Revolusi Kurban
Hari ini umat Islam berada pada momentum agung, hari raya Iduladha. Hari raya yang bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, tetapi momentum pendidikan spiritual, sosial, bahkan peradaban manusia.
Ibadah kurban sesungguhnya mengajarkan tiga revolusi besar. Pertama, revolusi spiritual. Kurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas kepentingan dunia. Di tengah budaya materialisme, manusia sering mengukur hidup dari kekayaan, jabatan, dan popularitas. Padahal kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan.
Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan bahwa iman memerlukan keberanian moral. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, beliau tidak menunda dan tidak menawar.
Hari ini, keberanian moral itu sangat dibutuhkan: berani jujur di tengah budaya manipulasi, berani amanah di tengah korupsi, berani hidup sederhana di tengah hedonisme, dan berani menjaga akhlak di tengah derasnya arus digital.
Kedua, revolusi sosial. Iduladha adalah momentum pemerataan sosial. Kurban bukan hanya ibadah individual, tetapi instrumen solidaritas sosial.
Ketika daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, sesungguhnya Islam sedang membangun keadilan sosial. Islam tidak membiarkan kesenjangan ekonomi semakin tajam. Di tengah kenaikan kebutuhan hidup, tantangan ekonomi keluarga, dan meningkatnya budaya konsumtif, Iduladha mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya yang kita miliki, tetapi pada banyaknya yang kita bagikan.
Masyarakat modern sering mengalami krisis empati. Banyak orang mudah memberi komentar di media sosial, tetapi sulit membantu tetangga sendiri. Maka kurban mengajarkan kepedulian yang nyata, bukan sekadar simbolik.
Allah SWT berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Artinya: “Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun mereka juga membutuhkan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Inilah fondasi kohesi sosial dalam Islam. Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang kaya sendiri-sendiri, tetapi masyarakat yang saling menopang.
Di era sekarang, ketika budaya “aku” lebih dominan daripada “kita”, Iduladha mengajarkan pengorbanan demi kemaslahatan bersama
Ketiga, revolusi ekologis dan peradaban. Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama yang menjaga keseimbangan alam. Saat ini dunia menghadapi krisis lingkungan:perubahan iklim, sampah plastik, pencemaran sungai, dan kerusakan ekosistem.
Spirit kurban mengajarkan pengendalian hawa nafsu konsumtif. Manusia modern sering mengambil dari alam secara berlebihan tetapi lupa menjaga keseimbangan.
Penulis: Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A. (Wakil Ketua PWM DIY | BPH RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow