Menjenguk Orang Sakit: Menguatkan Ukhuwah, Menebarkan Empati
Menjenguk orang sakit merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan Islam sekaligus wujud nyata kepedulian sosial di tengah masyarakat. Ibadah ini tidak hanya bermakna sebagai bentuk perhatian kepada sesama, tetapi juga menjadi bagian dari hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Rasulullah ﷺ menempatkan menjenguk orang sakit sebagai salah satu kewajiban moral yang memperkuat ikatan persaudaraan.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud disebutkan bahwa di antara hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah mengunjungi ketika sakit dan mengantarkan jenazah ketika meninggal dunia. Dengan demikian, menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual sekaligus kemanusiaan.
Keutamaan menjenguk orang sakit juga dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا نَادَ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ (رواه ابن ماجه)
Artinya: "Barangsiapa mengunjungi orang sakit, maka berserulah malaikat dari langit: Engkau telah berbuat baik, baik pula perjalananmu, dan telah disediakan bagimu sebuah tempat tinggal di surga." (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah menuju rumah orang yang sakit merupakan amal saleh yang mendapat penghargaan besar di sisi Allah Swt. Kehadiran seorang sahabat, kerabat, atau tetangga sering kali menjadi penyemangat bagi orang yang sedang menghadapi ujian kesehatan serta menghadirkan ketenangan bagi keluarganya.
Dalam praktiknya, menjenguk orang sakit sering kali diiringi dengan jamuan sederhana dari keluarga yang dikunjungi. Islam sendiri mengajarkan adab memuliakan tamu. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya.
Tradisi dliyafah atau penghormatan kepada tamu melalui penyediaan makanan dan minuman merupakan salah satu bentuk akhlak yang terpuji. Oleh karena itu, tamu yang datang menjenguk orang sakit tidak dilarang menerima jamuan tersebut secara wajar. Sikap itu justru dapat menjadi bentuk penghargaan atas ketulusan tuan rumah dan menumbuhkan rasa senang di hati mereka yang telah berusaha memuliakan tamunya.
Namun demikian, penerimaan jamuan tetap harus mempertimbangkan situasi dan kondisi keluarga yang sedang diuji. Apabila pasien berada dalam kondisi yang relatif stabil, menikmati hidangan secukupnya tidak menjadi persoalan. Sebaliknya, ketika orang yang sakit berada dalam kondisi kritis atau keluarga sedang berada dalam suasana duka yang mendalam, etika dan empati perlu lebih dikedepankan.
Pada keadaan seperti itu, kurang tepat apabila tamu lebih sibuk menikmati hidangan daripada memberikan dukungan moral kepada keluarga. Bahkan apabila pasien akhirnya meninggal dunia, sunnah yang lebih utama justru menganjurkan para tetangga atau kerabat untuk membawa makanan kepada keluarga yang berduka, karena mereka kemungkinan tidak memiliki kesempatan untuk menyiapkan kebutuhan tersebut.
Pandangan mengenai adab menerima jamuan ketika menjenguk orang sakit ini dijelaskan secara sistematis dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 4, halaman 33–34. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membimbing umat dalam membangun hubungan sosial yang penuh kasih sayang, empati, dan penghormatan terhadap sesama.
Menjenguk orang sakit hendaknya menjadi sarana menghadirkan penghiburan, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan kepedulian, sehingga setiap kunjungan benar-benar membawa keberkahan bagi orang yang dikunjungi maupun bagi mereka yang datang menjenguk.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow