Pahala Tak Ditentukan oleh Banyaknya Harta

Pahala Tak Ditentukan oleh Banyaknya Harta

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan mengenai apakah orang miskin dapat menyamai pahala orang kaya yang mampu berhaji, berzakat, dan bersedekah, sesungguhnya bukanlah hal baru dalam ajaran Islam. Para sahabat Nabi sendiri pernah mengajukan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah saw. 

Sebagaimana terekam dalam riwayat Bukhari dan Muslim, para sahabat merasa bahwa orang kaya telah melangkah lebih jauh dalam kebaikan, sebab selain shalat dan puasa seperti kaum fakir, mereka pun memiliki kelebihan harta untuk bersedekah. Akan tetapi Nabi menepis kegelisahan itu dengan menunjukkan bahwa pintu-pintu amal terbentang luas bagi siapa pun, tanpa harus bergantung pada materi.

Sebuah hadis riwayat Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw. menjelaskan bahwa setiap bacaan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil adalah sedekah. Bahkan, amar makruf dan nahi munkar pun bernilai sedekah.

Melalui penjelasan itu, Nabi menegaskan bahwa ibadah tidak selalu bersifat material. Nilai sebuah amal tidak bergantung pada besar-kecilnya harta, melainkan pada keluasan niat dan ketulusan pelaksanaannya. Kaum miskin tidak perlu merasa tertinggal dalam perolehan pahala.

Di hadits lain yang juga diriwayatkan Muslim, bahwa  Rasulullah saw memberikan amalan berupa dzikir setelah shalat sebanyak 33 kali: tasbih, tahmid, dan takbir. Amalan ini, kata Nabi, dapat membuat pelakunya menyamai orang-orang yang mendahuluinya dan mendahului orang-orang yang sesudahnya. 

Ketika orang-orang kaya kemudian ikut mengamalkan hal yang sama, Nabi menutup persoalan itu dengan menyatakan bahwa keutamaan adalah milik Allah, diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Memang kita diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, tetapi nilai dari amal itu bukanlah dilihat dari banyaknya saja, yang utama adalah ketekunan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya.

Pemahaman tentang keutamaan ilahi ini seharusnya tidak menumbuhkan rasa iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain. Sebab, setiap nikmat yang diberikan Allah adalah amanah dan ujian. Banyaknya harta tidak selalu menandakan tingginya amal, karena beban pertanggungjawaban pemilik harta justru lebih berat, dari cara memperolehnya hingga cara menggunakannya. Sementara itu, orang miskin seringkali memiliki kesempatan lebih luas untuk mengasah keikhlasan, kesabaran, serta keteguhan dalam ibadah.

Dalam perspektif fikih, kualitas amal diukur dari jerih payah, bukan dari banyaknya nominal. Kaidah ats-tsawāb biqadri at-ta‘āb menunjukkan bahwa nilai pahala bergantung pada usaha seseorang. Sedekah seribu rupiah dari orang miskin yang hanya memiliki seribu rupiah dapat lebih besar nilainya daripada sedekah satu juta rupiah dari orang kaya bermodal miliaran.

Nabi saw. bahkan menyebutkan dalam riwayat Ahmad bahwa mendamaikan dua orang yang berselisih lebih utama dari shalat, puasa, dan sedekah. Ini menunjukkan bahwa ruang amal salih terlalu luas untuk dibatasi oleh status ekonomi.

Pada akhirnya, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa orang miskin tetap dapat menyamai, bahkan melampaui, amal orang kaya melalui kesabaran, ketulusan, dan upaya menjaga hubungan sosial seperti silaturahmi serta ukhuwah. Justru inilah amal yang sering lebih mudah dilakukan orang miskin dibanding orang kaya yang cenderung sibuk dan individualis.

Islam mengajarkan bahwa yang dinilai Allah bukanlah banyaknya harta, melainkan keteguhan hati dalam beramal. Dengan demikian, setiap orang, kaya maupun miskin memiliki peluang yang sama untuk mencapai derajat tertinggi di sisi-Nya.

Penjelasan berikut dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 18–21.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait