikaitkan dengan ilmu batin, Islam tidak mengenal ajaran seperti itu. Nabi Muhammad saw. sendiri mengalami berbagai kesulitan dan luka saat berdakwah, termasuk saat giginya patah karena lemparan batu. Jika ilmu kekebalan semacam itu benar-benar ada dan dapat dipelajari, tentu Nabi adalah orang pertama yang akan mengamalkannya. 

Namun faktanya, beliau hanya mengandalkan perlindungan Allah melalui doa dan tawakal, bukan melalui ritual tertentu. Pernah memang Nabi dilindungi oleh Allah dari serangan musuh hingga musuh itu menjadi gentar, namun hal itu terjadi karena kehendak Allah, bukan karena beliau memiliki “ilmu gaib” tertentu.

Dari sudut pandang keilmuan, “ilmu kekebalan” atau “ilmu ghaib” semacam itu juga belum dapat dibuktikan secara sistematis. Tidak ada metode ilmiah yang mampu menjelaskan mekanisme dan kebenarannya. Oleh sebab itu, sulit dikatakan bahwa hal tersebut termasuk dalam kategori ilmu pengetahuan duniawi (umūr al-dunyā). 

Sementara dari sisi agama (umūr al-dīn), Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkannya sebagai bagian dari tuntunan syariat. Belajar hal semacam itu justru berisiko menyeret seseorang pada kemusyrikan tersembunyi (syirik khafī), yakni mempercayai bahwa kekuatan datang dari selain Allah, seperti dari mantra, jimat, atau bacaan yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, sikap yang paling selamat bagi seorang Muslim adalah menjauhi segala bentuk ajaran yang mengatasnamakan “ilmu batin” atau “ilmu gaib” yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. Keselamatan dan perlindungan sejati hanya dapat diperoleh melalui doa, zikir, dan keteguhan iman kepada Allah. Tidak ada bacaan khusus yang menjadikan seseorang kebal, tetapi ada banyak doa yang diajarkan Nabi untuk memohon perlindungan dari bahaya. 

Dengan demikian, menjaga kemurnian akidah jauh lebih utama daripada mengejar kekuatan yang tidak jelas asal-usulnya. Penjelasan lebih lengkap mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 191–193, yang menegaskan bahwa meninggalkan “ilmu gaib” seperti itu adalah pilihan paling benar dan paling selamat dalam beragama.

Wallahu a'lam bish-shawaab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait