Membaca Kalimat 'Allah' Ketika Mendengar Bacaan Al-Qur’an

Membaca Kalimat 'Allah' Ketika Mendengar Bacaan Al-Qur’an

Smallest Font
Largest Font

Oleh: Yayan Suryana*

Dalam berbagai kesempatan keagamaan, kita kerap mendengar kebiasaan sebagian orang yang secara spontan mengucapkan “Allah, Allah” saat mendengarkan bacaan ayat suci Al-Qur’an. Kebiasaan ini sering kali muncul ketika lantunan ayat dibacakan dengan irama yang menyentuh perasaan. Fenomena itu terjadi ketika ceramah atau pidato keagamaan, di mana pembicara mengutip ayat Al-Qur’an, dan para pendengar menanggapi dengan kalimat “Allah, Allah”. Lalu, apakah kebiasaan ini memiliki dasar dalam Al-Qur’an atau hadis?

Menilik kembali sumber ajaran Islam, baik dari Al-Qur’an maupun hadis, tidak ditemukan tuntunan yang mengajarkan atau menganjurkan untuk mengucapkan “Allah, Allah” ketika mendengar bacaan ayat suci. Penjelasan ini sejalan dengan isi buku Tanya Jawab Agama Jilid I halaman 17, yang menegaskan bahwa kebiasaan tersebut bukanlah bagian dari sunnah atau petunjuk syariat. Umumnya, kalimat itu terlontar bukan karena kandungan maknawi ayat yang dibacakan, melainkan karena keindahan nada atau suara qari yang membacakan Al-Qur’an. Artinya, respons emosional itu lebih bersumber dari pengaruh musikalitas ketimbang pemahaman terhadap isi Al-Qur’an.

Padahal, yang diperintahkan oleh Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan wahyu Ilahi dengan saksama dan penuh perhatian, agar makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut dapat meresap dalam jiwa. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-A‘raf ayat 204:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: "Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A‘raf: 204)

Ayat ini menegaskan adab mendengarkan Al-Qur’an: diam, menyimak, dan merenungi makna, bukan sekadar menanggapi dengan ekspresi verbal yang justru dapat mengganggu kekhusyukan pendengaran. Dengan demikian, yang utama adalah pemusatan hati dan pikiran agar pesan ilahi dapat diresapi secara utuh dan mendalam.

Sebagai umat Islam, tentu kita menghargai semangat religius yang diekspresikan melalui spontanitas semacam itu. Namun semangat tersebut perlu diarahkan pada koridor tuntunan syariat. Menghormati bacaan Al-Qur’an dengan mendengarkan secara seksama adalah wujud dari adab yang benar terhadap wahyu. Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan khidmat dan penuh penghayatan, agar rahmat Allah senantiasa menyertai kita.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

*) Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait