Bersamaan, Takbiran dan Nyepi
Tahun 2026 menghadirkan sebuah momen yang langka sekaligus indah dalam kehidupan kebangsaan kita. Pada waktu yang hampir bersamaan, umat Islam mengumandangkan takbir menyambut Idulfitri, sementara umat Hindu menjalani Hari Raya Nyepi dalam keheningan. Dua tradisi yang tampak berbeda itu justru memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: keberagaman yang berjalan berdampingan dengan penuh penghormatan.
Takbiran adalah malam yang penuh gema. Sejak matahari terbenam di akhir Ramadan, suara Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, menggema dari masjid ke masjid, dari pengeras suara hingga lantunan takbir di rumah-rumah. Takbir bukan sekadar tradisi perayaan. Ia adalah ungkapan syukur setelah sebulan berpuasa, menahan lapar, menahan amarah, dan menundukkan ego. Takbir adalah pengakuan bahwa manusia pada akhirnya hanyalah makhluk yang kecil di hadapan kebesaran Allah SWT.
Di banyak tempat di Indonesia, takbiran bahkan menjadi perayaan sosial yang meriah. Ada arak-arakan obor, tabuhan bedug, hingga gema takbir yang dipanjatkan bersama-sama. Malam terasa hidup oleh suara yang bersahut-sahutan. Ada kegembiraan yang terasa di udara, kegembiraan karena kemenangan spiritual setelah menjalani Ramadan.
Namun di saat yang hampir sama, umat Hindu merayakan Nyepi dengan cara yang sangat berbeda. Nyepi justru menghadirkan keheningan: tidak ada aktivitas, tidak ada cahaya berlebihan. Dalam tradisi Hindu, Nyepi bukan sekadar hari libur. Ia adalah hari perenungan mendalam. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api atau lampu secara berlebihan, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Semua itu dilakukan agar manusia bisa kembali mendengarkan suara batinnya sendiri.
Jika dipandang sepintas, takbiran dan Nyepi seperti dua kutub yang bertolak belakang. Yang satu penuh suara, yang lain penuh sunyi. Yang satu meriah, yang lain hening. Tetapi jika kita menyelaminya lebih dalam, keduanya sesungguhnya memiliki tujuan yang sama: mendekatkan manusia kepada Tuhan.
Takbir mengingatkan manusia akan kebesaran Allah SWT di tengah kegembiraan. Nyepi mengingatkan manusia akan kehadiran Tuhan di tengah keheningan. Takbir mengajak manusia bersyukur setelah perjalanan spiritual Ramadan. Nyepi mengajak manusia membersihkan diri sebelum memulai tahun baru Saka.
Di titik itulah kita melihat bahwa perbedaan tidak selalu berarti pertentangan. Kadang-kadang, perbedaan justru menjadi cara yang beragam untuk mencapai tujuan yang sama: menjadi manusia yang lebih baik.
Indonesia sejak lama hidup dalam irama keberagaman semacam ini. Di satu sisi terdengar gema azan, di sisi lain lonceng gereja berdentang, sementara di tempat lain dupa dibakar dalam ritual keagamaan. Semua berjalan berdampingan dalam ruang yang sama bernama Indonesia.
Pertemuan antara takbiran dan Nyepi tahun ini menjadi pengingat yang kuat tentang pentingnya saling menghormati. Bayangkan, ketika gema takbir terdengar, namun ada kesadaran untuk tetap menjaga ketertiban bagi mereka yang sedang menjalani Nyepi. Atau, ketika umat Hindu menjalani keheningan Nyepi, mereka juga memahami bahwa di tempat lain umat Islam sedang merayakan kemenangan spiritualnya.
Sikap saling memahami seperti itulah yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari yang nyata: menghormati cara orang lain beribadah tanpa harus kehilangan keyakinan kita sendiri.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi konflik identitas dan pertentangan agama, Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang sangat berharga. Keberagaman bukan hanya fakta demografis, tetapi juga kebijaksanaan yang telah dipraktikkan selama berabad-abad.
Malam takbiran yang bergema dan Hari Nyepi yang sunyi seolah mengajarkan satu hal yang sama: manusia perlu sesekali berhenti dari kesombongannya. Baik melalui suara yang memuji Tuhan maupun melalui keheningan yang menundukkan diri.
Ketika gema takbir bertemu dengan sunyi Nyepi, kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus seragam. Kadang-kadang harmoni justru lahir dari perbedaan. Dan di situlah Indonesia menemukan keindahannya: dalam suara yang berbeda, tetapi tetap menuju langit yang sama.
Penulis: Affan Safani Adham (Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow