Meluruskan Kesalahpahaman tentang Shalat Jenazah Rasulullah SAW

Meluruskan Kesalahpahaman tentang Shalat Jenazah Rasulullah SAW

Smallest Font
Largest Font

Wafatnya Nabi Muhammad saw. merupakan peristiwa paling mengguncang dalam sejarah umat Islam. Namun, di balik peristiwa besar itu, muncul pula berbagai kesalahpahaman yang hingga kini masih beredar, salah satunya anggapan bahwa Rasulullah tidak layak didoakan, bahkan tidak perlu dishalatkan, karena beliau sudah dijamin surga.

Pandangan semacam ini sering kali dikaitkan dengan kisah wafatnya putra Nabi, Ibrahim, yang disebut tidak dishalatkan oleh Rasulullah.

Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Ketika Nabi Muhammad saw. wafat, para sahabat tetap melaksanakan shalat jenazah atas beliau.

Shalat tersebut dilakukan secara bergiliran, tanpa imam, dengan tata cara shalat jenazah sebagaimana yang dikenal dalam syariat: empat kali takbir, membaca al-Fatihah, shalawat kepada Nabi, doa, dan salam. 

Ini menegaskan bahwa shalat jenazah bukan penentu nasib akhir seseorang, melainkan bentuk doa, penghormatan, dan cinta dari yang hidup kepada yang wafat.

Anggapan bahwa mendoakan Nabi adalah sesuatu yang tidak pantas justru bertentangan dengan Al-Qur’an. Allah secara eksplisit memerintahkan kaum beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi. 

Firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 56 menyatakan bahwa bershalawat kepada Nabi adalah perintah langsung dari Allah, bukan sekadar pilihan atau tradisi.

Dalam praktik ibadah harian, umat Islam pun terus mendoakan Nabi. Shalawat yang dibaca dalam shalat, salam dalam tasyahud, hingga shalawat yang diucapkan di luar shalat, semuanya merupakan doa agar Nabi senantiasa mendapat rahmat dan kemuliaan dari Allah. 

Jika mendoakan Nabi dianggap tidak perlu, maka gugurlah makna dari seluruh shalawat yang setiap hari diucapkan oleh umat Islam.

Karena itu, shalat jenazah atas Nabi Muhammad saw. harus dipahami sebagai bagian dari ajaran Islam yang utuh, bukan anomali teologis. Penjelasan ini dapat ditemukan secara jelas dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 103–104, yang menegaskan bahwa mendoakan Nabi adalah perintah agama dan shalat jenazah adalah ekspresi doa, bukan penilaian atas kedudukan seseorang di sisi Allah. 

Wallahu a'lam bish-shawab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait