Puasa Asyura dan Syariat Islam: Hikmah Muharram Dalam Perspektif Fikih
Di samping memiliki dimensi sejarah dan teologi, Muharram juga mengandung pesan-pesan syariat yang sangat penting. Salah satu amalan yang paling dikenal pada bulan ini adalah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Dalam sejarah Islam, puasa Asyura bahkan pernah memiliki kedudukan khusus sebelum diwajibkannya puasa Ramadan.
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa kaum Quraisy telah mengenal puasa Asyura pada masa jahiliyah. Nabi Muhammad ﷺ juga melaksanakannya. Ketika puasa Ramadan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, kedudukan puasa Asyura berubah dari kewajiban menjadi sunnah yang sangat dianjurkan.
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa Asyura. Namun setelah Allah mewajibkan puasa Ramadan, beliau menjelaskan bahwa siapa yang ingin berpuasa Asyura boleh melakukannya dan siapa yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa meninggalkannya. Hadis ini menunjukkan adanya perkembangan hukum syariat secara bertahap sesuai dengan kesiapan umat.
Dalam perspektif fikih, puasa Asyura memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang lalu.
Para ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram Muharram agar berbeda dengan tradisi Yahudi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram)." (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan keinginan Nabi untuk menambahkan puasa Tasu'a (9 Muharram) bersama puasa Asyura (10 Muharram). Anjuran tersebut dimaksudkan agar umat Islam memiliki identitas ibadah yang berbeda dari tradisi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
Karena itu, puasa Tasu'a dan Asyura sama-sama bernilai sunnah, menjadi wujud keteladanan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus ekspresi syukur atas pertolongan Allah yang diberikan kepada para nabi dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.
Puasa Asyura juga mengajarkan pengendalian diri, disiplin spiritual, dan rasa syukur atas nikmat Allah. Jika Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah kepada Bani Israil, maka umat Islam pun diajak menjadikan puasa sebagai sarana memperkuat kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah Swt.
Muharram dengan demikian tidak hanya mengajarkan nilai sejarah dan teologi, tetapi juga menghadirkan praktik ibadah yang konkret dalam kehidupan sehari-hari. Melalui puasa Asyura, umat Islam diajak menghidupkan sunnah Nabi, mensyukuri nikmat Allah, dan memperbarui komitmen ketakwaan pada awal tahun Hijriah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow