Ahmad Dahlan, Teladan yang Menyala

Ahmad Dahlan, Teladan yang Menyala

Smallest Font
Largest Font

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh kata-kata, manusia justru semakin haus keteladanan. Media sosial dipenuhi nasihat moral, ceramah agama, dan motivasi kehidupan yang berseliweran tanpa henti. Namun, pada saat yang sama, publik juga semakin sering menyaksikan ironi, di mana ucapan tidak selalu sejalan dengan tindakan. Kepercayaan sosial perlahan terkikis karena manusia terlalu mudah berbicara, tetapi sulit memberi contoh nyata.

Fenomena itu terasa sangat dekat dalam dunia pendidikan dan kehidupan beragama hari ini. Banyak anak yang tumbuh dengan limpahan teori tentang akhlak, tetapi miskin figur yang benar-benar dapat diteladani. Sekolah mengajarkan kejujuran, sementara murid menyaksikan banyak manipulasi di ruang publik. Pengajian menyerukan kesederhanaan, tetapi kehidupan sosial justru dipenuhi perlombaan pencitraan.

Dalam situasi seperti itu, keteladanan menjadi sesuatu yang mahal. Orang mungkin masih mau mendengar ceramah, tetapi belum tentu bisa percaya. Sebab manusia pada dasarnya lebih mudah meniru apa yang dilihat dibanding sekadar menerima apa yang didengar. Di titik inilah pendidikan sesungguhnya bekerja paling dalam, yaitu melalui contoh hidup yang nyata.

Dahlan dan AR Sutan Mansur

Di tengah pergulatan pendidikan Islam awal abad ke-20, KH. Ahmad Dahlan tampaknya menyadari satu hal penting. Murid tidak hanya belajar dari kitab, melainkan juga dari perilaku gurunya sehari-hari. Karena itu, ia tidak membangun pendidikan semata-mata lewat ceramah atau pengajaran lisan. Pria bernama kecil Muhammad Darwisy tersebut justru menghadirkan nilai-nilai Islam melalui sikap hidup yang dapat dilihat, dirasakan, dan ditiru secara langsung oleh murid-muridnya. Dalam pandangannya, pendidikan akan kehilangan ruh apabila ucapan guru tidak menemukan pantulan nyata dalam perilaku keseharian.

Kesadaran itulah yang kemudian menjadi inti metode keteladanan dalam pendidikan Islam. Dalam perspektif Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, metode uswah hasanah merupakan cara mendidik melalui contoh konkret yang hidup dalam diri pendidik. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses membentuk perilaku dan watak manusia melalui integrasi antara ucapan, tindakan, dan nilai moral. Karena itu, keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada integritas pribadi seorang guru.

Pemikiran tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan Ahmad Dahlan. Ketib Amin itu tidak hanya berbicara tentang keikhlasan, kesederhanaan dan kepedulian sosial di forum-forum pengajian. Ia berusaha menjalankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Murid-murid dapat belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi dari cara sang guru memperlakukan manusia lain.

Salah satu kisah yang paling menarik tentang keteladanan Ahmad Dahlan datang dari pengalaman AR Sutan Mansur pada sekitar tahun 1920-an. Kisah itu dicatat oleh Sukriyanto AR dalam bukunya berjudul “Kisah Inspiratif para Pemimpin Muhammadiyah”. Dalam cerita tersebut, pemuda Sutan Mansur yang berasal dari Sumatra Barat sengaja datang ke Yogyakarta untuk menguji apakah Ahmad Dahlan benar-benar seorang ulama yang sesuai antara ucapan dan perbuatannya.

Sebagai anak muda yang idealis dan memiliki semangat keagamaan tinggi, Sutan Mansur tidak ingin mudah terpesona oleh popularitas seorang tokoh. Ia pernah mendengar pengajian Ahmad Dahlan di Pekalongan, tetapi masih menyimpan rasa penasaran. Baginya, banyak orang pandai berbicara tentang agama, tetapi tidak semuanya benar-benar menghidupkan ajaran itu dalam keseharian. Karena itulah ia memutuskan datang langsung ke Kauman untuk melihat sendiri kehidupan sang pendiri Muhammadiyah itu.

Pagi itu, Sutan Mansur tidak langsung menuju rumah Ahmad Dahlan. Ia terlebih dahulu datang ke Masjid Gedhe Kauman, sekitar pukul setengah empat dini hari. Di tengah suasana yang masih gelap dan dingin, ia melihat Ahmad Dahlan sedang menunaikan salat di dekat pengimaman masjid. Dari kejauhan, pemuda itu hanya memperhatikan dengan diam.

Pengalaman sederhana tersebut rupanya meninggalkan kesan mendalam. Sutan Mansur mulai melihat bahwa Ahmad Dahlan bukan sekadar tokoh yang fasih berbicara tentang agama di depan publik. Ia datang ke masjid sebelum Subuh, menjalani ibadah dengan tekun tanpa sorotan manusia. Di titik itu, kesalehan tidak tampil sebagai pertunjukan, melainkan kebiasaan hidup yang dijalani secara tenang dan berulang.

Namun rasa penasaran Sutan Mansur belum berhenti sampai di situ. Setelah salat Subuh selesai, Sutan Mansur segera menuju rumah Ahmad Dahlan dan sabar menunggu kedatangan pendiri Muhammadiyah. Sekitar pukul enam pagi, Suami Siti Walidah itu pulang dari masjid lalu menerima tamunya dengan ramah. Tidak ada jarak yang kaku antara seorang ulama besar dan seorang pemuda pendatang dari Sumatra Barat.

Di rumah sederhana yang berlokasi di kawasan Kauman itu, percakapan berlangsung hangat. Ahmad Dahlan menjamu Sutan Mansur dengan makanan seadanya sambil berbincang tentang dakwah, kondisi umat Islam, dan tentunya gerakan Muhammadiyah. Tidak ada kesan ingin menggurui atau menunjukkan kebesaran diri. Yang muncul justru suasana kebapakan yang membuat lawan bicara merasa diterima.

Meski demikian, Sutan Mansur ternyata masih ingin menguji keikhlasan sang pembaru itu. Sebelum pamit, ia meminta dipinjami sarung karena tidak membawa kain pengganti. Tanpa banyak bertanya, Ahmad Dahlan masuk ke kamar lalu mengambil beberapa sarung untuk dipilih tamunya. Dengan sengaja, Sutan Mansur memilih sarung yang paling bagus dan masih baru.

Bertahun-tahun kemudian, sarung itu ternyata tidak pernah diminta kembali. Padahal sejak awal Sutan Mansur hanya mengatakan “meminjam”, bukan “meminta diberi”. Dari pengalaman kecil itulah ia mengambil kesimpulan penting, Ahmad Dahlan adalah seorang ulama yang ikhlas, dermawan, dan sungguh-sungguh mengamalkan apa yang diajarkannya.

Kisah tersebut mungkin tampak sederhana dibanding sejarah besar Muhammadiyah. Tidak ada pidato besar, rapat akbar, ataupun perdebatan ideologis. Namun justru di ruang keseharian seperti itulah kualitas seorang pendidik terlihat paling jujur. Keteladanan lahir bukan dari panggung besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan secara tulus dan terus-menerus.

Keteladanan dan Budaya Pencitraan

Metode keteladanan secara psikologis memang bekerja sangat kuat dalam pembentukan karakter murid. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk meniru figur yang dikagumi. Karena itu, perilaku seorang guru sering lebih membekas dibanding materi pelajaran yang disampaikan. Ketika seorang pendidik hidup selaras dengan nilai yang diajarkan, murid akan belajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman emosional.

Ahmad Dahlan tampaknya memahami betul konsep itu. Ia sadar bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya menghasilkan murid yang pandai berbicara tentang agama. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang memiliki integritas moral dan kepekaan sosial. Karena itu, Ahmad Dahlan memilih mendidik melalui contoh hidup yang nyata.

Tantangan itu terasa semakin besar di era digital. Anak-anak tumbuh dalam budaya visual yang membuat mereka lebih banyak belajar dari apa yang dilihat dibanding apa yang didengar. Mereka menyaksikan perilaku guru, tokoh agama, pemimpin, bahkan orang tua setiap hari melalui layar telepon genggam. Dalam situasi seperti itu, keteladanan menjadi jauh lebih menentukan daripada slogan moral yang terus diulang.

Masalahnya, dunia digital juga melahirkan budaya pencitraan. Banyak orang tampak saleh di media sosial, tetapi berbeda dalam kehidupan nyata. Kebaikan sering dipertontonkan demi memperoleh pengakuan publik. Akibatnya, generasi muda kesulitan membedakan antara ketulusan dan pertunjukan moral.

Barangkali karena itulah metode keteladanan ala Ahmad Dahlan terasa semakin relevan hari ini. Pembaru Islam itu menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak dibangun melalui retorika yang megah. Keteladanan justru lahir dari kesederhanaan, keikhlasan dan konsistensi menjalani nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa manusia mungkin dapat dipengaruhi oleh pidato, tetapi hanya akan benar-benar tersentuh oleh contoh hidup yang nyata. Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin penuh pencitraan hari ini, dunia pendidikan serta kehidupan beragama justru lebih membutuhkan ketulusan yang diam-diam menyala dibanding kata-kata yang terlalu ramai dipertontonkan di ruang publik.

Penulis: Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta | Dosen PAI Universitas Ahmad Dahlan) 

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait