Mengangkat Tangan dalam Takbir Shalat Jenazah

Mengangkat Tangan dalam Takbir Shalat Jenazah

Smallest Font
Largest Font

Di tengah masyarakat, pelaksanaan shalat jenazah sering kali menimbulkan perbedaan praktik, khususnya terkait takbir, apakah setiap takbir disertai dengan mengangkat tangan ataukah hanya pada takbiratul ihram saja. 

Perbedaan ini kerap memunculkan kebingungan, bahkan tidak jarang menimbulkan kesan seolah-olah ada praktik yang lebih benar daripada yang lain. Padahal, persoalan ini sejatinya telah diterangkan dengan cukup jelas dalam khazanah fikih Islam, termasuk dalam panduan tarjih yang menjadi rujukan umat.

Berdasarkan tuntunan yang telah ditarjihkan, shalat jenazah dilaksanakan dengan empat kali takbir, dan pada setiap takbir tersebut disunnahkan mengangkat kedua tangan. 

Praktik ini bukan sekadar kebiasaan tanpa dasar, melainkan memiliki pijakan ilmiah yang kuat dalam hadis dan penjelasan para ulama. Dengan demikian, mengangkat tangan tidak hanya terbatas pada takbiratul ihram, tetapi juga dilakukan pada seluruh rangkaian takbir dalam shalat jenazah.

Landasan praktik ini antara lain berasal dari riwayat yang disampaikan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar r.a., yang menyebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada seluruh takbir shalat jenazah. Riwayat ini dinilai memiliki sanad yang bersambung (muttashil) dan dapat diterima, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. 

Imam al-Bukhari menilai riwayat tersebut sebagai sahih dalam konteks pengangkatan tangan pada setiap takbir. Hal ini menunjukkan bahwa praktik tersebut bukanlah pendapat lemah, melainkan memiliki legitimasi yang kokoh dalam tradisi hadis.

Penjelasan mengenai hal ini secara ringkas dan sistematis juga dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 104. Rujukan ini penting untuk ditegaskan agar umat memiliki pegangan yang jelas dan tidak terjebak dalam polemik yang tidak perlu. 

Dengan memahami dalil dan penjelasan ulama secara proporsional, perbedaan praktik dapat disikapi dengan kedewasaan, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa ibadah dalam Islam dibangun di atas ilmu, bukan semata-mata kebiasaan. 

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    6
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait