Penyusunan Al-Qur’an dan Jaminan Keotentikan Wahyu

Penyusunan Al-Qur’an dan Jaminan Keotentikan Wahyu

Smallest Font
Largest Font

Penjelasan mengenai proses penulisan dan penyusunan Al-Qur’an oleh para sahabat merupakan aspek penting dalam memahami keotentikan kitab suci umat Islam. Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 29 dijelaskan bahwa Rasulullah saw. telah menunjuk sejumlah sahabat sebagai penulis wahyu.

Mereka antara lain Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’awiyah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka‘b, Khalid bin Walid, dan Tsabit bin Qais. Para penulis ini ditugaskan secara langsung untuk mencatat setiap ayat yang turun, sehingga catatan mereka menjadi media awal pengumpulan wahyu yang tersimpan dalam ingatan dan tulisan mereka.

Seluruh proses penulisan wahyu berada di bawah pengawasan langsung Nabi Muhammad saw. Letak ayat dan surah ditentukan oleh beliau berdasarkan bimbingan Malaikat Jibril. Walaupun ayat-ayat masih tercatat pada berbagai media seperti pelepah kurma, kulit, dan tulang, tidak ada keraguan sedikit pun di kalangan sahabat bahwa seluruh susunan tersebut merupakan instruksi Rasulullah saw. Dengan demikian, kekeliruan seperti pertukaran tempat ayat, penambahan, atau pengurangan tidak mungkin terjadi. 

Salah satu riwayat menunjukkan bahwa ketika Ubay bin Ka‘b berada bersama Rasulullah, Nabi bersabda bahwa Jibril memerintahkannya meletakkan ayat “Innallāha ya’muru bil-‘adli wal-ihsān…” pada posisi tertentu dalam surah tertentu, menegaskan bahwa susunan Al-Qur’an bukan keputusan manusia.

Proses penyampaian wahyu dari Nabi kepada para penulis dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui pembacaan ayat-ayat dan surah-surah dalam shalat dan khutbah. Para sahabat yang hadir, terutama para penulis wahyu, mencatat ayat-ayat tersebut sesuai bacaan Nabi. Kejadian-kejadian seperti ini memperkuat keyakinan bahwa struktur internal Al-Qur’an, baik susunan ayat dalam surah, maupun urutan surah dalam mushaf, adalah wewenang Nabi yang didasarkan pada petunjuk ilahi.

Kesaksian para sahabat mengenai cara Nabi mendiktekan wahyu menunjukkan betapa telitinya proses penyampaian dan pencatatan Al-Qur’an. Mereka tidak hanya mencatat ayat, tetapi juga memperhatikan urutan dan konteksnya. Dengan demikian, mushaf Al-Qur’an yang kini dibaca umat Islam merupakan refleksi langsung dari instruksi Rasulullah saw. tanpa perubahan dari generasi ke generasi. Hal ini sekaligus menutup pintu bagi keraguan mengenai keaslian dan konsistensi susunan Al-Qur’an.

Keterangan mendetail tentang proses ini dapat ditemukan dalam berbagai literatur klasik dan modern, seperti Al-Itqan, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqiy, serta Muqaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya terbitan Departemen Agama. Semua sumber tersebut sejalan dalam menegaskan bahwa penyusunan Al-Qur’an adalah pekerjaan kenabian yang terjaga dan dibimbing wahyu.

Dengan demikian, umat Islam dapat membaca Al-Qur’an hari ini dengan keyakinan penuh bahwa setiap ayatnya berada pada tempat yang ditetapkan oleh Allah melalui Rasul-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait