Shalat Belum Khusyuk, Apakah Diterima?

Shalat Belum Khusyuk, Apakah Diterima?

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Yayan Suryana*

Shalat merupakan rukun Islam yang sangat penting, bahkan disebut sebagai tiang agama. Namun, tidak sedikit umat Islam yang bertanya-tanya, apakah shalat yang tidak khusuk tetap diterima oleh Allah SWT?

Pertanyaan ini sangat wajar dan menunjukkan adanya kegelisahan spiritual yang positif, karena orang yang bertanya biasanya adalah orang yang ingin memperbaiki kualitas ibadahnya. Sebagaimana dikupas dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 31-32, persoalan kekhusyukan dalam shalat memang bukan perkara remeh, melainkan sesuatu yang sangat penting dan pantas untuk terus diupayakan.

Dalam surat Al-Mu’minun ayat 1–2, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang khusuk dalam shalatnya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusuk dalam shalatnya." 

Ayat ini menunjukkan bahwa kekhusyukan adalah ciri keberuntungan dan keberhasilan spiritual seorang mukmin. Artinya, khusuk dalam shalat bukan hanya pelengkap ibadah, tetapi menjadi cerminan kualitas iman seseorang.

Namun demikian, bukan berarti jika kita belum mampu mencapai kekhusyukan, lalu shalat kita tidak diterima. Hal ini penting untuk diluruskan, dalam surat Al-Baqarah ayat 45 disebutkan bahwa “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk.”

Ini menjadi penanda bahwa kekhusyukan adalah kondisi ideal yang memang berat dan membutuhkan perjuangan. Maka, siapapun yang berusaha ke arah itu berada di jalan yang benar.

Merujuk pada isi Buku Tanya Jawab Agama tersebut, tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit mensyaratkan bahwa shalat hanya diterima bila dilakukan dengan khusuk. Namun ada ayat-ayat yang mengecam orang-orang yang shalat tetapi hatinya lalai, tidak menyelaraskan antara gerakan dan ucapan dengan kehadiran hati.

Mereka ini disebut dalam surat Al-Ma’un ayat 4-5 sebagai orang-orang yang lalai dalam shalatnya, yang meskipun melakukan gerakan shalat, hakikat ibadahnya kosong. Ini tentu menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak menjadikan shalat sebagai rutinitas hampa.

Karenanya, bukan berarti seseorang tidak perlu shalat jika belum khusuk. Justru shalat itu sendiri adalah jalan menuju kekhusyukan. Dengan terus melaksanakannya, kita melatih jiwa, melatih hati, melatih konsentrasi dan mempererat hubungan kita dengan Allah. Menurut penjelasan dalam buku tersebut, usaha meningkatkan kualitas shalat, termasuk dalam hal kekhusyukan, harus menjadi upaya terus-menerus. Tidak ada istilah putus asa dalam proses ini.

Penting untuk diingat, soal diterimanya shalat adalah urusan Allah SWT. Kita tidak bisa dan tidak layak menilai ibadah kita sendiri atau orang lain. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin dengan niat yang benar, persiapan hati yang matang, dan penghayatan makna dari setiap bacaan dalam shalat. Hati yang hadir dalam shalat akan menjadikan ibadah itu bukan hanya sah secara syariat, tapi juga bernilai secara ruhani.

Akhirnya, marilah kita terus belajar dan berlatih agar shalat kita semakin mendekati kekhusyukan yang ideal. Kita tidak menunggu sampai khusuk untuk mulai shalat, tetapi dengan shalatlah kita akan belajar menjadi khusuk. Jangan menyerah, jangan merasa cukup, dan jangan merasa sudah baik. Terus tingkatkan kualitas shalat kita, karena di sanalah letak pintu perjumpaan batin antara hamba dan Tuhannya.

Wallahu a'lam bish-shawab

*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    1
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait