Yasin Fadilah: Antara Semangat Membaca Al-Qur'an dan Tuntunan Ibadah
Membaca Al-Qur'an merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Al-Qur'an adalah petunjuk, rahmat, sekaligus penyembuh bagi penyakit hati bagi orang-orang yang beriman. Allah Swt. berfirman dalam Surah Yunus ayat 57:
"Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Karena itu, setiap Muslim dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur'an, termasuk Surah Yasin, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah serta memahami dan mengamalkan kandungan maknanya.
Dalam praktik kehidupan masyarakat, dikenal sebuah bacaan yang disebut Yasin Fadilah. Pada hakikatnya, Yasin Fadilah bukanlah nama lain dari Surah Yasin, melainkan sebuah susunan bacaan yang menuliskan kembali Surah Yasin dengan pola tertentu. Pada beberapa ayat dilakukan pengulangan, kemudian diselingi dengan bacaan selawat dan doa-doa khusus yang disusun untuk tujuan tertentu. Tradisi ini berkembang di sebagian kalangan umat Islam sebagai amalan yang diyakini memiliki keutamaan khusus.
Persoalan yang perlu dicermati adalah apakah tata cara pembacaan tersebut memiliki landasan yang bersumber dari Al-Qur'an maupun sunnah Rasulullah ﷺ. Setelah ditelusuri, tidak ditemukan dalil yang secara khusus mengajarkan pembacaan Surah Yasin dengan pola pengulangan ayat, selingan selawat, maupun doa-doa tertentu sebagaimana terdapat dalam Yasin Fadilah. Demikian pula tidak terdapat tuntunan yang mengkhususkan Surah Yasin dengan tata cara tersebut sebagai sebuah ibadah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Atas dasar itu, yang dianjurkan adalah tetap memperbanyak membaca Al-Qur'an, termasuk Surah Yasin, sebagaimana adanya, disertai tadabbur terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Keutamaan membaca Al-Qur'an telah dijamin oleh banyak dalil syariat tanpa harus menambahkan bentuk-bentuk pengkhususan yang tidak memiliki landasan. Dalam beribadah, prinsip yang harus dijaga adalah mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, sehingga setiap bentuk ibadah memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar'i.
Penjelasan mengenai persoalan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 halaman 1. Dengan demikian, semangat mencintai Al-Qur'an hendaknya diwujudkan melalui pembacaan yang benar, pemahaman yang mendalam, serta pengamalan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menetapkan tata cara ibadah khusus yang tidak memiliki tuntunan dari syariat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow