Thuma’ninah sebagai Salah Satu Indikator Kekhusyukan dalam Shalat

Thuma’ninah sebagai Salah Satu Indikator Kekhusyukan dalam Shalat

Smallest Font
Largest Font

Mengerjakan shalat yang benar tidak hanya ditandai oleh gerakan yang runtut dan bacaan yang fasih, tetapi juga ditentukan oleh kualitas ketenangan dalam setiap gerakan atau tuma'ninah. Menurut penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 57, thuma’ninah merupakan bagian penting yang menentukan sah atau tidaknya shalat seseorang. Karena itu, memahami makna dan praktik thuma’ninah menjadi sangat relevan bagi setiap Muslim yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya.

Ketika rukuk misalnya, thuma’ninah berarti berhenti sejenak dalam posisi membungkuk dengan penuh ketenangan. Posisi ini dilakukan dengan meletakkan kedua tangan pada lutut sambil menjaga punggung agar tetap rata. Riwayat dari Ath-Thabrani dan Ibnu Majah menjelaskan bahwa punggung orang yang rukuk dengan benar akan tampak datar, hingga jika dituangkan air di atasnya tidak akan mengalir ke depan ataupun ke belakang. Ketegasan bentuk ini menunjukkan bahwa rukuk bukan sekadar menundukkan badan, tetapi merupakan rukun yang harus dijalani dengan ketelitian dan ketenangan.

Adapun thuma’ninah dalam sujud adalah keadaan diam sejenak setelah seluruh anggota sujud menyentuh tempat sujud. Tujuh anggota yang menjadi syarat sujud, yakni dahi beserta hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, serta ujung jari kedua kaki, harus benar-benar melekat pada lantai. Riwayat Muslim, Abu ‘Awanah, dan Ibnu Hibban menegaskan pentingnya ketenangan dalam kondisi ini sebagai bentuk kesempurnaan sujud. Tanpa adanya momen tenang tersebut, sujud menjadi sekadar gerakan fisik yang kehilangan kedalaman maknanya.

Lebih jauh, thuma’ninah dalam rukuk dan sujud bukan hanya aspek teknis ibadah, tetapi juga latihan spiritual yang menumbuhkan kehadiran hati. Ketenangan sejenak itu memberi ruang bagi seseorang untuk merasakan kehadiran Allah, memahami dzikir yang diucapkan, dan memaknai ketundukan dirinya. Maka, thuma’ninah dapat dikatakan sebagai jembatan antara gerakan lahiriah dan kekhusyukan batiniah, yang menjadikan shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan rohani.

Membiasakan diri untuk menghadirkan thuma’ninah merupakan upaya membangun shalat yang berkualitas. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kembali kepada tuntunan Rasulullah saw. Thuma’ninah dalam shalat, seperti ketika rukuk dan sujud, tidak hanya memenuhi syarat fiqh, tetapi juga menghadirkan kedalaman spiritual yang mengokohkan kekhusyukan dalam menghadap Allah SWT. 

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketha PAM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait