Hubungan Anak dan Orang Tua dalam Islam: Ikatan Teologis dan Kewajiban Abadi

Hubungan Anak dan Orang Tua dalam Islam: Ikatan Teologis dan Kewajiban Abadi

Smallest Font
Largest Font

Hubungan anak dengan orang tua dalam Islam bukan sekadar ikatan biologis, emosional, atau sosial. Lebih dari itu, hubungan tersebut bersifat teologis, yakni ikatan normatif agama yang berhubungan langsung dengan perintah Allah dan konsekuensi ukhrawi. Karena itu, berbuat salah kepada orang tua hingga menyakiti hati mereka bukanlah perkara ringan, melainkan dosa besar yang dapat mengantarkan seseorang kepada celaka di akhirat kelak.

Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” (QS. Al-Isra’: 23).

Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban berbakti kepada orang tua diletakkan sejajar dengan kewajiban mentauhidkan Allah, menandakan betapa agungnya kedudukan orang tua dalam Islam.

Lebih jauh, dalam Surat Luqman ayat 14, Allah mengingatkan tentang beratnya perjuangan seorang ibu:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun...” (QS. Luqman: 14) 

Ayat ini tidak hanya menekankan kewajiban berbuat baik, tetapi juga menghadirkan argumen moral dan emosional, bahwa jasa orang tua, khususnya ibu, begitu besar sejak awal kehidupan anak.

Nabi saw. juga bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan hubungan anak dengan orang tua berimplikasi langsung pada hubungan dengan Allah.

Dari perspektif akal sehat, sudah selayaknya anak berbakti sepanjang hayat orang tua, baik saat mereka sehat maupun sakit, saat masih kuat maupun telah renta. Sebab, orang tua tidak pernah berhenti mencurahkan kasih sayang dan pengorbanan sejak anak dalam kandungan hingga dewasa. Maka, sudah sepantasnya anak pun tidak membatasi pengabdiannya hanya pada kondisi tertentu.

Bergaul dengan orang tua pun tidak cukup hanya dalam situasi menyenangkan. Justru saat mereka sakit, lemah, dan membutuhkan pelayanan, anak dipanggil untuk hadir, melayani, bahkan menuntun orang tua dalam segala hal yang diperlukan. Inilah wujud nyata dari ikatan teologis, bahwa birrul walidain (berbakti kepada orang tua) adalah kewajiban abadi hingga akhir hayat mereka.

Dengan demikian, berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan kewajiban suci. Islam menuntun kita untuk menempatkan orang tua di posisi yang mulia, mengabdi kepada mereka sepanjang hidup, dan tidak pernah merasa lelah melayani. Itulah jalan keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Wallahu a'lam bish-shawaab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait