Tabarukan Adalah dan Artinya dalam Islam

Tabarukan Adalah dan Artinya dalam Islam

Smallest Font
Largest Font

MEDIAMU.COM - Tabarukan (تَبَرُّك) dalam bahasa Arab berarti mencari keberkahan atau kebaikan melalui perantaraan sesuatu yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Praktik ini umumnya dilakukan oleh umat Islam untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, baik melalui ziarah ke tempat-tempat yang dianggap suci atau penggunaan benda-benda yang diyakini memiliki nilai keberkahan, seperti air zamzam atau tanah dari makam Nabi Muhammad SAW.

Tabarukan bukanlah bentuk penyekutuan terhadap Allah, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, praktik ini sah selama dilakukan dengan niat yang tulus dan tidak menjadikan benda atau tempat sebagai objek yang memiliki kekuatan sendiri. Tabarukan lebih pada usaha untuk menggapai keberkahan melalui perantaraan yang dianggap memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, seperti yang dilakukan dengan membaca doa atau berziarah.

Dalil yang menunjukkan kebolehan praktik tabarukan adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan

"Jika engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka lakukanlah dengan melakukan amalan yang baik dan dengan mengikuti sunahku" (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, tabarukan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam, asalkan sesuai dengan prinsip tauhid dan tidak menjadikan benda atau orang sebagai sesembahan.

Sejarah dan Asal-usul Tabarukan dalam Islam

Sejarah tabarukan dalam Islam berasal dari kebiasaan umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang sering kali mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai sarana yang dianggap memiliki keberkahan. Di kalangan para sahabat, tabarukan dilakukan dengan menghormati benda-benda yang pernah digunakan oleh Nabi, seperti pakaian atau rambut beliau. Mereka meyakini bahwa benda tersebut membawa keberkahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tabarukan semakin berkembang dalam tradisi Islam, terutama di kalangan komunitas Nahdlatul Ulama (NU), yang menjadikan praktik ini sebagai bagian dari budaya keagamaan mereka. Sebagai contoh, ziarah ke makam para wali atau ulama yang dianggap saleh sering kali dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dari Allah melalui perantaraan orang-orang yang telah berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam.

Dalil terkait tabarukan dalam Islam dapat ditemukan dalam hadits:

"Jika kalian tidak menemukan Rasulullah, maka ciumlah tangan orang yang ada di sekeliling kalian yang saleh, karena mereka adalah perantara yang baik." (HR. Bukhari).

Meskipun tabarukan dalam praktiknya mungkin berbeda-beda di setiap daerah, intinya adalah untuk mencari keberkahan dengan cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.


Tabarukan dalam Perspektif Ahlussunnah wal Jamaah

Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, tabarukan dipandang sebagai hal yang sah dilakukan selama tetap menjaga tauhid dan tidak melibatkan unsur syirik. Tabarukan hanya diperbolehkan jika niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bukan untuk mempercayai bahwa benda atau orang yang dijadikan perantara memiliki kekuatan sendiri. Menurut Ahlussunnah wal Jamaah, segala bentuk penghormatan atau penggunaan perantara dalam tabarukan harus tetap mengedepankan keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuatan mutlak.

Dalam konteks ini, tabarukan tidak hanya terbatas pada benda fisik, tetapi juga bisa dilakukan dengan perantaraan doa orang saleh atau amal shaleh. Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah mendorong umat Islam untuk terus menjaga niat yang benar dan menghindari keyakinan yang salah dalam praktik tabarukan.

Dalil yang mendasari pandangan ini adalah surat Al-Mumtahanah ayat 8:

"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama dan tidak mengusir kalian dari rumah kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil." (Al-Mumtahanah: 8).

Dalil ini menunjukkan bahwa tabarukan dilakukan dengan niat yang benar dan bukan untuk menyekutukan Allah SWT.

Contoh Praktik Tabarukan dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Ziarah ke Makam Wali

Ziarah kubur, terutama ke makam wali atau ulama yang saleh, adalah salah satu bentuk tabarukan yang sering dilakukan oleh umat Islam. Mereka meyakini bahwa berziarah ke makam orang-orang yang dianggap memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dapat membawa keberkahan. Selain itu, ziarah kubur juga dianggap sebagai sarana untuk mendoakan orang yang telah meninggal, serta sebagai pengingat agar kita terus beramal shaleh.

Dalil yang menunjukkan pentingnya ziarah kubur terdapat dalam hadits berikut:

"Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah karena itu dapat mengingatkan kalian akan kehidupan setelah mati." (HR. Muslim).

2. Membaca Doa di Tempat Suci

Membaca doa di tempat-tempat yang dianggap suci, seperti di sekitar Ka'bah, makam Nabi, atau di tempat-tempat yang telah lama dikenal memiliki nilai spiritual tinggi, adalah bentuk lain dari tabarukan. Umat Islam meyakini bahwa doa yang dibaca di tempat-tempat tersebut lebih mustajab dan membawa keberkahan.

Tabarukan dan Tawasul dalam Tradisi Islam

Tabarukan sering kali dipadukan dengan tawasul, yaitu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perantaraan amal saleh atau orang-orang yang dianggap memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya. Dalam hal ini, tawasul dan tabarukan memiliki kesamaan, yaitu keduanya bertujuan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Dalil yang mendasari tawasul dapat ditemukan dalam hadits:

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara Muhammad, Nabi yang penuh rahmat, dan dengan hak-hak yang ada pada-Nya." (HR. Bukhari).

Menjaga Keaslian Praktik Tabarukan

Pentingnya Niat yang Tulus

Niat yang tulus adalah aspek yang sangat penting dalam praktik tabarukan. Selama niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak menjadikan benda atau orang sebagai sesembahan, maka praktik tabarukan dapat diterima. Oleh karena itu, setiap umat Islam harus menjaga niatnya dengan tulus dan tidak terjebak dalam praktik yang dapat menyesatkan.

Menghindari Praktik yang Menyimpang

Dalam menjaga keaslian praktik tabarukan, umat Islam harus menghindari segala bentuk praktik yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam syirik atau penyekutuan terhadap Allah. Praktik yang menyimpang bisa berupa keyakinan bahwa benda atau orang yang dijadikan perantara memiliki kekuatan sendiri untuk memberi manfaat atau menghindarkan bahaya.

Kesimpulan

Tabarukan adalah sebuah praktik yang penting dalam tradisi spiritual Islam. Meskipun dapat berbeda-beda menurut daerah atau kelompok, esensinya adalah mencari keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Selama dilakukan dengan niat yang benar dan tanpa menyekutukan Allah, tabarukan dapat menjadi sarana untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Allah dan sesama umat Islam.

Kunjungi kami sekarang untuk membaca artikel-artikel berkualitas lainnya yang bisa memperkaya pengetahuan agama dan spiritual Anda.

Kunjungi mediamu.com dan temukan lebih banyak artikel menarik sekarang!

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait