Humor yang Mendidik, Bukan yang Menyesatkan

Humor yang Mendidik, Bukan yang Menyesatkan

Smallest Font
Largest Font

Membangun suasana belajar yang menyenangkan dalam dunia pendidikan, juga dalam pengajian kagamaan memang penting, agar peserta didik atau jamaah pengajian tidak merasa tegang atau bosan. Salah satu cara yang sering digunakan oleh guru atau ustaz adalah menyelipkan humor di sela-sela pembelajaran atau pengajian. 

Namun, humor yang digunakan tentu harus memiliki nilai etis dan mendidik, bukan justru mengandung kata-kata yang tidak pantas, saru, atau menyinggung orang lain. Dalam konteks sekolah Islam, hal ini menjadi lebih penting karena setiap ucapan pendidik memiliki dampak moral yang besar terhadap murid-muridnya.

Islam tidak menolak humor. Nabi Muhammad saw. sendiri pernah bercanda, namun selalu dalam batas yang wajar, jujur, dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Humor yang dibolehkan adalah yang membawa kegembiraan tanpa menyalahi norma kesopanan dan akhlak. 

Nabi bahkan menegaskan pentingnya menjaga lisan sebagaimana sabdanya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Hadis ini menjadi dasar bahwa ucapan, termasuk humor, harus tetap dalam koridor kebaikan.

Apabila Nabi Muhammad saw. ingin menjelaskan hal-hal yang sensitif seperti persoalan seksual, beliau selalu menggunakan bahasa kiasan atau majas, bukan kata-kata vulgar. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kesantunan dalam berbicara. Seorang guru atau ustadz, apalagi di sekolah Islam atau forum kajian Islam, semestinya meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam menjaga tutur kata. Audiens bukan hanya mengambil isi pelajaran, tetapi juga cara guru menyampaikannya, termasuk selingan humornya. 

Karena itu, penggunaan humor yang saru dalam proses belajar mengajar jelas tidak tepat dan dapat mencederai nilai-nilai pendidikan Islam. Guru atau ustadz seharusnya menjadi teladan dalam tutur kata dan perilaku, termasuk dalam berhumor. Humor yang mendidik dapat menjadi jembatan keakraban antara guru dan murid, sedangkan humor yang kotor justru meruntuhkan wibawa dan moralitas.

Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 190.

Wallahu a'lam bish-shawaab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait