Kisah Hikmah (2) : Golongan yang Tidak Takut Miskin
Pernahkah engkau renungkan tentang
Hidup Rosulullah junjungan
Rela hidup dalam kesederhanaan
Pertahankan kehormatan
Lewati malam – malam yang kelam
Dalam keadaan lapar
Bersama segenap keluarganya
Tak dapatkan satupun makanan
Bahkan tak pernah menikmatinya
Dari atas meja makan
Tidur beralaskan tikar kasar
Terbuat dari kulit rerumputan
Hinga membekas pada punggungnya
Tak pernah kenyang di dalam hidupnya
Bahkan pernah tiga pernama
Tiada api menyalaa dirumahnya
Zuhud - Suara Persauadaraan
Dari Jarir bin Abdullah, “Pada suatu siang sewaktu kami berada di sisi Rasulullah Saw., datanglah sekelompok manusia telanjang berkemul kain shuf tebal berlubang dari kepala mereka dan bersenjata pedang, umumnya dari suku Mudlar. Melihat mereka berubahlah wajah Rasululllah., dan sesudah masuk ke rumah, tidak lama keluar menyuruh Bilal adzan dan iqamat, sehabis shalat beliau berkhutbah, isi khutbahnya diawali dengan ayat 1 An-Nisaa’ dan ayat 18 surat Al-Hasyr, seseorang bersedekah uang emas-peraknya, pakaian, dan gandum atau kurmanya, atau sekalipun hanya separoh biji kurma.
Lalu datanglah seorang pria Anshar membawa pundi-pundi besar yang sangat berat, yang hampir tiada terangkat olehnya. Dan hal itu diikuti oleh beberapa sahabat lainnya, sehingga terlihatlah dua gunduk makanan dan pakaian, melihat yang demikian wajah beliau Saw berseri-seri, seraya bersabda;
‘Barangsiapa merintis jalan kebaikan dalam Islam, berarti ia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan sebaliknya barang siapa memulai berbuat jahat dalam Islam, berarti memikul dosa (sendiri) ditambah semua dosa orang-orang yang menirukan kejahatannya dengan tiada mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
Salah satu kunci sukses dakwah Rasulullah adalah keteladanan. Dalam berdakwah beliau lebih mengedepankan dakwah bil hal atau keteladanan. Setiap kali beliau memerintahkan kepada para sahabat untuk melaksanakan suatu amalan maka Rasulullah-lah yang pertamakali melaksanakan. Sikap demikian tentu akan lebih efektif untuk mengajak dalam kebaikan, karena apa yang telah beliau perbuat dapat menjadi panutan.
Keteladanan memang perlu kita tumbuh-kembangkan dalam berbagai aspek kehidupan, orang tua harus mampu memberi keteladanan pada anaknya, seorang pemimpin semestinya mampu memberi keteladanan jika menghendaki rakyatnya berbuat baik, begitu pun seorang ulama (da’i). Jangan sampai ia hanya mahir dalam merangkaikan kata. Tetapi ia juga harus mampu mengaplikasikan ajaran yang disampaikan itu dalam perilaku keseharian sehingga dakwahnya akan lebih mengena.
Saat ini dapat dibilang bangsa kita sedang mengalami krisis keteladanan, termasuk umat Islam sendiri, betapa tidak banyak di antara para ulama dan umara yang meminjam istilah Pak Syafii Maarif mengalami keretakan antara kata dan laku. Di mimbar mengumandangkan ajaran-ajaran yang mulia, akan tetapi dalam praktiknya kita masih jauh dari demikian.
Maka sudah sepatutnya kita berusaha agar keteladanan menjadi salah satu ciri dalam gerakan dakwah, bukankah Nabi juga memberi perintah, ibda’ bi nafsik. Mencoba menjadi pribadi yang memberi teladan dalam kebaikan sekecil apapun itu.
Rasulullah Sang Teladan
Saat beliau menasihatkan tentang kedermawanan, maka beliaulah yang mencontohkannya. Hingga kedermawanan beliau diibaratkan lebih cepat ketimbang angin. Tidak saja kepada sesama muslim, Nabi juga bersikap dermawan kepada mereka yang belum memeluk Islam.
Dari Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai sesuatu atas keislaman, melainkan beliau akan memberikannya, sungguh seseorang telah datang kepada beliau, lalu beliau memberikan kepadanya domba yang berada di antara dua gunung, kemudian orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata, ‘Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, karena Muhammad itu memberikan pemberian kepada orang yang tidak takut akan kemiskinan’.” (HR. Muslim)
Tentang kerendahan hati Rasulullah bisa kita temukan dalam banyak riwayat. Termasuk ketika beliau di pasar. Abu Hurairah menceritakan, “Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana. Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celanapun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda, “ltu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja, aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.” Kemudian, beliau mengambil celana yang sudah dibeli.”
Abu Hurairah kemudian bermaksud membawakan celana yang dibeli itu, namun Rasulullah SAW., kemudian berkata ”Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.”
Itulah salah satu fragmen kerendah-hatian Rasululluah, selaras dengan sabda beliau, “Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridha Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al Baihaqi)
Segala keteladanan yang diberikan Rasulullah SAW. memang menjadi jalan yang efektif untuk memperbaiki akhlak manusia. Apa yang dilakukan Rasulullah sudah sepantasnya berusaha kita ikuti. Karena pada diri beliau banyak teladan yang baik. “Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).
-----

Eko Triyanto, merupakan jurnalis, penulis buku, pendamping penulisan buku-buku antologi dan pembicara dengan tema jurnalistik dan penulisan populer. Mengelola taman bacaan Pustaka Rumah Dunia dan CEO www.kabareminggir.com. Info dan kerjasama bisa kontak email [email protected]
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow