Takziah: Menguatkan yang Berduka, Bukan Menambah Beban

Takziah: Menguatkan yang Berduka, Bukan Menambah Beban

Smallest Font
Largest Font

Takziah merupakan salah satu tradisi sosial-keagamaan yang hidup kuat dalam masyarakat Muslim. Secara etimologis, takziah berasal dari kata al-‘azzaa yang bermakna sabar, sementara secara terminologis takziah berarti upaya menyabarkan dan menguatkan hati orang yang tertimpa musibah. 

Dalam konteks kematian, takziah diarahkan kepada keluarga jenazah sebagai bentuk empati, dukungan moral, dan penguatan spiritual agar mereka mampu menghadapi duka dengan sikap sabar dan tawakal.

Islam secara jelas menganjurkan pelaksanaan takziah sebagai bagian dari solidaritas sosial umat. Bagi orang yang tinggal satu kota dengan keluarga jenazah, takziah dianjurkan dilakukan dalam rentang waktu tiga hari setelah penguburan. 

Adapun bagi mereka yang berada di luar kota, takziah tetap diperbolehkan meskipun dilakukan setelah lewat waktu tersebut, bahkan sampai satu bulan, selama tujuannya tetap untuk memberikan penghiburan dan penguatan kepada keluarga yang berduka.

Namun demikian, esensi takziah tidak terletak pada lamanya waktu atau bentuk seremonialnya, melainkan pada tujuan utamanya, yakni memberikan nasihat kesabaran dan menumbuhkan ketenangan batin bagi keluarga yang ditimpa musibah. 

Karena itu, pelaksanaan takziah seharusnya dilakukan secara sederhana, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan beban baru bagi pihak keluarga jenazah, baik secara materi maupun psikologis.

Dalam praktik sosial, sering dijumpai kebiasaan mengadakan takziah pada malam hari selama tiga malam berturut-turut setelah penguburan. Tradisi ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai sarana silaturahmi dan penguatan sosial, selama tidak disertai unsur yang memberatkan keluarga jenazah. 

Justru yang dianjurkan dalam Islam adalah sebaliknya, yaitu para tetangga dan kerabat dekat ikut meringankan beban keluarga yang sedang berduka.

Salah satu bentuk kepedulian nyata yang sangat dianjurkan adalah membantu kebutuhan dasar keluarga jenazah, termasuk menyiapkan makanan. 

Pada masa duka, keluarga sering kali tidak memiliki waktu dan tenaga untuk mengurus keperluan sehari-hari. Oleh karena itu, inisiatif tetangga untuk menyediakan makanan merupakan wujud takziah yang paling substansial, karena menghadirkan empati dalam tindakan nyata.

Penjelasan mengenai prinsip dan etika takziah ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 178, yang menegaskan bahwa takziah sejatinya adalah praktik keagamaan yang sarat nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait