Ujian Hidup Bukan Hukuman, tapi Tanda Cinta Allah

Ujian Hidup Bukan Hukuman, tapi Tanda Cinta Allah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengingatkan bahwa ujian hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan iman setiap manusia. Menurutnya, ujian bukan hukuman, melainkan bentuk perhatian dan jalan peningkatan spiritual dari Allah.

Pesan itu disampaikan Talqis dalam ceramah di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (23/4). Di hadapan jamaah, ia menegaskan bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian, termasuk para nabi dan rasul.

“Kita pernah diuji, bahkan kadang kita menjadi ujian bagi orang lain. Kehadiran kita bisa saja membuat orang lain tertekan. Maka ujian itu sangat dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.

Talqis menjelaskan, ujian tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan. Menurut dia, kesenangan, kekayaan, jabatan, hingga popularitas juga merupakan bentuk ujian yang sering tidak disadari manusia.

“Ujian itu kadang enak, kadang tidak enak. Kaya itu ujian, miskin juga ujian,” katanya.

Ia menilai banyak orang justru gagal saat diuji dengan kenikmatan, karena tidak mampu menjaga rasa syukur dan kesabaran. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, sebagian orang justru lebih mudah bersabar.

Talqis menegaskan bahwa dalam perspektif iman, ujian merupakan undangan untuk meningkatkan kualitas diri.

“Kalau kita diuji, itu bukan berarti Allah menghukum kita. Itu invitation dari Allah, undangan untuk naik level keimanan,” ungkapnya.

Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan berkurangnya hasil usaha. Menurutnya, lima bentuk ujian itu masih relevan dalam kehidupan modern, termasuk tekanan mental, kecemasan, dan kehilangan arah hidup.

“Ujian itu bukan hanya lembar jawaban di ruang kelas. Kadang ujian itu ekspektasi yang patah, rasa cemas, overthinking, atau perasaan kehilangan arah hidup,” ujarnya.

Dalam ceramah tersebut, Talqis menyebut ada empat respons manusia saat menghadapi ujian. Pertama, marah dan menyalahkan keadaan. Kedua, sabar. Ketiga, rida. Keempat, syukur sebagai tingkatan tertinggi.

Ia menjelaskan, sabar bukan berarti pasif, tetapi menahan hati dari prasangka buruk, menjaga lisan, dan mengendalikan tindakan yang dilarang. Sementara rida berarti menerima ujian dengan lapang dada, dan syukur adalah mampu melihat hikmah di balik musibah.

Talqis juga mengajak mahasiswa memiliki mental tangguh melalui analogi wortel, telur, dan kopi saat dimasukkan ke air mendidih. Wortel menjadi lembek, telur menjadi keras, sedangkan kopi justru mengubah air menjadi harum.

“Minimal jadilah biji kopi. Mahasiswa biji kopi adalah mahasiswa yang menggunakan panasnya ujian untuk mengubah keadaan sekitarnya menjadi lebih baik,” katanya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan agar manusia mengubah cara pandang terhadap ujian, dari mempertanyakan alasan musibah menjadi mencari pelajaran yang dapat dipetik.

“Ujian itu adalah cara Allah mencuci dosa-dosa kita dan mengasah mental kita agar siap menghadapi kehidupan yang lebih besar,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait