Memperbuahkan Budi Pekerti: Jalan Dakwah Muhammadiyah untuk Keadaban

Memperbuahkan Budi Pekerti: Jalan Dakwah Muhammadiyah untuk Keadaban

Smallest Font
Largest Font

Oleh: Yayan Suryana*

Budi pekerti memiiki peranan penting dalam menegakan fondasi moral untuk membentuk karakter individu dan masyarakat. Kata “budi” merujuk pada kemampuan jiwa yang terdiri dari akal, rasa, dan kehendak untuk menimbang nilai baik dan buruk. Sementara itu, “pekerti” menunjuk pada perwujudan sikap atau perilaku lahiriah dari hasil pertimbangan budi tersebut. Dengan demikian, budi pekerti adalah perpaduan nilai batin dan tindakan nyata yang menjadi cerminan kepribadian luhur seseorang. 

Dalam konteks dakwah Muhammadiyah, memperbuahkan budi pekerti berarti menumbuhkan nilai-nilai moral yang bersumber dari ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari umat, sebagai bagian dari proses pembangunan manusia paripurna.

Islam sendiri telah meletakkan akhlak atau budi pekerti sebagai tujuan utama dalam misi kerasulan Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah Saw. bersabda, bahwa sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sabda ini menegaskan bahwa misi kenabian bukan hanya membawa syariat atau hukum, melainkan juga untuk menanamkan dan menyempurnakan nilai-nilai moral di tengah umat manusia.

Al-Qur’an juga menyatakan seraya Allah memuji pribadi Rasulullah dengan firman-Nya, "Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa karakter Rasulullah adalah standar tertinggi dalam budi pekerti yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam.

Budi pekerti dalam pandangan Islam bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan manifestasi dari keimanan. Akhlak yang baik adalah buah dari hati yang bersih dan iman yang kokoh. Oleh sebab itu, membangun budi pekerti adalah bagian dari proses membangun spiritualitas dan kesalehan sosial. Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, ditegaskan bahwa warga Muhammadiyah hendaknya menampilkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun alam sekitar. Akhlak bukan hanya menjadi kewajiban personal, melainkan merupakan bagian dari dakwah bil hal yang mampu menyentuh hati masyarakat luas.

Tantangan Membangun Budi Pekerti

Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa keunggulan suatu bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, melainkan juga oleh kualitas akhlak rakyatnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki warga berintegritas, jujur, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Sebaliknya, keruntuhan peradaban seringkali bermula dari dekadensi moral. Dalam konteks ini, dakwah memperbuahkan budi pekerti menjadi langkah strategis Muhammadiyah untuk memperkuat bangunan moral masyarakat dan membangun peradaban Islam yang tercerahkan (civilized Islam).

Namun demikian, tantangan yang dihadapi dalam membangun budi pekerti saat ini sangat kompleks. Perkembangan teknologi digital yang pesat telah menciptakan ruang baru yang terbuka dan bebas nilai. Media sosial menjadi arena interaksi yang sering kali bebas dari etika, dan tidak jarang justru menjadi saluran penyebaran kebencian, hoaks, dan gaya hidup hedonistik. Hal ini memberikan dampak serius terhadap generasi muda yang sedang dalam proses pembentukan karakter. 

Di sisi lain, lemahnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama turut memperparah kondisi ini. Ketika agama hanya dimaknai sebagai simbol dan rutinitas formal tanpa penghayatan akhlak, maka nilai-nilai moral mudah tergeser oleh kepentingan duniawi.

Dalam konteks Indonesia, kondisi ini terlihat dari berbagai fenomena sosial seperti maraknya korupsi, kekerasan, perundungan, hingga degradasi tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis budi pekerti yang tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan hukum dan kebijakan formal. Dibutuhkan gerakan moral yang massif dan konsisten, yang menyentuh akar spiritual dan kultural masyarakat. 

Proses Penyadaran dan Pembudayaan Nilai Islam

Di sinilah pentingnya langkah ketiga dakwah Muhammadiyah yaitu “Memperbuahkan Budi Pekerti,” yang sejatinya merupakan proses penyadaran dan pembudayaan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pelopor dalam gerakan akhlak ini. Melalui institusi pendidikannya, Muhammadiyah harus memastikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi inti dari proses pembelajaran. Kurikulum yang integratif antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam perlu terus dikembangkan. Guru dan pendidik harus tampil sebagai teladan akhlak bagi peserta didik. Pendidikan karakter yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah menjadi jalan utama dalam memperbaiki kualitas budi pekerti umat.

Tidak hanya di sekolah, keluarga juga harus menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk akhlak anak. Muhammadiyah dapat mendorong penguatan keluarga Islami melalui program bimbingan keluarga, majelis taklim, dan pengajian yang menekankan pentingnya keteladanan dan komunikasi yang santun dalam rumah tangga. Upaya ini menjadi penting karena keluarga adalah tempat pertama di mana nilai budi pekerti diperkenalkan dan ditanamkan sejak dini.

Di tengah masyarakat, Muhammadiyah memiliki keunggulan melalui amal usaha seperti rumah sakit, lembaga sosial, dan program dakwah komunitas. Seluruh kegiatan tersebut harus diarahkan bukan hanya untuk pelayanan fisik, tetapi juga pembinaan moral. 

Dakwah bil hal yang dilakukan melalui pelayanan ini harus mencerminkan akhlak mulia seperti empati, kejujuran, kerja keras, dan kesetaraan. Dalam hal ini, budi pekerti menjadi identitas dan wajah dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat plural.

Selain itu, Muhammadiyah juga perlu mendorong peran media sebagai alat dakwah akhlak. Majalah, media daring, dan akun media sosial resmi Muhammadiyah harus menjadi saluran edukasi moral yang menyegarkan dan membangun. Di era digital ini, pengaruh media terhadap karakter generasi muda sangat besar. Maka, konten-konten yang inspiratif, edukatif, dan mengangkat nilai-nilai akhlak harus dikembangkan secara serius sebagai bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah.

Langkah ini juga sejalan dengan semangat Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad Saw. adalah sebagai rahmat. "Dan Kami tidak mengutus engkau [Muhammad], melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107). 

Rahmat itu terwujud dalam budi pekerti luhur yang menebar kasih sayang, keadilan, dan kemaslahatan. Ketika umat Islam menampilkan akhlak mulia, maka Islam akan menjadi agama yang ramah dan diterima oleh masyarakat luas.

Dengan demikian, memperbuahkan budi pekerti bukan hanya relevan, tetapi merupakan keniscayaan dalam perjuangan dakwah Muhammadiyah. Ia bukan sekadar respons atas krisis moral, tetapi juga merupakan strategi jangka panjang dalam membangun eksistensi umat Islam yang berkemajuan. 

Di tengah tantangan zaman yang kompleks, dakwah akhlak menjadi poros penting dalam menyatukan visi spiritual dan sosial umat. Ini adalah jalan Muhammadiyah untuk meneguhkan Islam sebagai agama yang membawa pencerahan dan solusi bagi umat manusia.

Melalui komitmen memperjuangkan budi pekerti, Muhammadiyah menegaskan identitasnya sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang tidak hanya mengurusi bentuk-bentuk formal keislaman, tetapi juga menyentuh inti terdalam dari ajaran Islam, yakni akhlak. Seperti yang diungkapkan dalam Risalah Islam Berkemajuan, dakwah Muhammadiyah harus menghadirkan Islam yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan. Salah satu bentuknya adalah dengan menampilkan akhlak mulia sebagai cerminan ajaran Islam yang hidup dan membumi.

Oleh karena itu, memperbuahkan budi pekerti adalah tugas mulia sekaligus tantangan besar. Tentu, dengan semangat dakwah yang konsisten, pendekatan yang sistematis, serta komitmen kolektif warga Muhammadiyah, langkah ini insya Allah akan menjadi kunci dalam membangun peradaban Islam yang berakar pada nilai dan bermuara pada kebaikan umat dan bangsa.***

*) Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait