Berdoa Langsung kepada Allah: Menjaga Kemurnian Tauhid
Pertanyaan mengenai bolehnya berdoa dengan menyebut kemuliaan Rasulullah sebagai perantara, seperti ungkapan “Ya Allah, berkat kemuliaan Rasulullah selamatkanlah aku dan murahkanlah rezekiku”, merupakan persoalan penting dalam menjaga kemurnian akidah.
Dalam ajaran Islam, doa adalah bentuk ibadah yang paling mendasar dan mencerminkan hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya. Karena itu, prinsip utama dalam berdoa adalah memohon secara langsung kepada Allah Subḥānahu wa ta‘ālā. tanpa perantara yang dapat mengaburkan makna tauhid.
Allah Subḥānahu wa ta‘ālā secara tegas memerintahkan agar manusia berdoa langsung kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin: 60).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah membuka akses seluas-luasnya bagi setiap hamba untuk berdoa tanpa perantara. Prinsip ini juga ditegaskan dalam beberapa ayat lain, seperti dalam Surah Al-A’raf ayat 28, 55, dan 56, yang keseluruhannya mengarahkan agar doa ditujukan hanya kepada Allah.
Dalam praktiknya, Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang bagaimana cara berdoa yang benar. Seorang Muslim diperbolehkan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam doanya, seperti memohon dengan menyebut ilmu, kekuasaan, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya.
Hal ini sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ, misalnya dalam doa istikharah yang menekankan permohonan kepada Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya. Cara ini menunjukkan pengagungan kepada Allah sekaligus menjaga kemurnian tauhid dalam berdoa.
Sebaliknya, berdoa dengan menyandarkan permohonan kepada kemuliaan makhluk, termasuk Rasulullah, tidak termasuk dalam tuntunan yang diajarkan. Meskipun Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah, namun dalam konteks doa, Islam menegaskan pentingnya menjaga hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan dalam akidah serta untuk menjaga kemurnian ibadah dari unsur-unsur yang tidak diajarkan.
Dengan demikian, berdoa hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan langsung ditujukan kepada Allah Subḥānahu wa ta‘ālā, disertai keyakinan bahwa hanya Dia yang Maha Mengabulkan. Menghadirkan kesadaran tauhid dalam setiap doa akan memperkuat keimanan dan menjadikan ibadah lebih bermakna.
Penjelasan ini dapat dibaca dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 3 halaman 8–9, sebagai panduan dalam memahami adab dan prinsip berdoa yang sesuai dengan ajaran Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow