Muharram dan Penanggalan Islam: Membaca Jejak Peradaban Hijriah

Muharram dan Penanggalan Islam: Membaca Jejak Peradaban Hijriah

Smallest Font
Largest Font

Bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian bulan dalam kalender Islam, melainkan simbol lahirnya sebuah peradaban. Tahun baru hijriah yang dimulai pada bulan Muharram mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekah ke Madinah, sebuah momentum transformasi besar dari fase dakwah yang penuh tekanan menuju fase pembangunan masyarakat dan peradaban Islam yang berkeadaban.

Secara historis, penetapan kalender Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Ketika administrasi pemerintahan Islam semakin berkembang, diperlukan sistem penanggalan yang baku.

Setelah melalui musyawarah para sahabat, hijrah Nabi dipilih sebagai titik awal kalender Islam karena dianggap sebagai peristiwa yang paling menentukan dalam perjalanan umat Islam. Meskipun hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, awal tahun ditetapkan pada Muharram karena bulan tersebut menjadi momentum dimulainya tekad hijrah dan merupakan bulan pertama setelah kaum Muslim menyelesaikan ibadah haji.

Dari perspektif peradaban, hijrah mengandung makna perubahan sosial yang sangat mendalam. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga transformasi nilai, budaya, dan tata kehidupan. 

Di Madinah, Nabi membangun masyarakat yang berlandaskan tauhid, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, kalender Hijriah sesungguhnya adalah kalender peradaban yang mengingatkan umat Islam untuk terus bergerak menuju kemajuan.

Al-Qur'an sendiri memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan..." (QS. At-Taubah: 36).

Ayat ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian dari sunnatullah yang menjadi dasar keteraturan kehidupan manusia.

Secara rasional, suatu peradaban yang besar selalu memiliki sistem penanggalan yang menjadi identitas kolektifnya. Bangsa Romawi memiliki kalender Masehi, sementara umat Islam memiliki kalender Hijriah. Oleh karena itu, memperingati Tahun Baru Hijriah bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih berilmu, dan lebih berkemajuan.

Muharram mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian melakukan perubahan. Semangat hijrah yang terkandung dalam kalender hijriah hendaknya menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus melakukan pembaruan diri, masyarakat, dan peradaban demi terwujudnya kehidupan yang diridhai Allah Swt.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait