Mengucapkan Salam di Tengah Perbedaan Agama
Penulis: Yayan Suryana*
Salam merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang mengandung doa, kedamaian, dan penghormatan kepada sesama. Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umat Islam untuk menyebarluaskan salam.
Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Salam ra., Rasulullah ﷺ bersabda agar manusia menyebarkan salam, memberi makan, menyambung silaturahmi, dan melaksanakan salat malam. Dengan demikian, salam bukan sekadar sapaan, melainkan bagian dari etika sosial seorang Muslim yang mencerminkan kedamaian dan persaudaraan.
Dalam hukum Islam, memulai salam kepada sesama Muslim hukumnya sunnah, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib. Prinsip ini antara lain didasarkan pada firman Allah Swt. dalam QS. An-Nisa' ayat 86: “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap etika saling menghormati. Salam menjadi salah satu bentuk penghormatan yang perlu dijaga, terutama dalam lingkungan pendidikan yang mempertemukan peserta didik dengan latar belakang agama yang beragam.
Persoalannya kemudian, bagaimana seorang Muslim menyampaikan salam ketika berada di dalam kelas atau ruangan yang di dalamnya terdapat orang Muslim dan non-Muslim? Petunjuk Nabi ﷺ memberikan ruang yang cukup luas. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash ra., Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa di antara amalan Islam yang baik adalah memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Redaksi hadis tersebut bersifat umum. Karena itu, dalam konteks kelas yang heterogen, salam dapat disampaikan kepada seluruh peserta didik tanpa harus memisahkan siapa yang Muslim dan siapa yang non-Muslim.
Dengan demikian, keberadaan siswa non-Muslim dalam sebuah kelas tidak menjadi alasan untuk menghilangkan salam sebagai identitas dan ajaran Islam. Seorang guru dapat mengucapkan “Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh” kepada seluruh siswa ketika memasuki kelas, kemudian dapat dilanjutkan dengan sapaan yang bersifat umum seperti “selamat pagi” atau “selamat belajar”. Cara demikian sekaligus menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat menjalankan ajaran agamanya secara baik tanpa kehilangan sikap hormat terhadap pemeluk agama lain. Demikian pula ketika meninggalkan kelas, salam dapat disampaikan sebagai doa dan ungkapan kedamaian kepada seluruh peserta didik.
Penjelasan mengenai persoalan salam dalam situasi seperti ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 4, halaman 38–40. Prinsip yang dapat ditarik ialah bahwa menjalankan syariat tidak harus berhadapan dengan sikap eksklusif terhadap sesama warga bangsa yang berbeda agama. Justru salam dapat menjadi ekspresi nilai Islam yang membawa kedamaian, penghormatan, dan keramahan.
Di ruang kelas yang majemuk, identitas keislaman tetap dapat ditampilkan dengan santun, sementara penghormatan terhadap perbedaan tetap dijaga. Inilah salah satu bentuk pengamalan Islam yang menghadirkan rahmat dalam kehidupan bersama.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow