Lalai dalam Shalat: Ibadah Rutinitas Tanpa Penjiwaan
Penulis: Yayan Suryana*
Shalat, sebagai tiang agama, semestinya menjadi pilar utama dalam kehidupan seorang muslim. Namun faktanya, tidak sedikit yang menunaikannya hanya sebagai rutinitas harian tanpa makna, bahkan ada yang dengan terang-terangan mengabaikannya.
Fenomena ini mencerminkan bentuk kelalaian dalam shalat yang sangat dikecam oleh syariat. Tulisan ini merujuk pada Buku Tanya Jawab Agama Jilid 5 halaman 9, yang menjelaskan secara gamblang kategori-kategori lalai dalam shalat serta akibatnya.
Pertama, kelalaian dapat terjadi ketika sedang melaksanakan shalat. Secara lahiriah, seseorang tampak berdiri, rukuk, dan sujud. Namun batinnya justru melayang pada hal-hal duniawi. Dalam shalat ia justru sibuk memikirkan tontonan, pekerjaan, atau pertemuan yang akan datang. Ini menunjukkan bahwa hatinya tidak hadir bersama Allah. Padahal, tujuan utama dari shalat adalah untuk mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Thaha ayat 14: “...dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
Jika ingatan kita lebih kuat pada dunia daripada pada Allah saat shalat, maka kita telah terjebak dalam kelalaian spiritual yang berbahaya.
Kedua, kelalaian juga bisa muncul setelah melaksanakan shalat. Yakni, shalat tidak memberi pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 ditegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
Bila setelah shalat seseorang tetap mudah berkata kasar, gemar menipu, atau bahkan masih tenggelam dalam perilaku tidak bermoral, maka patut dipertanyakan apakah shalatnya sudah benar-benar menghadirkan kesadaran ilahiah.
Lebih parah lagi adalah bentuk kelalaian ketiga, yaitu mengetahui kewajiban shalat namun enggan melaksanakannya. Ini adalah bentuk kelalaian yang nyata dan terang-terangan. Ia tahu bahwa shalat adalah perintah Allah, tetapi dengan sadar memilih untuk meninggalkannya. Padahal konsekuensinya sangat berat, baik secara moral, sosial, maupun spiritual. Orang seperti ini kehilangan benteng utama dalam jiwanya.
Untuk keluar dari jerat kelalaian ini, seorang muslim harus membangun kesungguhan dalam menegakkan shalat. Hal ini dilakukan dengan cara menyempurnakan syarat, rukun, dan sunnah shalat, melakukannya tepat waktu, serta menghadirkan pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang digambarkan dalam QS. al-Mukminun ayat 1-2: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalat-nya.”
Shalat yang benar bukan hanya tampak di masjid atau sajadah, tapi terbukti dalam akhlak, sikap, dan perilaku di tengah masyarakat. Kelalaian dalam shalat bukan hanya soal teknis, tetapi cerminan dari lemahnya komitmen seorang hamba kepada Tuhannya. Maka, mari kita koreksi dan benahi, agar shalat yang kita dirikan menjadi jalan keselamatan, bukan justru menjadi penyebab kerugian di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow