Rambut Menutup Dahi Saat Sujud
Penulis: Yayan Suryana*
Sujud adalah momen paling khusyuk dalam shalat, saat seorang hamba benar-benar merendahkan diri di hadapan Sang Khalik. Dalam posisi ini, seluruh tubuh tunduk, dan bagian paling mulia dari wajah, yakni dahi, menyentuh tanah.
Namun, bagaimana bila rambut menutupi dahi saat sujud? Apakah itu mengganggu keabsahan salat? Pertanyaan ini cukup sering muncul di kalangan umat Islam, dan pembahasannya dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 5 halaman 43–44.
Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa sujud memiliki tujuh anggota yang wajib menyentuh tanah; dahi, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di mana beliau menegaskan agar tidak menutup anggota sujud dengan rambut atau kain. Pesan ini mengandung makna spiritual, bahwa totalitas penghambaan dalam sujud harus dilakukan tanpa penghalang, termasuk oleh rambut sendiri.
Namun demikian, bila rambut secara tidak sengaja menutupi sebagian dahi saat sujud, tidak perlu disingkapkan dengan tangan. Gerakan yang tidak termasuk dalam gerakan shalat justru bisa membatalkan kekhusyukan, atau bahkan merusak salat jika dilakukan secara berlebihan. Maka, langkah preventif yang lebih bijak adalah memastikan sejak awal bahwa rambut tidak menutupi dahi, misalnya dengan menggunakan penutup kepala yang tidak melindungi dahi.
Hal ini juga mengajarkan kepada kita bahwa shalat bukan hanya perkara sah dan tidak sah, tetapi juga soal adab dan kesempurnaan ibadah. Menjaga posisi tubuh, kesopanan berpakaian, dan bahkan urusan sekecil rambut yang menutupi dahi pun menjadi bagian dari sikap ihsan dalam beribadah. Di sinilah letak keindahan Islam, mengajarkan keteraturan dan penghormatan terhadap setiap detil penghambaan.
Dengan demikian, persoalan rambut yang menutupi dahi saat sujud bukan sekadar masalah teknis, tetapi menyentuh aspek spiritualitas dan estetika ibadah. Maka, mari kita terus belajar dan memperbaiki kualitas shalat kita, termasuk memperhatikan hal-hal kecil yang dapat berdampak besar pada penerimaan ibadah di sisi Allah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow