Seni dalam Islam: Antara Keindahan Suara dan Etika Penampilan
Penulis: Yayan Suryana*
Di era dunia yang semakin terbuka dan bebas berekspresi ini, seni kerap diposisikan sebagai ruang tanpa batas. Namun, bagi umat Islam, seni bukanlah wilayah yang lepas dari nilai dan norma agama.
Islam sendiri tidak pernah memusuhi seni. Bahkan, dalam banyak hal, Islam justru mendorong pengembangan seni yang sejalan dengan nilai-nilai ilahiah. Salah satu bentuk seni yang sangat dijunjung dalam Islam adalah seni membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
"Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suaramu." (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i)
Dalam riwayat yang lain lebih tegas lagi dinyatakan:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيدُ الْقُرْآنَ حَسَنًا
"Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suaramu. Sesungguhnya suara yang baik dapat menambah keindahan Al-Qur’an." (HR. Al-Hakim).
Dua hadis ini, yang dinilai shahih oleh Imam As-Suyuthi, menunjukkan bahwa memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu adalah sesuatu yang dianjurkan. Asalkan tetap berada dalam koridor adab, tajwid, dan tidak menimbulkan fitnah bagi pendengar maupun pembacanya.
Namun, yang menjadi perhatian serius adalah ketika seni suara digunakan dalam bentuk-bentuk ekspresi yang justru bertentangan dengan etika Islam. Misalnya, ketika seorang wanita yang memilih profesi menjadi penyanyi, lengkap dengan gaya lenggak-lenggok yang menonjolkan tubuh dan gerakan yang merangsang syahwat.
Apalagi jika lagu-lagu yang dibawakannya mengandung lirik-lirik religius yang memuja nama-nama Allah, tetapi dibawakan tanpa adab yang mencerminkan kekhusyukan dan ketawadhuan. Ini jelas menimbulkan ironi, bahkan dapat melukai rasa hormat umat terhadap nilai-nilai suci dalam agama.
Seni budaya Islam sejatinya adalah seni yang tunduk pada perintah Allah, bukan yang mengeksploitasi tubuh dan sensasi. Islam tidak melarang wanita bernyanyi, tetapi Islam menekankan bahwa dalam segala ekspresi seni, terutama yang menyangkut nilai-nilai sakral seperti memuji Allah, harus disampaikan dengan sikap yang benar, pakaian yang layak, dan suasana yang mendidik ruhani.
Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 197, dijelaskan bahwa di antara orang-orang yang akan mendapat sanksi berat di akhirat adalah laki-laki yang angkuh dengan senjatanya dan wanita yang tampil memamerkan aurat, berjalan lenggak-lenggok, serta menimbulkan syahwat. Maka, seni dalam Islam bukan hanya soal suara yang indah, tetapi juga bagaimana seni itu menjadi jalan kebaikan, bukan sumber fitnah dan kemunduran akhlak.
Oleh karena itu, seni dalam Islam bukan untuk diasingkan, tetapi untuk diberi makna yang positif. Suara yang indah harusnya menjadi jembatan menuju takwa, bukan jembatan menuju syahwat. Inilah hakikat seni dalam pandangan Islam. Indah, tetapi tetap dalam bingkai etika dan iman.
Wallahu a'lam bish-shawab
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow